(Wop! Selow... bukan aku. ✌✌)
Barakallah buat perempuan luar biasa yang memang kukagumi sejak pertama bertemu di sma. Ikut bahagia karena tahu perjuangan dia dan pasangannya untuk sampai di titik ini tuh gak mulus-mulus aja. Belum lagi cerita-cerita sampingan yang lebih sering datang membawa duka.
Aku tahu, setiap orang punya jalan cerita dan lukanya masing-masing. Dan aku bersyukur bisa menjadi saksi bagaimana kamu berjuang dan menjalani hidup tanpa menggerutu. Aku sungguh turut bahagia dan belajar banyak karena itu.
You deserve all happiness in the world, dear.
Semoga lancar dan dimudahkan semua urusan-urusan persiapan akad dan walimahan, senantiasa diberi kesehatan, usaha makin laris dan dimudahkan jalan rezekinya, tetap nyantai meski harus rempong ke mana-mana.
Oia, terima kasih banyak sekaligus maaf karena selalu menjadikanmu partner curhat yang nyaman dan menyenangkan. Tempat aku bisa cerita apapun tanpa pintu rahasia. Aku harap cerita-cerita milikku yang masih itu-itu saja tak terlalu membebanimu.
(Tanya duluan aja sebelum ditanya orang-orang, Wkwkwk)
Ah, jadi inget obrolan (yang selalu) panjang (kalau udah jumpa) selesai acara menjelang sore tadi. Masih seputar persiapan nikah, keluarga, dan lain-lain yang berkaitan. Dan yang paling buat aku penasaran itu, feelnya. Jadi gimana perasaan kita setelah ambil keputusan untuk menikah? Semacam itu.
Menikah bagiku adalah langkah hidup yang sakral dan mulia. Perempuan yang nantinya akan menjadi istri, hak dan hidupnya akan didedikasikan penuh pada sang suami. Menghabiskan sisa hidup untuk dijalankan bersama sampai nanti. Itu, bukanlah keputusan mudah.
Namanya manusia, ada rasa takut dan beban tanggung jawab karena harus membangun sebuah keluarga. Sedang aku di sini, kadang masih tersandung ingatan tak baik tentang makna keluarga sebab banyak hal yang kualami di rumah, dulu (mungkin masih sampai sekarang, tapi dengan penerimaan yang lebih baik). Wajar kan ya kalau khawatir.
Tapi, semua kekhawatiran itu bakalan sirna kalau udah sampai di titik lillahi ta'ala. Level tertinggi penerimaan, apapun hal/bentuknya.
"Aku menikah dengannya karena Allah."
Gak bisa diintervensi sama apapun lagi itu.
Oh, yaRabb.. terus aku bingung mau nulis apa. Berasa ditampar kemudian sadar setelah merepet panjang. 😂😂
Kalau aku ditanya, mau menikah? Ya jawabnya mau. Aku memang terbiasa mengerjakan apapun sendiri dan sebisa mungkin tidak bergantung pada orang lain. Tapi punya seseorang yang akan terus ada baik suka maupun duka kemudian menjadi alasan baginya untuk hidup dan terus berjuang. Siapa yang enggak mau? 😂😂
Selow, karena semua akan menikah pada waktunya. Oke? ✌✌
Di atas tempat tidur, sambil nguap berulang kali.