Adik, kamu tahu tidak kalau aku tidak pernah suka menjadi kakak? Terlalu berat, dik. Aku harus dituntut dewasa saat tak mampu, dituntut mengalah saat tak ingin, dituntut bisa saat tak bisa. Menjadi kakak bagiku seolah aku menggadaikan angan hidup semena-mena ku, dik.
Adik, bagi ku menjadi kakak terlalu memuakkan, aku tak bisa menelusuri jalannya tanpa mengeluh, aku tak sanggup menjalaninnya tanpa marah, aku benar-benar tidak suka menjadi kakak, dik.
Tapi, aku adalah kakak mu. Aku memang tak suka mengalah, tak suka menjadi dewasa, tak suka dituntut untuk bisa, tapi demi kamu, aku mau menjadi kakak yang baik, dik
Dik, ku bilang lagi kalau aku tak pernah suka menjadi kakak, tapi untuk mu, aku mau selamanya menjadi kakak yang baik, yang mau mengalah, yang mau dewasa, yang mau bisa segalanya, untuk mu, aku mau, dik.
Dik, bapak sering bilang kalau aku hanya perlu memahami diri menjadi kakak seperlunya karena kamu juga tengah ditempa oleh dunia untuk menjadi manusia baik, manusia kuat, tapi untuk mu dik, aku ingin menjadi kakak untuk selamannya, aku ingin menjadi segala yang orang sebut kakak yang baik untuk mu, dik.
Adik, ibu pernah bilang, dalam diri kita mengalir sesuatu yang tak pernah ada duanya, olehnya segala yang kamu rasa bisa aku rasa, dan untuk satu dan dua halnya, itu menakjubkan, dik.
Adik, selalu ku semogakan untuk kamu selalu bahagia, untuk selalu tersenyum, untuk selalu baik-baik saja disepanjang hidup mu, untuk tak pernah sakit, untuk tak pernah terluka, untuk tak pernah merasa bahwa hidup ini berat.
Adik, saat aku bilang aku mencintai mu, aku tak perlu memperdengarkannya pada mu dengan lantang dan sering, cukup tahu bahwa alasan ku hidup adalah karena mu, cukup tahu bahwa alasan ku terus berjalan adalah karena mu, cukup tahu bahwa segalanya kuinginkan yang terbaik untuk mu, segalanya, dik, segala yang baik selalu kuharapkan untuk mu.
Adik, tumbuhlah semampu mu, berjuanglah semampu mu, kuatlah semampu mu, tidak apa-apa, kamu selalu ku terima sebaik-baiknya dirimu, dik.