sore itu turun perlahan di kafe celcio, seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu, tetapi juga tidak bisa benar-benar menghilang. cahaya matahari tersisa menggantung di antara gelas-gelas kopi dan percakapan yang setengah jadi. seolah dunia sedang ragu untuk menutup hari.
di bagian paling depan yang mengarah langsung ke pemandangan gedung-gedung kota. dua orang duduk sambil menatap garis jingga di langit.
"aneh ya," setiap hari matahari tenggelam, tapi kita masih percaya besok iya akan kembali. "Ucap nya"
Entahlah; "mungkin itu satu-satunya iman yang tidak pernah kita pertanyakan".
seketika suasana hening sejenak, sendok kecil beradu dengan cangkir. suara yang terlalu biasa untuk di sadari, tapi cukup untuk mengisi kekosongan yang canggung.
"kamu pernah baca tentang heraclitus?" tanyaku menggugurkan kecanggungan.
"dia bilang, tidak ada yang tetap. semuanya mengalir. bahkan matahari pun, setiap terbit, bukanlah matahari yang sama."
"lalu kenapa kita masih menyebutnya matahari?"
"kalau semuanya berubah bukankah itu berarti tidak ada yang benar-benar kita kenal?"
aku menatap keluar. matahari kini setengah tenggelam, seperti pikiran yang enggan selesai.
mungkin karena kita butuh ilusi kesinambungan. kalau tidak hidup ini terlalu rapuh untuk di tanggung. "Jawab ku lanjut"
ia tersenyum, tapi matanya menatap kosong. "atau mungkin kita hanya takut untuk menerima bahwa yang kita cintai selalu dalam proses menghilang."
angin sore meniup perlahan. membawa aroma jalanan, debu, dan sesuatu yang tidak bisa di namai "sejenis kesedihan yang samar"
nietzsche pernah bilang. lanjut ku, "bahwa kita harus memiliki kekacauan dalam diri untuk melahirkan bintang yang menari."
mungkin matahari adalah pengingat bahwa bahkan api yang paling terang pun harus belajar tenggelam.
Ia menghela nafas, seolah mencoba memahami sesuatu yang tidak ingin untuk di pahami.
kalau begitu, "hidup ini bukan tentang bertahan di terang?"
bukan, jawabku. "tapi tentang menerima gelap tanpa kehilangan arah."
sore semakin larut. cahaya terakhir memudar, meninggalkan bayangan yang lebih jujur dari pada terang. di kafe celcio, percakapan tidak benar-benar selesai, hanya berhenti seperti matahari yang tampak tenggelam, padahal sebenarnya hanya sekedar berpindah.
mungkin, di situlah kehidupan menemukan bentuknya. bukan pada apa yang tetap, tetapi pada apa yang berani berubah, lalu kembali. meski tidak benar-benar sama.
Dan akhirnya di kafe celsio, kita kembali menghening bersama, Menunggu pulang untuk berpikir kembali.