Menangis membuat matamu bengkak seperti kulit bagian atas dan bawahnya terisi lebih banyak lemak. Menangis membuat ingus terus-menerus mengalir dari hidungmu, sehingga kamu mesti menyekanya terus-menerus menggunakan tisu. Karena itu, kulit tepat di bawah lubang hidungmu menjadi merah dan iritasi. Kadang-kadang, kamu percaya bahwa hal-hal konyol adalah hal-hal yang kamu tangisi. Lain waktu, kamu yakin bahwa apa pun alasanmu menangis adalah sesuatu yang tak bisa menjadi alasan masuk akal sebab menangis sesungguhnya tak memerlukan alasan. Menangis membuat kepalamu pusing, tetapi tiada yang mengajarimu bahwa kepeningan itu harus disisihkan sementara kamu harus lanjut berjalan. Menangis membuat dadamu naik turun dan jiwamu kelelahan. Menangis umumnya membuatmu menjadi lebih lega ketimbang menahan air mata menggumpal membentuk penat di hati dan kepala. Sembari melangkah, kamu menatap cermin yang menunjukkan dengan jelas kamu yang terlihat seperti seseorang yang sangat menderita. Namun, hei. Kamu selalu menyadari bahwa sosok di hadapanmu tampak begiiitu, begiiitu, begiiiiiiitu cantik. Kamu tak tahu alasannya, tetapi kamu benar-benar jauh lebih cantik dari biasanya. Matamu yang masih basah berkilau. Kelopak mata, pucuk hidung, dan bibirmu berkilau. Ya, mungkin kulitmu glowing karena minyak. Namun, sungguhan. Kamu terheran-heran bagaimana mungkin menangis membuatmu berkali lipat lebih memesona. Aku tersenyum menyaksikan kamu yang akhirnya mengerti. Meski menangis membuat dirimu terlihat amat merana, menangis juga membuat kecantikanmu muncul dengan hebat untuk menghibur hatimu yang lara.