Di dalam mimpi.
Malam itu, entah bagaimana, aku kembali bertemu denganmu. Tidak ada tempat yang jelas. Tidak ada rumah, jalan, atau kota yang kukenal. Hanya sebuah tempat yang terasa begitu akrab, seperti ingatan yang sengaja dibangun kembali oleh seseorang yang tahu persis bagian mana dari masa lalu yang masih ingin kukunjungi.
Kau duduk di sampingku. Tidak banyak berubah. Cara dudukmu, cara menatap sesuatu sebelum akhirnya berbicara, bahkan jeda kecil sebelum menjawab pertanyaan. Semua masih seperti yang kuingat; hidung mancungmu, kacamata round frame metallic, benar benar nyata. Hanya saja, kali ini aku tahu bahwa ada sesuatu yang berbeda. Aku tahu ini bukan kehidupan yang sebenarnya. Aku tahu sebentar lagi aku akan terbangun dan kau akan kembali menjadi seseorang yang hanya bisa kutemui melalui ingatan.
“Apa kabar?” tanyaku.
“Baik.”
“Benar-benar baik?”
Kau tersenyum kecil. “Bukankah seharusnya aku yang bertanya begitu?”
Aku tertawa. “Mungkin. Tapi aku lebih ingin tahu kabarmu.”
“Kalau aku bilang baik, kau percaya?”
Aku diam sebentar. “Aku ingin percaya.”
Kemudian kita sama-sama diam. Anehnya, di dalam mimpi itu tidak ada kecanggungan. Seolah-olah waktu tidak pernah benar-benar memisahkan kita. Seolah-olah setelah bertahun-tahun tidak berbicara, kita masih memiliki cukup banyak hal yang bisa dibicarakan. Aku ingin bertanya tentang hidupmu sekarang, tentang orang-orang yang datang setelahku, tentang hal-hal yang mungkin sudah berubah. Tapi beberapa pertanyaan terasa terlalu mahal untuk dibayar dengan jawaban.
“Aku sering memimpikanmu,” kataku akhirnya.
“Aku tahu.”
“Kok bisa?”
“Karena setiap kali kau memimpikanku, kau selalu terlihat seperti orang yang belum selesai.”
Aku tersenyum, meski kalimat itu terasa seperti sesuatu yang sudah lama kuketahui tetapi selalu berusaha kuhindari.
“Mungkin aku memang belum selesai.”
“Dengan aku?”
Aku menggeleng. “Dengan kehilangan.”
Kau menatapku cukup lama. Lalu berkata, “Bukankah kita memang harus kehilangan sesuatu supaya bisa melanjutkan hidup?”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa masih menyimpannya?”
Aku tidak langsung menjawab. Di dalam kepala, aku mencoba mencari kalimat yang paling jujur tanpa terdengar seperti sedang meminta sesuatu darimu. “Karena ada beberapa hal yang tidak ingin diselesaikan. Bukan karena aku ingin kembali, tapi karena aku takut kalau semuanya benar-benar selesai, nanti aku tidak punya alasan lagi untuk mengingat bahwa kita pernah bahagia.”
Kau menunduk. Aku tidak tahu apakah kau sedih atau hanya sedang memikirkan jawabannya.
“Kalau begitu,” katamu, “apa kau masih mencintaiku?”
Pertanyaan itu sederhana. Tapi di dalam mimpi, pertanyaan sederhana sering kali menjadi sesuatu yang paling sulit dijawab.
“Aku tidak tahu.”
“Kau bohong.”
Aku tertawa pelan. “Mungkin.”
“Kenapa tidak bilang saja?”
“Karena mencintaimu sekarang tidak berarti aku ingin memilikimu lagi.”
Kau kembali menatapku.
“Aku pernah berpikir bahwa cinta harus berakhir dengan memiliki,” lanjutku. “Kalau tidak, berarti ada yang gagal. Tapi semakin jauh aku berjalan, semakin aku sadar bahwa mungkin tidak semua cinta diciptakan untuk menjadi rumah. Ada yang hanya datang untuk menjadi bagian dari perjalanan. Menemani kita tumbuh, kemudian pergi ketika perjalanan itu mengharuskan kita mengambil jalan yang berbeda.”
