#42. 2025, Maafkanlah...
Tiada yang berlalu tanpa pelajaran, tiada yang terjadi tanpa maknaNya. Penuh tekanan, suka-duka, gelak-tawa atau justru sulit mengekspresikan: semua itu valid. Setidaknya, kita perlu sadar bahwa hidup mengajarkan arti memaafkan segalanya.
Jika yang kita lalui, tidak semudah yang dikatakan. Ingatlah, boleh jadi bukan cuma kamu yang melampaui hari-hari berat itu. Artinya, yaps, semua dari kita sedang melaju dalam takdir ujiannya tersendiri.
Jika ternyata kamu belum kunjung berani menyimpulkan, apa yang bisa diambil sebagai pelajaran termahal. Tidak masalah, satu hal yang pasti, jangan lupa untuk memaafkan segalanya.
Situasinya, orang-orangnya, lukanya bahkan kini berubah jadi ingatan pahit yang sudah lebih dulu melumat pikiranmu. Sudahi, sekarang. Dendam, tidak menyelesaikan masalah justru memakan hari-hari kedepan yang perlu disambut dengan bahagia dan syukur lebih banyak.
Tidak ada yang salah, semua itu lekas maknai sebagai caraNya memberi pesan bahwa kita hanyalah seorang manusia yang terluka, serapuh-rapuhnya.
Kita hanya perlu tarik jadi kesan indah tentang masa depan yang terbentuk dari butiran demi butiran luka yang memberimu jalan yang lebih lapang. Dengan itu kita bisa lebih percaya diri, tidak ada yang sia-sia pada ujungnya.
Jalur yang penuh misteri kedepan, boleh jadi masih panjang. Rawatlah usia yang tersisa dengan saatnya memberi jalan atas kebaikan yang tertunda, harapan yang tersimpan jauh di lubuk hati serta salah-khilaf yang seringkali pura-pura tidak disadari.
Berarti terus berharap itu kekuatan yang perlu dirawat. Tangis dengan penuh sabar lebih baik dari tawa hingga lupa diri. Dengan upaya semampunya lantas seiring doa yang terus melangit tanpa akhir.
Rekatlah dirimu dengan keyakinan, menjadi terbaik bukan dengan memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain: apapun itu bentuknya.
Alih-alih merasa berhak memiliki, kita hanya perlu menjadi diri yang cepat memaafkan. Ikhlas dalam melalui ujung tombak dari takdirNya. Memang, tidak semua berjalan sesuai keinginan.
Menerima segala takdir baik dan buruk itu juga bagian dari iman, ingatlah, berharap kamu tidak lupa akan makna mendalam di balik tangis-tawa yang menghiasi hari-harimu. Teruslah bertumbuh dengan penuh percaya diri, tanpa tapi.
Selamat bertumbuh bersama semesta!
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin














