"Menyenangkan orang lain melalui hidup yang kamu jalani; kayak kamu masak buat semua orang, tapi kamunya sendiri lupa makan."
-
Ferliana Harman


tannertan36
🪼

Origami Around
Noah Kahan

@theartofmadeline
Cosmic Funnies
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

JVL
Peter Solarz

oozey mess

roma★

★
untitled

pixel skylines
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
he wasn't even looking at me and he found me
d e v o n
wallacepolsom
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

seen from Finland
seen from Italy
seen from United States

seen from T1

seen from Brazil

seen from Japan

seen from Malaysia

seen from Japan
seen from United States
seen from Portugal
seen from United Kingdom
seen from Malaysia

seen from United States

seen from France

seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Indonesia
seen from United States
seen from T1
@hanifahira
"Menyenangkan orang lain melalui hidup yang kamu jalani; kayak kamu masak buat semua orang, tapi kamunya sendiri lupa makan."
-
Ferliana Harman

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Keberuntungan orang lain tidak membuat jatah keberuntunganmu berkurang. Jangan merasa kalah hanya karena orang lain mendapat giliran lebih dulu.
Percayalah, antreanmu sedang berjalan.
Di negeri yang sama, masih ada orang tua yang menghitung receh sebelum membeli beras, mahasiswa yang mengubur mimpinya karena uang kuliah, dan pekerja yang menggadaikan tenaganya demi upah yang habis sebelum bulan berganti.
Yang dicuri bukan hanya uang negara tapi sekolah yang tak pernah berdiri, rumah sakit ya g kekurangan alat, jalan yang tak pernah selesai, dan masa depan yang terus dijual sedikit demi sedikit.
Bajingan…
Bahkan seribu kehidupan mungkin belum cukup untuk mengenal diri sendiri. Kita terus berubah, berkali-kali runtuh, berkali-kali tumbuh. Mungkin, itulah harga untuk tetap hidup.
Tidak ada manusia yang benar-benar selesai menjadi dirinya. Setiap hari selalu ada sesuatu yang patah, tumbuh, hilang, lalu lahir kembali di dalam hati.
Ada hari ketika kita merasa setangguh gunung, lalu pada hari lain satu kalimat sederhana saja mampu mengguncangkan seluruh isi dada. Begitulah manusia; belajar tanpa pernah lulus, bertahan tanpa pernah benar-benar terbiasa.
Barangkali kesempurnaan memang bukan tujuan kita. Sebab jika seluruh luka hilang, seluruh takut lenyap, dan seluruh tanya terjawab, mungkin kita telah berhenti menjadi manusia.
Kita sering tergesa-gesa ingin sampai, padahal semesta tidak sedang menilai seberapa cepat langkah, melainkan seberapa berani kita tetap berjalan meski rasanya seluruh dunia sedang runtuh di atas bahu.
Sebab menjadi manusia bukan tentang akhirnya berhasil mengalahkan semua badai, melainkan tetap memilih hidup ketika hati terasa lebih berat daripada seluruh langit yang sedang memikul hujan.
Written by Aftansa
Tubuku sedang merayakan kehancuran kecilnya sendiri. Sebuah siklus purba yang menolak kompromi dengan jadwal harian manusia kontemporer.
Aku tidak sedang ingin menjadi manusia sosial hari ini. Aku hanya ingin menjadi sebongkah batu karang yang tidak punya kewajiban untuk beramah-tamah.
Jangan tanyakan apa yang kuinginkan. Bahkan jika aku meminta bulan yang digoreng garing, semenit kemudian aku akan menangis karena bulannya terlalu bundar.
Tolong mengerti. Jangan mendekat. Jangan ganggu!

