Rintik paling nyaman adalah air mata. Dari air mata, kita belajar untuk menumpahkan segala yang kita rasa. Dari mulai suka hingga duka yang menguras logika.
Gak semua kita bisa ceritakan ke orang lain. Ada yang mendengar bahkan ada yang mengabaikan. Ada yang memahami sampai ia peduli. Tak memandang orang itu seperti apa, ia tulus membuka hati.
Kita boleh bebas berasumsi agar menyenangkan hati dan jangan sampai menjatuhkan orang lain. Sebuah kalimat yang dilontarkan cerminan diri, lalu berapa kalimat positif dan negatif yang sudah dilontarkan kepada orang lain?
Menutup diri bukan ingin dirinya bungkam setengah mati. Dia hanya perlu berkaca agar segera membenahi apa yang salah dalam sehari-hari. Ada saatnya, setiap manusia kembali bergabung dalam damai menikmati hari tanpa rasa urung dari publik.
Dari banyaknya rintik hujan yang jatuh, turun juga keajaiban yang akan tumbuh. Yang bisa menahan diri lebih kuat lagi. Yang bisa mencintai diri lebih dalam lagi. Asumsi jiwa dari rintik ke rintik semakin cepat dan terikat. Menguarkan semangat yang hampir hilang karena rasa takut yang tidak tertandingi.
Rintik 1, rintik 2, rintik 3, dan seterusnya berjatuhan ke bumi. Mereka tampak menikmati lalu mengguyur hingga rintik berhenti.
Sebanyak apapun rintik jatuh, kita patut paham bahwa selamanya yang jatuh gak berarti buruk. Tapi dari rintik yang jatuh akan ada pesan tersembunyi yang akan menghampiri.
Aku tidak melulu membawa bencana tapi aku mungkin saja menciptakan sesuatu yang bahagia.