Sebuah Nasehat Untuk Diriku, Istriku, dan Adik-adikku:
Jangan Putus Berharap Kepada Rabb-mu
ADA kalanya hidup membawa kita pada hari-hari yang sunyi. Doa telah lama dipanjatkan, ikhtiar telah dilakukan, namun jawaban yang diharapkan belum juga datang. Pada saat seperti itu, yang sering melemah bukanlah lisan, melainkan keyakinan.
Lalu Allah berfirman:
"Sesungguhnya Aku dekat."
Bukan, "Aku akan dekat," bukan pula, "jika engkau pantas." Melainkan, "Aku dekat."
Betapa menenangkan jika dipikirkan perlahan. Bahkan sebelum doa itu menemukan jawabannya, Allah telah lebih dahulu memastikan kedekatan-Nya. Mungkin itulah nikmat yang sering luput kita sadari-bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri.
Boleh jadi ada doa yang dipercepat, ada yang ditunda, bahkan ada yang diganti dengan sesuatu yang belum kita mengerti hari ini. Namun kasih sayang Allah tidak pernah tertunda. Ia selalu hadir, sering kali dalam bentuk yang tidak kita duga.
Karena itu, jika suatu hari hati terasa sempit, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa langit telah diam. Bisa jadi, Allah sedang mengajarkan kita bahwa yang paling menenangkan bukanlah segera dikabulkannya doa, melainkan keyakinan bahwa setiap bisikan telah didengar oleh Dzat Yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Semoga kita semua tetap menjadi hamba yang tidak lelah berharap, tidak putus berdoa, dan tidak kehilangan husnuzan kepada Allah. Sebab sering kali, ketenangan datang bukan ketika semua keinginan terpenuhi, tetapi ketika hati benar-benar percaya bahwa Allah selalu dekat.
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh petunjuk."
Demikian firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah: 186.
•
•
•
Lueng Bata, Banda Aceh
30 Juli 2026
Catatan Penulis:
Renungan ini tidak lahir dari sebuah meja belajar, melainkan dari sebuah ruang tahanan.
Berawal ketika saya menjalani masa penahanan di Rutan Polda Aceh. Di tempat yang serba terbatas itu, saya memulai kembali perjalanan bersama Al-Qur'an; membacanya perlahan, ayat demi ayat, beserta terjemahannya. Hingga akhirnya saya sampai pada Surah Al-Baqarah ayat 186.
Entah mengapa, ayat itu begitu menetap di hati. Saya menyalin terjemahannya ke dalam buku harian merah yang selalu menemani hari-hari saya. Sejak saat itu, saya terus kembali kepada ayat tersebut. Saya membaca tafsirnya, merenungi maknanya, lalu mengulanginya berkali-kali, bukan sekedar untuk dipahami, tetapi agar ia benar-benar hidup di dalam hati.
Tulisan ini bukanlah sebuah tafsir, apalagi merasa paling memahami maksud ayat-Nya. Ia hanyalah jejak perenungan seorang hamba yang pernah menemukan cahaya di tengah keterbatasan, lalu berusaha membagikan secercah ketenangan itu kepada siapapun yang sedang mencari tempat untuk menenangkan hatinya.
Semoga Allah mengampuni segala kekurangan dalam tulisan ini, menerima setiap niat baik dibaliknya, dan menjadikan setiap ayat-Nya sebagai cahaya yang selalu menuntun langkah kita.
Aamiin Yaa Rabbal 'alamiin...












