Sebelum gembar-gembor film NKCTHI yang mendapat exposure besar karena adanya sosok Ardhito Pramono dan Rachel Amanda, saya sempat membaca beberapa halaman buku NKCTHI ketika awal rilis. Seperti biasa, saya merasa kagum dengan desain layout bukunya yang eye-catching ; enak dibaca, tapi menyisakan satu lubang besar yang saya rasakan ; sampai suatu hari, bertemu dengan salah satu teman saya yang berprofesi sebagai penulis, beropini kalau NKCTHI itu bukan “buku” dalam artian penuh. Saya setuju, meskipun tidak bermaksud merendahkan kalau dilabelkan “bukan hanya kumpulan quotes kok,” tapi ya memang begitu rasanya. Opini pribadi lho ini, menurut kalian bagaimana?
Sampai parade filmisasinya sampai di awal tahun 2020, saya masih belum begitu tertarik sebenarnya. Tapi begitulah psychological marketing bekerja, ketika muncul berbagai nama aktor utama dan settingan tematik berlatar-belakang keluarga, toh saya luluh juga. Penasaran, seperti apa lagi magic dari berbagai alur cerita yang disampaikan oleh pembesutnya yaitu mas Angga Dwimas Sasongko, yang saya kenal dari berbagai web series yang sudah lahap ditonton. Menarik. Inginnya menonton ketika premiere di Bandung, tapi saya sengaja untuk menahannya demi sebuah syarat pertemuan dengan kekasih ; di hari Sabtu itu, tepat 11 Januari dimana jadi salah satu hari yang ada theme-song nya itu, di bilangan Jakarta Selatan. Selebihnya, adalah kesan yang membuat saya (dan dia) susah lupa. Boleh diceritakan, ya?
Pembuka film dimulai dengan alur yang bisa dibilang acak, maju-mundur-present-past-future yang diperankan oleh masing-masing aktor dengan nama tokoh yang sama. Agak pusing di awalnya, tapi lama kelamaan saya jadi paham “ini siapa, menceritakan siapa”. Centrum-nya adalah Ayah, Ibu, Angkasa sebagai kakak lelaki tertua (diperankan Rio Dewanto), Aurora sebagai kakak perempuan tengah (diperankan Sheila Dara), dan Awan sebagai adik perempuan terkecil. Yang disebut terakhir, diperankan Rachel Amanda yang menurutku jadi beberapa pusat benang merah yang jadi simpul berbagai cerita dan mayoritas sudut pandang cerita.
Masalah ini agaknya agak menyudutkan peran anak bungsu, Awan. I feel you, sebagai sesama anak bungsu dan kebetulan juga punya dua kakak. Pagelaran berbagai masalah biasanya dimulai dari Awan, yang berujung pada ekspektasi berlebih pada sang kakak pertama mas Angkasa, begitupun pengabaian sang kakak kedua kak Aurora. Bolak-balik, pengayaan masalah muncul dari represi sang Ayah dan pembiaran sang Ibu. Saya melihat Rachel Amanda, persis seperti yang saya rasakan, sebagai anak bungsu yang rapuh dan butuh kepercayaan serta teman untuk berdiri. Di lain sisi, saya ikut merasakan mas Angkasa juga letih menjadi guardian adik-adiknya, juga kak Aurora sebagai anak kedua yang ‘kuat’ tapi cenderung terabaikan.
Bonding filmnya sangat kuat sekaligus menceritakan berbagai sisi pecahan manik-manik perasaan yang sungguh relate buat saya pribadi. Pilihan musiknya juga cukup bikin terenyuh, terutama pada tembang Isyana Sarasvati berjudul ‘untuk hati yang terluka’ yang menceritakan gamblang perasaan Aurora. Tapi, lollipop terbaik dari keseluruhan cerita tergambar dari Fine Today-nya Ardhito Pramono sih. Dari sisi akting, hampir kesemuanya premium, angkat topi! Rachel Amanda bagus banget pas memerankan scene kissing dengan Kale, totalitas tanpa cut itu ya padahal yang nonton terwakili hampir semua kalangan. Rio Dewanto sebagai mas Angkasa itu bikin luluh banget ketika scene kumpul keluarga lalu kemarahannya memuncak dan meneriaki sang Ayah, tapi menangis di pelukan sang Ibu. Dan.. tentunya si rookie Ardhito Pramono sebagai Kale, ketika di scene ‘emang kamu maunya apa?’ Tai bet itu, tapi (pernah) relate banget asli, hahaha.
Dari kesekian plot, yang paling bikin saya salut adalah ketika scene berkumpulnya satu keluarga yang mencerminkan amarah yang sedang memuncak di tengah-tengah cerita, begitu intens dan klimaks. Ketika si Ayah (diperankan Donny Damara) yang posesif mulai menyalahkan mas Angkasa sebagai kakak yang bertanggungjawab atas Awan, adik bungsunya. Satu sisi, Aurora sebagai anak tengah merasa cukup jengah karena diabaikan tetapi sekaligus terganggu. Angkasa sebagai anak tertua mulai menunjukkan amarah, sementara sang Ibu (diperankan Susan Bachtiar) justru anti-klimaks karena diam saja. Saya sempat menduga, sang Ibu terkena gangguan psikologis karena tidak bereaksi saat emosi sekeluarga itu campur aduk.
Dan.. jeng-jeng.. inti dari segala masalah yang ada akhirnya terbuka setelah setelah adegan ini. Sesuatu yang membuat terperangah sekaligus miris, yang setelahnya benar-benar membuat saya jadi berpikir dua kali atas pertanyaan ‘kenapa sih si Ayah posesif banget? Kenapa sih si Ibu diam aja?’. Juga yang paling membuat terenyuh adalah saat semua anak-anak beserta sang Ibu meninggalkan Ayah, dan sang Ayahnya akhirnya menangis dan menyadari bahwa kesemuanya itu adalah puncak dari rahasia yang lama ditutupinya.
Salah siapa? Entah. Menurut saya pribadi, tidak ada yang sepenuhnya salah. Yang ada hanyalah miskonsepsi yang rumit.
Sebagai film keluarga, saya menggumamkan banyak salut pada kesemua jalan ceritanya. Soundtrack-nya pun terasa mewakili, meskipun tembang Secukupnya dari Hindia cenderung agak sedikit dipaksakan. Setelah terang semuanya menjelang akhir cerita, saya jadi paham juga apa sebab keposesifan sang Ayah yang ternyata begitu penyayang pada keluarganya, diamnya sang Ibu yang ternyata menyimpan banyak rahasia dengan tabah, begitu tanggungjawabnya mas Angkasa melindungi adiknya meski terlihat terbebani, begitu tangguhnya Aurora sebagai kakak kedua yang sering terabaikan, dan juga Awan sebagai centrum cerita yang menceritakan sulitnya jadi bungsu yang dikekang dan terus ‘disuapi’ oleh keluarganya.
Segalanya memiliki tantangannya masing-masing. Hampir semua, kalau tidak bisa dibilang sempurna, membuat saya beberapa kali meneteskan air mata. Beneran, sungguhan. Nggak tau deh, beberapa kali itu terjadi. Tapi buru-buru saya hapus ketika saya melihat ke samping kiri, saat pacar saya juga sedang intens menikmati cerita.
‘Yang, cowok juga boleh nangis kan?’ saya ingin bilang seperti itu dari dalam hati, dan dia hanya tersenyum lewat sorot matanya. Ah, momen itu....
Yup. Overall, film ini adalah salah satu film keluarga terbaik yang saya pernah tonton.
Originally written by @miftahulfikri