Konon, manusia diciptakan dengan kemampuan tertawa.
Mungkin sebab semesta tahu, tanpa jenaka, kita akan terlalu cepat menyadari bahwa hidup hanyalah ruang tunggu menuju kehilangan berikutnya.
Maka kita menciptakan lelucon.
Tentang cinta yang katanya mampu menyembuhkan.
Tentang pulang yang katanya selalu ada.
Tentang "selamanya" yang diperdagangkan seperti barang murah di bibir manusia.
Kita begitu fasih menciptakan tawa, tetapi begitu gagap ketika diminta menjelaskan mengapa hati selalu pulang kepada sesuatu yang perlahan menghancurkannya.
Aku pernah mengira jenaka adalah bentuk kebebasan.
Kini kusadari, ia hanyalah topeng paling elegan yang dikenakan manusia agar tidak terlihat sedang sekarat di dalam dirinya sendiri.
Melainkan sebagai pemilik rumah yang selama ini membiarkan kita percaya bahwa kita adalah penghuni utama.
Haru biru memaparkan dirinya tanpa meminta izin.
Di sela kopi yang mulai dingin.
Pada lagu yang tak lagi mampu dinyanyikan utuh.
Di bangku-bangku kota yang menyimpan lebih banyak perpisahan daripada pertemuan.
Dan kita, dengan sombongnya, masih menyebut semua itu sebagai proses menjadi dewasa.
Mungkin kita hanya semakin mahir menyusun reruntuhan agar tampak seperti kehidupan yang baik-baik saja.
Barangkali itulah ironi paling purba.
Manusia mencita-citakan jenaka, tetapi diwarisi haru.
Membangun harapan setinggi langit, lalu menghabiskan sisa umur memunguti serpihannya sendiri.
Jika suatu hari dunia bertanya mengapa wajahku tampak tenang, jangan katakan aku telah sembuh.
Katakan saja aku telah terlalu lama berdamai dengan bencana yang memilih menetap.
Sebab pada akhirnya, tidak semua yang hancur ingin diperbaiki.
Sebagian memilih menjadi monumen.
Agar setiap orang yang melintas mengerti, bahwa bahkan kebahagiaan pun pernah gagal mempertahankan dirinya sendiri.