Kalau aku tidak datang ke toko buku sore itu, mungkin aku tidak akan bertemu kamu.
Tumpukan aroma buku baru yang dulu kita hirup bersama hampir setiap akhir pekan, kini kita nikmati sendiri-sendiri.
Dulu, walau senang ke toko buku bersama, tapi kita tetap bisa tenggelam dalam pilihan buku masing-masing. Tidak ada yang saling mengintervensi, karena kita sadar selera membaca orang sangat bervariasi.
Sore itu, saat aku selesai membayar beberapa buku, ada kamu yang bisa aku tangkap dengan kedua mataku dengan jelas. Seperti dulu, sedang menikmati membaca buku gratisan karena segelnya yang kebetulan dibuka.
Aku ragu untuk menyapa, namun akhirnya aku beranikan diri.
"Mas." Sapaku tepat di sebelahmu.
"Eh, Nis." Katamu kaget karena mendapatiku yang tiba-tiba hadir.
"Tadi aku abis bayar di kasir, pas mau turun liat kamu lagi seru baca. Aku datengin gini gapapa kan?"
"Ya gapapa dong. Makasih banyak udah bersedia menyapa."
"Aku kira, setelah sekian kali aku ke sini sendiri, aku gak akan ketemu kamu. Kirain ya udah,, abis udahan gak lagi ada sisa-sisa jejak kita."
"Aku juga mikir gitu, karena aku juga cukup sering ke sini."
Kamu tampak bingung menjawab.
"Kalau gak sendiri juga gapapa loh." Kataku kemudian.
"Hehe iya, berdua. Tapi kemana ya dia?"
Aku tersenyum. Ya mungkin cuma itu respon yang bisa aku berikan. Hingga tanpa aku dan kamu sadari, perempuan barumu telah ada di belakangmu.
"Hey, aku sudah selesai pilih buku nih." Ucapnya semringah, nampaknya masih belum menyadari keberadaanku.
"Oh hai. Ini aku ketemu temanku. Kenalan dulu."
Dari caramu mengenalkanku, aku tahu, perempuanmu tidak pernah tahu ada kita di masa lalu.
Aku mengulurkan tangan terlebih dulu, "Nisa." Kataku sambil tersenyum.
Perempuanmu sempat kebingungan, sampai akhirnya membalas jabat tanganku. "Nisa juga." Katanya kemudian.
Aku tertegun sepersekian detik, lantas beralih menatapmu yang kebetulan sedang menggaruk kepala yang aku rasa tidak gatal.
"Kamu udah pilih buku? Mau sekalian bayar ke kasir?"
"Eh, oh, belum, kamu duluan aja ya. Nanti aku nyusul."
Katanya setelah melempar senyum ke arahmu dan kepadaku.
Saat itu, aku masih ingat, kamu tersenyum canggung padaku.
"Gapapa, masih gak nyangka aja ketemu di sini. Dan dengan keadaan yang udah kayak gini?"
"Ya begini deh." Jawabmu kebingungan.
"Haha, santai aja. Aku gak akan nyalahin atau sebel ke kamu hanya karena kamu udah punya pacar lebih dulu." Kataku kemudian.
Kamu terdiam, sambil menggerak-gerakkan kakimu. Khas, saat kamu sedang tidak nyaman.
Dan dengan melihat kode itu aku memutuskan untuk pamit pulang.
"Kalau gitu aku pulang dulu ya."
"Oh, ya oke. Senang ketemu kamu lagi, Nis."
Namun sebelum beranjak, aku mendekatkan mulutku ke telingamu sambil berbisik, "Aku juga senang. Apalagi aku tahu, kamu move on-nya gak jauh-jauh dari Nisa haha."
Dan aku pun pergi meninggalkanmu yang tidak lagi aku pedulikan bagaimana raut wajahmu.
Sejak sore itu, yang pasti aku tahu, kamu akan terus membawa namaku dalam setiap perjalananmu. Meski cuma nama.