Satriya Piningit bukan sekadar ramalan. Ia cermin kerinduan orang kecil akan keadilan — dan mungkin, undangan untuk menanamkannya dalam diri
seen from Russia
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Singapore
seen from China

seen from Singapore

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from China

seen from United States
seen from Singapore

seen from China

seen from United States
Satriya Piningit bukan sekadar ramalan. Ia cermin kerinduan orang kecil akan keadilan — dan mungkin, undangan untuk menanamkannya dalam diri

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Aku Mengubur Cinta Yang Kau Bunuh Perlahan
Kubunuh mati rasa cintaku
pelan-pelan,
seperti memakamkan seseorang
yang dulu paling ingin kupeluk selamanya.
Kau tahu?
Yang paling menyakitkan bukan perpisahan,
melainkan cara kau mengubah ketulusan
menjadi luka yang tak sempat sembuh.
Aku pernah menunggumu
dengan doa-doa yang diam-diam kusebut setiap malam,
sementara kau sibuk meninggalkan
jejak pengkhianatan di belakang punggungku.
Hatiku koyak,
bukan sekali—
tetapi berkali-kali
oleh sikapmu yang dingin
dan janji yang kau bunuh sendiri.
Kini aku belajar
bahwa cinta tak selalu harus diperjuangkan.
Kadang,
ia harus dikubur hidup-hidup
agar jiwa ini tetap bernapas.
Jangan kembali.
Sebab aku telah menguburkan namamu
di tempat paling sunyi dalam dada,
bersama air mata
yang tak lagi ingin kau tahu artinya
Maka perlahan akan kulepaskan. Tak lagi kupeluk bayangmu terlalu erat, dan berhenti mencarimu lewat doa-doa yang tak lagi menemukan arah pulang.
Untukmu Yang Pergi Tanpa Kata Selesai...
Aku tidak ingat kapan tepatnya semuanya mulai terasa menggantung.
Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada pintu yang dibanting keras-keras.
Hanya percakapan yang semakin pendek, jeda yang semakin panjang, dan tatapan yang perlahan kehilangan arah. Kita tidak benar-benar berpisah waktu itu—kita hanya berhenti mencoba, diam-diam.
Kamu pergi tanpa benar-benar mengatakan bahwa kamu pergi.
Tidak ada kalimat penutup, tidak ada kejelasan yang bisa kupegang.
Seolah aku dibiarkan berdiri di tengah cerita yang belum selesai, menebak-nebak bagian mana yang harus kuakhiri sendiri. Dan sejak saat itu, aku belajar bahwa yang paling menyakitkan bukan kehilangan—tapi tidak pernah benar-benar tahu kapan kehilangan itu terjadi.
Aku sempat menunggu.
Berpikir mungkin ini hanya jeda, mungkin kamu hanya butuh waktu.
Aku menyimpan semua hal yang belum sempat kita selesaikan, berharap suatu hari kita akan kembali dan melanjutkan dari titik terakhir. Tapi waktu terus berjalan, dan kamu tidak pernah kembali untuk menyelesaikan apa pun.
Ada kalimat-kalimat yang masih tertahan di tenggorokan.
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah menemukan jawabannya.
Dan perasaan yang terpaksa kubungkus sendiri, tanpa pernah tahu harus diberikan ke mana. Aku mencoba merapikan semuanya sendirian, menutup cerita yang bahkan tidak pernah diberi akhir.
Mungkin memang tidak semua kepergian datang dengan penjelasan.
Mungkin ada orang-orang yang memilih pergi tanpa memberi kesempatan untuk mengerti.
Dan aku—yang ditinggalkan di tengah kalimat yang terputus—hanya bisa belajar menerima bahwa tidak semua cerita diberi titik. Beberapa dibiarkan menggantung, selamanya.
—Hilang
Jika suatu hari kamu teringat aku,
mungkin itu bukan karena aku pernah istimewa.
Mungkin hanya karena
kita pernah berbagi percakapan panjang
tentang hal-hal sederhana
yang dulu terasa biasa saja.
Waktu memang membawa kita
ke arah yang berbeda.
Namun kadang di beberapa malam yang sunyi,
