Keras Kepala Menggenggam Takdir;
Matahari tak pernah meminta izin pada malam untuk menyisakan senja, begitupun caraku mencintaimu dengan keras kepala, di luar restu semesta.
Aku telah melipat jarak, memeras peluh, dan menempuh beribu labirin sunyi yang kau sebut sebagai "usaha". Semua kulakukan demi melihat seulas senyum di bibirmu, sekadar untuk membohongi dunia bahwa bersamaku, kau baik-baik saja. Padahal aku tahu, isi kantong dan genggamanku teramat pekat oleh kesederhanaan yang meraba-raba di dalam gelap. Aku hanya punya hati yang ringkih, sementara dunia menuntutmu bersanding dengan kemegahan.
Kita adalah sepasang nisan tanpa nama di tanah larangan; cinta kita dikubur hidup-hidup oleh penghakiman mereka yang merasa berhak menentukan bahagia.
"Tak ada restu!" kata mereka, sebuah vonis dingin yang memotong nadiku berkali-kali.
Namun, lihatlah kegelapan ini. Aku tidak sedang sekarat; aku sedang menempa diri. Di bawah tirai langit yang kelam dan bisikan-bisikan sinis yang meragukanku, aku merangkak dan bertarung dengan takdir. Setiap luka yang menganga di tubuhku adalah bukti, sebuah manifesto berdarah bahwa aku sedang bertaruh dengan waktu.
Aku akan tegak berdiri di depan altar penolakan mereka, menyodorkan seluruh hancurku yang telah menjelma menjadi tameng hati, hanya untuk membuktikan satu hal yang paling tajam menusuk dada mereka: "aku teramat pantas untukmu, bahkan jika semesta harus mengutuk kita."















