Untukmu Yang Pergi Tanpa Kata Selesai...
Aku tidak ingat kapan tepatnya semuanya mulai terasa menggantung.
Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada pintu yang dibanting keras-keras.
Hanya percakapan yang semakin pendek, jeda yang semakin panjang, dan tatapan yang perlahan kehilangan arah. Kita tidak benar-benar berpisah waktu itu—kita hanya berhenti mencoba, diam-diam.
Kamu pergi tanpa benar-benar mengatakan bahwa kamu pergi.
Tidak ada kalimat penutup, tidak ada kejelasan yang bisa kupegang.
Seolah aku dibiarkan berdiri di tengah cerita yang belum selesai, menebak-nebak bagian mana yang harus kuakhiri sendiri. Dan sejak saat itu, aku belajar bahwa yang paling menyakitkan bukan kehilangan—tapi tidak pernah benar-benar tahu kapan kehilangan itu terjadi.
Aku sempat menunggu.
Berpikir mungkin ini hanya jeda, mungkin kamu hanya butuh waktu.
Aku menyimpan semua hal yang belum sempat kita selesaikan, berharap suatu hari kita akan kembali dan melanjutkan dari titik terakhir. Tapi waktu terus berjalan, dan kamu tidak pernah kembali untuk menyelesaikan apa pun.
Ada kalimat-kalimat yang masih tertahan di tenggorokan.
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah menemukan jawabannya.
Dan perasaan yang terpaksa kubungkus sendiri, tanpa pernah tahu harus diberikan ke mana. Aku mencoba merapikan semuanya sendirian, menutup cerita yang bahkan tidak pernah diberi akhir.
Mungkin memang tidak semua kepergian datang dengan penjelasan.
Mungkin ada orang-orang yang memilih pergi tanpa memberi kesempatan untuk mengerti.
Dan aku—yang ditinggalkan di tengah kalimat yang terputus—hanya bisa belajar menerima bahwa tidak semua cerita diberi titik. Beberapa dibiarkan menggantung, selamanya.
—Hilang