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Catatan Untuk Diingat Diri.
Dari sekian banyak amal shalih yang mungkin kita belum bisa menjaga keistiqomahannya, setidaknya pastikan agar tetap menjaga sholat—khususnya yang wajib.
Jika kita ingin mengevaluasi kualitas hidup kita, lihatlah dari bagaimana kita menjaga sholat kita. Sebab darinya tercermin bagaimana kita mengelola resources yang dititipkan, apakah sholat sudah menjadi prioritas utama, atau sekedar sampingan dari sekian banyak urusan duniawi?
Sholat yang disyariatkan dilaksanakan dengan waktu yang diberi jeda antar satu diantaranya, juga memberi ruang muhasabah bagaimana kita menjalni pagi kita, siang hari, sore, malam dst. Jika kita merasa berbuat dosa di satu waktu, jadikan sholat menjadi 'penghapus' dosa itu.
Kualitas hubungan kita dengan Allah juga bisa dilihat dari bagaimana kita menjaga sholat kita. Apakah Allah sudah betul-betul kita "menangkan" dari hajat-hajat duniawi yang kita ingin rengkuh?
Maka dari itu, jika boleh berpesan untuk diri dan siapapun yang membaca. Sejauh apapun mungkin hari ini kita sama Allah, jangan sampai tinggalkan sholat. Jadikan sholatmu sebagai "cara" menjemput Rabb-mu. Sesungguhnya Ia Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Memberi Ampun.
Luka yang Tak Pernah Kita Sadari
Sering kali manusia hanya pandai menghitung luka yang diterimanya, namun lupa menghitung luka yang pernah ia tinggalkan.
Ia mengingat setiap kata yang melukai hatinya, tetapi tidak selalu mengingat kata-kata yang pernah melukai hati orang lain.
Ia menangisi air matanya sendiri, namun tak sadar mungkin ada seseorang yang diam-diam menangis karena sikapnya.
Begitulah ego bekerja: membesarkan rasa sakit yang kita rasakan, lalu mengecilkan rasa sakit yang kita sebabkan.
Maka sebelum menuntut dipahami, belajarlah memahami. Sebelum meminta maaf dari orang lain, beranilah meminta maaf atas kesalahan diri sendiri.
Karena setiap hati pernah terluka, dan tanpa sadar, kita pun pernah menjadi penyebab luka bagi hati yang lain.
Bulan
Saat kamu memotret bulan, kamu tidak bilang bulan itu jelek, tetapi kamu bilang kameranya lah yang tidak mampu menangkap keindahannya.
Anggaplah dirimu dengan cara yang sama.
Jika harus belajar sesuatu dari bulan, maka aku akan minta diajari tentang seni bertahan untuk tetap waras dalam kegelapan.
Sekarang aku paham kenapa rasanya seperti pengasingan. Karena yang paling menyakitkan dari kehilangan bukan saat seseorang pergi.
Melainkan saat dia masih hidup, masih bernapas, masih ada di kota yang sama, masih berada di bawah langit yang sama, tapi kamu sudah tidak bisa lagi pulang ke hatinya.
Dan yang paling kejam dari semuanya adalah ternyata, kita tidak benar-benar saling kehilangan di hari perpisahan.
Kita kehilangan satu sama lain jauh sebelum itu.
Saat aku mulai berhenti mendengar isyaratmu.
Dan kamu mulai lelah berharap aku akan mengerti.
Aku sangat bersyukur atas rasa "bodo amat" yang Allah titipkan dalam diriku. Semakin bertambah usia, aku justru melihatnya sebagai salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan.
Bukan "bodo amat" yang membuatku tak peduli pada orang lain, melainkan yang membuatku tidak mudah ikut campur dalam hal-hal yang memang bukan urusanku. Ada rasa malas yang ternyata begitu menenangkan: malas mengurusi hidup orang lain yang tidak ada kaitannya dengan hidupku, malas mempercayai cerita yang belum jelas kebenarannya, malas mendengar hal-hal yang hanya berdasarkan asumsi, dan malas menghabiskan energi untuk sesuatu yang tidak membawa manfaat.
Rasanya hidup jadi jauh lebih ringan. Tidak semua hal harus diketahui, tidak semua pembicaraan harus diikuti, dan tidak semua pendapat harus ditanggapi. Cukup fokus memperbaiki diri, menjaga hati, dan menjalani apa yang memang Allah amanahkan untukku.
Semoga Allah menjaga sifat ini agar tetap berada pada tempatnya—menjadikannya benteng dari prasangka, gibah, dan hal-hal yang sia-sia, tanpa menghilangkan rasa peduli pada sesama ketika memang dibutuhkan.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Bila segalanya terasa hampa padahal telah penuh, boleh jadi yang luput bukan isi, tapi izin untuk merasa cukup.
