Melihatmu Dari Jauh.
Sekian tahun telah berlalu, dan hampir setiap malam, aku menenangkan diri dengan kalimat yang bahkan aku sendiri tidak yakin kenapa aku selalu seperti ini?
"Aku akan ke rumahnya lagi" .
Padahal aku sendiri tahu, untuk bertemu denganmu, aku tidak seberani itu. Aku tak ingin mengganggumu, tak ingin terlihat berada di sekitarmu. Aku hanya ingin berjalan perlahan di jalan yang mungkin pernah kau lewati, menghirup udara yang sama, yang barangkali pernah juga kau hirup, dan berdiri sejenak di depan rumahmu.
Aku tidak akan mengetuk, sebab aku tidak datang untuk dilihat. Aku hanya ingin diam, memandang rumahmu dari kejauhan, dan membiarkan hatiku percaya bahwa kamu baik-baik saja, meski keberadaanku sudah sepenuhnya tergantikan dengan seseorang yang tengah mendampingimu di sana.
Mungkin saat itu kam sedang menyiram tanaman, menuruni tangga untuk menemui kurir paket yang telah tiba, atau sekadar duduk di teras tempat biasa kamu memandangi senja. Tenang saja, aku tak akan mendekat. Aku akan membiarkanmu tetap ceria dengan semua aktivitasmu, karena aku sudah bukan lagi bagian dari hidupmu, melainkan hanya seseorang yang ingin bernostalgia, dengan cara yang sunyi. Sebuah pengakuan lirih dari hati yang masih menyayangimu hingga saat ini.
Daerahmu adalah jalan kenangan, dan rumahmu adalah tempat singgah yang tak akan pernah memberiku sambutan. Tapi aku akan tetap berdiri di sana, untuk memberi ruang pada hatiku yang ingin sedikit meredakan rindu meski hanya dengan melihatmu dari jauh.
Setelah semua itu, aku selalu berharap bisa pulang dengan hati yang lebih damai, namun nyatanya perasaanku justru terasa lebih hampa dari pada sebelumnya. Namun meski begitu, aku tetap terima kasih kepada Tuhan:
Karena telah memberiku keberanian untuk mengakui bahwa aku yang kini telah tergantikan, masih di beri kesempatan untuk bisa menyaksikan kebahagiaan dari seseorang yang paling aku rindukan.













