Pantai
Suatu sore di pinggir pantai, Irma berjalan sendirian menyusuri pasir basah saat air laut sedang surut. Gadis berusia 20 tahun itu tinggal di rumah yang tak jauh dari pantai. Angin laut meniup rambutnya yang panjang, membawa aroma garam yang segar. Sekitar 200 meter di depannya, Pantai Boom ramai dengan wisatawan. Orang-orang berfoto, bermain air, dan berjalan-jalan di tepi pantai yang lebih ramai.
Irma berhenti sejenak. Hatinya berdegup lebih kencang. Ide gila itu muncul begitu saja di kepalanya. Tanpa banyak berpikir, ia melanjutkan langkah mendekat ke area yang airnya masih dangkal, hanya setinggi betis orang dewasa. Ia memastikan jaraknya masih cukup jauh dari kerumunan, tapi cukup dekat sehingga ia bisa melihat gerakan orang-orang itu dengan jelas.
Dengan tangan sedikit gemetar karena campuran gugup dan excited, Irma melepas semua pakaiannya. Satu per satu baju dilempar ke pasir kering di belakangnya. Kini ia berdiri telanjang bulat di bawah cahaya jingga matahari senja. Payudaranya yang kencang terkena angin laut, putingnya mengeras seketika. Bulu halus di area intimnya basah oleh hembusan angin dan percikan air laut.Ia berjalan lebih dalam sedikit hingga air menyentuh pahanya, lalu perlahan berbaring di pasir dangkal. Air laut yang hangat menyapu tubuhnya, tapi tidak cukup tinggi untuk menutupi seluruh tubuhnya. Irma membuka kakinya lebar-lebar. Jemarinya langsung turun ke antara selangkangan, menyentuh klitorisnya yang sudah membengkak dan basah bukan hanya karena air laut.
Bayangan bahwa ada puluhan orang di Pantai Boom yang mungkin bisa melihatnya — meski dari jarak 200 meter — membuat Irma semakin terangsang. Ia membayangkan ada yang sedang memegang kamera, ada yang kebetulan menoleh dan melihat sosok telanjangnya di kejauhan. Jemarinya bergerak semakin cepat, menggosok klitorisnya dengan lingkaran-lingkaran kecil yang intens, sesekali memasukkan dua jari ke dalam vaginanya yang sudah licin.
Tubuh Irma melengkung. Payudaranya naik turun mengikuti napasnya yang semakin berat. Air laut kecil menyapu pinggulnya setiap kali ombak datang. Rasa malu bercampur kenikmatan membuatnya hampir gila. “Kalau mereka tahu… kalau mereka sedang melihat aku sekarang…” gumamnya dalam hati.Tak lama kemudian, orgasme datang dengan hebat. Tubuh Irma mengejang kuat, pinggulnya terangkat dari pasir. Ia mencapai klimaks yang intens, cairan tubuhnya bercampur dengan air laut. Ia menggigit bibir bawahnya keras supaya tidak berteriak, tapi desahan kecil tetap lolos dari mulutnya. Kakinya gemetar hebat saat gelombang kenikmatan itu menerjang berkali-kali.
Setelah orgasme mereda, Irma masih berbaring telanjang beberapa saat, dada naik turun, wajahnya memerah. Air laut perlahan membersihkan sisa cairannya. Ia tersenyum kecil, merasakan campuran lega dan adrenalin yang luar biasa.
Akhirnya ia bangkit, membilas tubuhnya sekali lagi dengan air laut, lalu memakai pakaiannya kembali. Seolah tak terjadi apa-apa, Irma melanjutkan jalan pulang menyusuri pantai, dengan sensasi hangat yang masih tersisa di antara pahanya.