kenangan kecil itu kembali muncul
tanpa kita rencanakan.
Dan jika suatu hari kamu benar-benar mengingatku,
aku harap itu bukan dengan penyesalan.
Cukup dengan senyum kecil,
karena kita pernah saling mengenal.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kita hanya sepasang manusia yang gagal mengelola perasaan. Dua jiwa yang bertemu di waktu yang keliru, saling menyembuhkan sekaligus melukai🥀
Tak ada makam untuk kenangan ini, sebab ia tidak pernah diakui sebagai kehilangan. Ia hanya hidup disela dada yang sesak dan rindu yang tak punya hak.
Bukan tanah yang menimbunnya,
melainkan keadaan.
Bukan hujan yang membasahinya,
melainkan doa-doa
yang tak pernah sampai
ke alamat yang sama.
Di sana,
aku mengubur segala kemungkinan:
tentang hari-hari yang sempat kubayangkan
akan kita lewati bersama,
tentang pagi yang mungkin diawali
dengan saling sapa dan secangkir rindu,
tentang rumah kecil
yang tak pernah jadi dibangun karena pondasinya sudah lebih dulu retak oleh perbedaan.
Aku mengubur caramu memandangku
seperti seseorang yang pantas diperjuangkan.
Aku mengubur suaramu
yang pernah menjadi penawar
bagi seluruh gaduh di kepalaku.
Aku mengubur harapan-harapan kecil
yang dulu tumbuh liar.
Tak ada makam untuk kenangan ini,
sebab ia tidak pernah diakui sebagai kehilangan.
Ia hanya hidup
di sela dada yang sesak
dan rindu yang tak punya hak.
Ia tidak dikafani dengan perpisahan yang layak,
tidak ditangisi di bahu siapa-siapa,
tidak pula didoakan ramai-ramai
seperti orang-orang yang mati
dengan nama dan status yang jelas.
Cinta ini wafat diam-diam,
tanpa nisan,
tanpa pelayat,
tanpa satu pun orang tahu
bahwa pernah ada semesta
yang runtuh di dalam dua pasang mata.
Yang tersisa hanyalah hal-hal kecil
yang justru paling kejam untuk dilupakan:
cara kau menyebut namaku
seolah itu rumah,
cara aku menahan senyum
saat matamu singgah terlalu lama,
dan percakapan-percakapan sederhana
yang kini menjelma kutukan—
karena semakin kuingat,
semakin aku sadar
bahwa kita pernah hampir menjadi segalanya
namun dipaksa berhenti
sebelum sempat menjadi apa-apa.
Betapa lucunya takdir—
ia mempertemukan kita
dengan kelembutan yang nyaris suci,
lalu memisahkan kita
dengan cara yang begitu manusiawi:
takut,
taat,
dan penuh luka yang disembunyikan.
Maka aku menguburmu
bukan di tanah,
melainkan di tempat-tempat
yang tak bisa dijamah siapa pun:
di lagu-lagu yang tak lagi berani kudengar,
di bangku-bangku sepi yang pernah kita singgahi,
di halaman-halaman doa
yang basah oleh air mata
namun tak pernah berani menyebut namamu.
Kau menjadi kehilangan
yang tak bisa kupublikasikan.
Sebab bagaimana mungkin aku menjelaskan
bahwa aku sedang berduka
atas seseorang
yang tak pernah benar-benar kumiliki?
Bagaimana mungkin aku berkata
bahwa ada yang mati di dalam diriku,
padahal dunia bahkan tak pernah tahu bahwa kau pernah hidup di sana begitu lama?
Dan sejak itu,
aku belajar satu jenis sepi
yang tak diajarkan siapa pun:
sepi yang tetap berisik
meski semua orang mengira kau baik-baik saja.
Sepi yang duduk manis di sebelahku setiap malam,
menyuguhkan ulang kenangan seperti racun yang dituang ke cangkir paling indah.
Dan bila suatu hari nanti
kau melihat seseorang tersenyum
dengan mata yang terlalu lelah,
mungkin itu aku—
yang telah belajar hidup
sambil membawa kuburan
di dalam dada sendiri.
Kuburan itu bernama: KITA
Dan aku pun mulai mengerti bahwa, mungkin kita tidak benar-benar berpisah-- kita hanya berubah wujud: menjadi arus yang terus mengalir dalam ingatan, menjadi dingin yang diam-diam menghangatkan luka, menjadi cerita yang tak bisa diceritakan tanpa terasa hancur🥀