“Dan kau menerima itu?”
“Aku sedang belajar.”
“Kedengarannya melelahkan.”
“Memang.”
Kau tersenyum. “Kau masih seperti dulu.”
“Bagian mana?”
“Masih terlalu banyak berpikir.”
“Dan kau masih terlalu mudah menyederhanakan semuanya.”
Kita tertawa. Untuk beberapa saat, rasanya seperti tidak pernah ada perpisahan. Seperti dua orang yang sedang duduk setelah hari yang panjang, membicarakan hal-hal kecil yang tidak penting. Aku bahkan sempat lupa bahwa ini hanya mimpi.
Sampai akhirnya aku bertanya, “Kalau kita bertemu di kehidupan lain, menurutmu kita akan tetap menjadi kita?”
Kau terdiam cukup lama.
“Mungkin tidak.”
Jawabanmu membuatku tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena mungkin di kehidupan lain, kita bertemu dalam keadaan yang lebih baik. Mungkin kita tidak perlu saling kehilangan dulu untuk mengerti bagaimana caranya menjaga.”
Aku menatapmu. Untuk pertama kalinya, aku berharap mimpi bisa menjadi tempat yang benar-benar nyata.
“Kalau begitu, di kehidupan lain aku ingin merayakanmu.”
“Merayakan?”
“Iya. Bukan hanya mencintaimu seperti yang pernah kulakukan. Aku ingin merayakan hal-hal kecil tentangmu. Pagi-pagi yang kita lewati bersama. Hujan yang turun ketika kita sedang malas keluar rumah. Perjalanan-perjalanan kecil yang tidak pernah sempat kita lakukan. Makanan yang kau suka. Cerita-cerita yang mungkin dulu terlalu sepele untuk diceritakan. Aku ingin punya cukup waktu untuk mengenalmu tanpa terburu-buru takut kehilanganmu.”
Kau tersenyum.
Aku tersenyum, tetapi entah mengapa mataku mulai terasa panas.
“Aku ingin mengajakmu melihat tempat-tempat yang pernah kulihat sendirian. Laut yang dulu hanya kupandangi sambil memikirkanmu. Jalan-jalan panjang yang kulewati tanpa tahu sedang menuju ke mana. Aku ingin kali ini punya seseorang di sebelahku untuk berkata, ‘lihat,’ ketika menemukan sesuatu yang indah.”
Aku berhenti sebentar.
“Bukan karena aku ingin hidup yang sempurna. Aku hanya ingin punya lebih banyak waktu. Waktu untuk sarapan bersamamu. Waktu untuk bertukar buku. Waktu untuk menunggu hujan reda. Waktu untuk melakukan perjalanan yang dulu selalu kita tunda. Waktu untuk mengenalmu lebih lama tanpa perasaan takut bahwa suatu hari semuanya akan berakhir.”
Kau menatapku tanpa berkata apa-apa.
Dan tanpa kusadari, air mataku mulai jatuh.
Aneh. Bahkan di dalam mimpi pun ternyata aku masih bisa menangis karena kehilanganmu.
Aku mengusap wajahku, lalu tertawa kecil seolah ingin menyembunyikannya.
“Kenapa menangis?” tanyamu.
“Entahlah. Mungkin karena baru di sini aku bisa melakukan semua yang dulu tidak sempat kulakukan bersamamu.”
“Dan kalau kita tetap berakhir?” Tanyamu
Aku menunduk.
“Mungkin aku akan tetap bersyukur pernah bertemu.”
“Bukankah itu cukup?”
Aku menggeleng pelan. “Tidak selalu. Tapi mungkin pada akhirnya memang harus cukup.”
Setelah itu kau tidak berkata apa-apa. Aku hanya duduk di sampingmu, menikmati sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi milikku. Ada rasa tenang yang aneh. Bukan karena akhirnya kita kembali, tetapi karena untuk pertama kalinya aku tidak merasa perlu meminta apa pun.
