kukantongi bulan untukmu
kemarin malam, bulan besar sekali bentuknya sabit menghadap atas dan kukira makin jauh kendaraan melaju, makin mungkin aku dan dia bertumbukan
aku merekam malam itu di dalam genggaman kubisiki langit serta bintang-bintang, bolehkah yang ini kubawa pulang? bulan mengingatkanku soal pulang, ke lantai pualam yang menampung tubuh-tubuh lelah kita juga pada beranda yang membiarkan angin menyapu peluh di wajah kita
jadi ketika gelap balas menghangatkan telinga, bawa pulanglah kusambar pelan-pelan sang bulan kulipat rapi-rapi dia menjadi delapan bagian kusimpan dia di sudut paling aman di pikiran
rinduku, kukantongi bulan ini untukmu di perjalanan menuju rumah, bulan di sakuku berpesan jaga dia dengan penuh sayang
tidak, sungguh tidak apa-apa bila sendiri masih menjadi teman terbaikmu bila rapuh perlu kau kenali lebih jauh pun bila hadirku belum sedia kau jamu
tiada mengapa, rinduku bulan yang terang itu memang kubawa untukmu tiada mengapa, sayangku bulan milikmu sudah kugantung di gagang pintu
senantiyasa, 2025.