Saat itu mungkin adab kepada takdir sedang mengendur- dan sinyal itu akan lebih terasa saat makna kehilangan maknanya
Konon, manusia diciptakan dengan kemampuan tertawa.
Mungkin sebab semesta tahu, tanpa jenaka, kita akan terlalu cepat menyadari bahwa hidup hanyalah ruang tunggu menuju kehilangan berikutnya.
Maka kita menciptakan lelucon.
Tentang cinta yang katanya mampu menyembuhkan.
Tentang pulang yang katanya selalu ada.
Tentang "selamanya" yang diperdagangkan seperti barang murah di bibir manusia.
Lucu, bukan?
Kita begitu fasih menciptakan tawa, tetapi begitu gagap ketika diminta menjelaskan mengapa hati selalu pulang kepada sesuatu yang perlahan menghancurkannya.
Aku pernah mengira jenaka adalah bentuk kebebasan.
Kini kusadari, ia hanyalah topeng paling elegan yang dikenakan manusia agar tidak terlihat sedang sekarat di dalam dirinya sendiri.
Lalu datanglah haru.
Bukan sebagai tamu.
Melainkan sebagai pemilik rumah yang selama ini membiarkan kita percaya bahwa kita adalah penghuni utama.
Haru biru memaparkan dirinya tanpa meminta izin.
Di sela kopi yang mulai dingin.
Pada lagu yang tak lagi mampu dinyanyikan utuh.
Di bangku-bangku kota yang menyimpan lebih banyak perpisahan daripada pertemuan.
Dan kita, dengan sombongnya, masih menyebut semua itu sebagai proses menjadi dewasa.
Padahal mungkin tidak.
Mungkin kita hanya semakin mahir menyusun reruntuhan agar tampak seperti kehidupan yang baik-baik saja.
Barangkali itulah ironi paling purba.
Manusia mencita-citakan jenaka, tetapi diwarisi haru.
Membangun harapan setinggi langit, lalu menghabiskan sisa umur memunguti serpihannya sendiri.
Jika suatu hari dunia bertanya mengapa wajahku tampak tenang, jangan katakan aku telah sembuh.
Katakan saja aku telah terlalu lama berdamai dengan bencana yang memilih menetap.
Sebab pada akhirnya, tidak semua yang hancur ingin diperbaiki.
Sebagian memilih menjadi monumen.
Agar setiap orang yang melintas mengerti, bahwa bahkan kebahagiaan pun pernah gagal mempertahankan dirinya sendiri.
@gramabiru | jen
“People think being alone makes you lonely, but I don’t think that’s true. Being surrounded by the wrong people is the loneliest thing in the world.”
— Kim Culbertson
"الإنسان في تطلّعاته ورغباته وحوائجه خلال حياته كلّها يعيش بين أمرين: الألم ممّا لم يتحقّق له، والملل ممّا تحقّق له. مأزق يضع نفسه فيه ويهدر بسببه حياته"
"Man, in his aspirations, desires, and needs throughout his entire life, lives between two things: pain over what he has not achieved, and boredom over what he has achieved. A predicament he places himself in, and through which he wastes his life."
Ada harapan-harapan kecil yang bergantung di langit-langit malam. Setiap doa diam-diam dititipkan kepada Tuhan, meski empunya tak pernah tahu kapan jawaban itu akan datang.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
17-8-26
Merdeka untuk siapa, jika rakyat masih di garis sengsara, merdeka untuk siapa, jika keadilan masih tertutup angka. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.
Merdeka bukan hanya lepas dari penjajah, merdeka bukan hanya lepas dari penindasan, merdeka bukan hanya lepas dari perampasan, namun bisa lepas dari keserakahan dan kerakusan.
Petani tetap bicara pada tanah, nelayan tetap bicara pada ombak, buruh tetap berbicara pada lelah, dan generasi masih pada hilang arah.
Tuhan dituding memberi takdir yang keji, seakan manusia tak pernah ikut menciptakan tragedinya sendiri. Saat doa tak berujung pada yang diingini, langit dituduh tak peduli. Manusia begitu cepat menggugat Sang Pencipta, seolah hidup memang berutang kebahagiaan tanpa jeda dan luka tanpa makna.
Mereka meminta hujan, lalu mengeluh saat jalanan menjadi becek. Meminta kekuatan, tapi marah ketika diuji. Meminta perubahan, namun membenci proses yang menyakitkan. Anehnya, yang salah selalu Tuhan, sementara keserakahan, ego, dan pilihan-pilihan buruknya sendiri dibiarkan lolos dari pengadilan.
Barangkali yang keji bukan takdirnya, melainkan hati yang hanya pandai bersyukur saat diberi, lalu berubah menjadi hakim ketika kehilangan. Tuhan tetap dipersalahkan atas segala duka, padahal sering kali manusialah yang menanam duri, lalu menangis saat kakinya sendiri berdarah.
Written by Aftansa