Kemudian aku merasakan sesuatu berubah. Tempat itu perlahan menjadi samar. Suaramu mulai terdengar jauh. Aku tahu waktuku tidak banyak.
“Sebentar lagi aku bangun,” kataku.
“Iya.”
“Kalau besok aku lupa semuanya?”
“Kau tidak akan lupa.”
“Kalau aku mencari kamu lagi?”
Kau tersenyum, lalu berkata dengan suara yang semakin jauh, “Jangan cari aku di kehidupanmu yang sekarang.”
Aku diam.
“Kenapa?”
“Karena aku sudah tidak tinggal di sana.”
Aku ingin menjawab, tetapi suaramu semakin hilang. Aku mencoba menggenggam tanganmu, tetapi untuk pertama kalinya malam itu, tanganku tidak menemukan apa-apa.
Lalu aku terbangun. jam satu pagi.
Tidak ada siapa-siapa.
Kamar masih sama. Langit masih gelap. Udara masih dingin. Semuanya berada di tempatnya masing-masing, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Hanya aku yang terasa berbeda.
Aku tidak langsung bangun dari tempat tidur. Aku hanya berbaring, menatap langit-langit, mencoba mengingat kembali percakapan tadi sebelum semuanya perlahan menghilang. Aneh rasanya, beberapa menit yang lalu aku begitu dekat denganmu, dan sekarang bahkan suaramu saja mulai sulit kuingat.
Aku merasa lelah.
Bukan lelah karena kurang tidur. Rasanya lebih seperti baru saja kehilangan seseorang untuk kedua kalinya.
Ada ruang kosong di dalam diri yang tiba-tiba kembali terbuka. Padahal kupikir selama ini aku sudah cukup baik-baik saja. Kupikir waktu sudah mengajarkanku bagaimana caranya hidup tanpa harus terus mengingatmu. Tapi ternyata satu mimpi saja cukup untuk membuat semua yang susah payah kutata kembali berantakan.
Aku mencoba tidur lagi.
Tidak bisa.
Aku memejamkan mata, berharap bisa kembali ke tempat tadi. Berharap bisa kembali duduk di sampingmu, mendengar suaramu, melihat senyummu, walau hanya untuk beberapa menit lagi.
Tetapi tidak ada apa-apa.
Hanya gelap.
Dan semakin lama aku memejamkan mata, semakin terasa bahwa kau benar-benar sudah tidak ada.
Mungkin ini yang paling melelahkan dari kehilangan: bukan ketika seseorang pergi, tetapi ketika hidup memaksamu untuk terus berjalan setelahnya. Kau tetap harus bangun, mandi, makan, bekerja, berbicara dengan orang lain, tertawa ketika diperlukan, seolah tidak ada bagian dari dirimu yang baru saja ditinggalkan.
Pagi itu aku merasa kosong.
Bukan karena tidak memiliki siapa-siapa, tetapi karena seseorang yang begitu lama mengisi sebagian besar hidupku kini hanya tersisa sebagai ingatan yang datang sesekali tanpa permisi.
Aku duduk di tepi ranjang.
Untuk beberapa saat aku hanya diam.
Tidak menangis. Tidak juga ingin menangis.
Hanya ada rasa sakit yang terlalu lama tinggal sampai akhirnya tidak lagi tahu bagaimana cara keluar.
Dan mungkin, beginilah rasanya ketika hati sudah terlalu lelah untuk berharap.
Aku tidak lagi berharap kau kembali.
Aku hanya berharap suatu hari nanti, ketika aku memimpikanmu lagi, aku tidak perlu merasa hancur ketika terbangun.
Sebab pagi itu aku kembali mengerti:
di dalam mimpi, kau masih bisa menjadi milikku.
Tetapi setelah terbangun, aku harus kembali menjadi seseorang yang belajar menerima bahwa bahkan untuk merindukanmu pun, aku sudah tidak punya tempat.

















