LIMBO
Langit di atasku tidak berjanji apa-apa. Ia hanya mendung. Bukan mendung yang basah dan penuh harapan akan hujan, tapi mendung yang kering dan gersang. Udara terasa berat dan pengap, menekan pundakku dengan ketidakpastian.
Aku tidak tahan lagi dengan penantian tak berujung ini, jadi aku berlari.
Aku berlari mencari perlindungan, dan menemukan sebuah pintu. Di baliknya, aku berharap menemukan tempat yang aman. Tapi yang kutemukan adalah sebuah ruangan. Ruangan yang begitu luas hingga cakrawalanya hilang dalam suram. Aku mencoba kembali, tapi pintu tempatku masuk tadi telah lenyap. Aku terjebak.
Di sini lebih buruk. Sunyinya begitu total hingga gema dari langkah kakiku sendiri terdengar seperti sebuah tuduhan. Aku bebas bergerak, berlari ke segala arah di hamparan yang kosong ini, tapi kebebasan ini semu. Ini adalah penjara tanpa jeruji, sebuah kurungan yang terbuat dari ketiadaan. Dan di tengah keheningan baru ini, suara di dalam hatiku justru menjadi lebih keras. Bisikan itu kini menjadi gema yang memantul di seluruh ruangan. Kapan ini selesai? Kapan segalanya akan berubah? Kenapa?
Aku tersadar, aku tidak lari ke sebuah tempat. Aku hanya lari dengan diriku sendiri. Dan di sini, di dalam ruangan yang kuciptakan sebagai pelarian, aku menemukan bahwa aku telah membangun penjaraku yang paling sempurna. Sebuah lajur tak berujung berbentuk simbol keabadian kini terukir di lantai, dan aku adalah bola yang mulai menggelinding di atasnya.
Lagi, dan lagi.
Roni. | 11 Agustus 2025















