Tidur.
Semakin dewasa, saya baru sadar kalau tidur itu ternyata sebuah privilege. Dulu waktu kecil, disuruh tidur rasanya seperti hukuman. Rasanya mau main terus. Sekarang justru kebalikannya. Badan sudah lelah, mata sudah berat, besok harus bangun pagi, tetapi otak malah menganggap jam tidur sebagai waktu terbaik untuk memikirkan semuanya.
Entah ini overthinking, insomnia, atau sekadar otak yang lupa cara berhenti bekerja. Saya juga sudah tidak terlalu peduli dengan namanya. Yang saya tahu, saya hanya ingin tidur. Lucunya, banyak kebutuhan hidup itu sangat sederhana. Lapar tinggal makan. Haus tinggal minum. Tapi mengantuk? Ternyata belum tentu bisa tidur.
Saya sudah mencoba banyak cara. Mendengarkan musik, mandi, berolahraga, membuat badan lelah, sampai rebahan tanpa memegang ponsel. Tetap saja, begitu kepala menyentuh bantal, pikiran seolah menemukan alasan baru untuk tetap terjaga.
Saya mulai sadar, mungkin yang paling melelahkan bukan aktivitas yang kita jalani seharian. Bisa jadi, yang paling menguras tenaga adalah pikiran yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Mungkin karena itu, tidur adalah salah satu nikmat yang paling sering kita anggap biasa. Baru ketika kita kesulitan memejamkan mata, kita sadar bahwa tidur bukan sekadar rutinitas. Bagi sebagian orang, tidur adalah sesuatu yang harus diperjuangkan setiap malam.














