#43. Menuju Akhir, Teduhlah.
Peradaban sedang melalui takdirNya. Dunia melaju tanpa baik-baik saja. Sebagian dari kita rasakan huru-hara setiap harinya lantas fokus menyelamatkan hidup yang tersisa. Kebaikan terlihat jauh, keburukan jadi umpan tanpa arah. Menuju ujung adalah pasti karena kitalah manusia akhir zaman itu.
Teduh; definisi yang perlu dihidupkan di zaman huru-hara ini.
Menjadi beragama tidak lantas jadikan kita lebih manusiawi atas penderitaan manusia lainnya. Kepentingan kemanusiaan akan tetap jadi tujuan lebih dari pilihan aliran dalam memaknai Allah. Terlebih urusan duniawi yang tidak perlu dielu-elukan, semua sementara.
Pastikan, diri yang penuh batas ini. Tidak merasa lebih dan paling dari manusia lainnya. Cukup dalam takar percaya diri, tidak terlalu memuji diri hingga lupa diri. Memotivasi untuk belajar daya bertahan, cukup.
Kiranya, manusia terbaik adalah mereka yang setiap harinya melaju bersama hati nuraninya. Menata hidup dengan empati, terlebih terlalu takut untuk menyakiti yang lain. Biarlah jadi yang tersakiti.
Menjadi yang bermanfaat, tidak lantas berharap mendapat balasan yang seirama. Bermanfaat adalah cara terbaik, bukti indah tentang diri sedang memaknai usia dengan penuh berkah. Cukup Allah yang layak memberi hadiahnya, bukankah lebih mengejutkan rupanya?
Merajut berkah boleh jadi hal yang perlu dilalui, menggapai segala hal yang baik-baik. Halal, termasuk caranya menjemput rejeki. Berkah, bukan hasil dari merugikan orang lain. Berkah, jika tidak membawa petaka pada dunia dan seisinya. Termasuk, lingkungan yang kita tinggali dengan ikut menjaga yang tersisa.
Satu hal yang pasti, memilih diam atas segala upaya jahat dari sistem maupun manusia lainnya adalah bentuk dukungan. Tanpa tapi, tanpa terkecuali. Ada banyak korban yang perlu bantuan kita sekecil berani bersuara untuk ikut melawan atas apa-apa yang buruk saat ini.
Peradaban akan landas dengan mulus bersama penghuninya yang ikut andil. Utamanya berani menggelorakan nilai-nilai ketuhanan akan hidupnya walau sedikit dan sulit. Bukan sekedar beragama untuk kepentingan pribadi apalagi golongannya sendiri.
Kebaikan perlu dirawat dengan rasa kolektif agar keburukan bukanlah jepretan akhir dari serpihan-serpihan ketidakadilan yang kini telah berserakan. Beranikah untuk terlibat?
Selamat bertumbuh bersama semesta!
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin














