Kog kamu?
Kog hidup kamu tenang banget sih?
Kok hari-hari kamu adem banget ya?
Kok kamu bisa ya ke mana-mana sendirian?
Kok kamu nggak pernah merasa kesepian?
Kok kamu bisa menikmati kesunyian tanpa merasa hampa?
Kok kamu bisa duduk berjam-jam di kedai kopi tanpa cepat bosan?
Kok hati kamu seperti danau tenang yang tak terganggu ombak?
Kok kamu betah sih sendirian selama ini?
.
Selama bertahun-tahun ini, pertanyaan-pertanyaan itu selalu datang dari orang-orang terdekat, teman-teman lama, sahabat yang lama yang tak bertemu, bahkan keluarga yang kadang khawatir. Mereka bertanya dengan mata yang seolah ingin menelisik lebih dalam, atau dengan suara pelan lewat telepon larut malam.
Aku selalu menjawab dengan senyum yang sama. Bukan senyum yang menyembunyikan kesedihan, melainkan senyum yang lahir dari tempat paling murni di dadaku.
Karena bagi mereka, hidup yang tenang dan banyak menghabiskan waktu sendirian mungkin terasa seperti dinding yang dingin.
Bagi ku, ia adalah jendela terbuka yang membiarkan angin pagi masuk dan membersihkan segala hal yang tak perlu, dan temaram senja meredakan segala lelah seharian tadi.
Di kedai kopi kecil yang selalu kurindukan, aku duduk sendirian di pojok dekat jendela. Uap kopi mengepul pelan seperti kabut tipis, hujan baru saja mengetuk kaca dengan lembut, dan orang-orang lewat dengan cerita masing-masing yang tak pernah kuingin tahu.
Aku tak merasa kesepian. Aku hanya sedang menonton kehidupan dari kejauhan, dengan secangkir kopi hangat sebagai teman yang paling setia. Tak perlu ikut berlari di dalamnya. Tak perlu menjelaskan apa pun.
Setiap kali pertanyaan itu muncul lagi, aku tak pernah merasa perlu memberi jawaban panjang. Karena jawaban yang paling jujur sudah ada di dalam hati:
"Aku sudah nyaman pulang ke dalam diriku sendiri."
Dan di situlah ketenangan itu selalu menunggu, walau perlahan, tapi hangat, dan tak pernah pergi..












