


#interview with the vampire#iwtv#the vampire armand#assad zaman
seen from China
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Lithuania

seen from Malaysia
seen from Brazil
seen from Lithuania
seen from China
seen from China

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Italy
seen from Netherlands
seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from Malaysia

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Wenn ich mal nicht male oder schreibe, wisset, dass ich an der eigenen "kritischen Infrastruktur"-Vorsorge arbeite, auch bekannt als mein eigenes heimisches Paradies 💗💗💗
Chapter 326.
Anak tidak bisa memilih orangtuanya. Tidak bisa memilih dibesarkan di pernikahan macam apa. Status sosial apa. Suku apa.
⠀
Anak tidak bisa memilih punya orangtua yang karakternya bagaimana, temperamen yang seperti apa, pilihan hidupnya apa. Dewasa apa tidak. Bertanggung jawab menjalankan perannya atau tidak.Anak tidak bisa mengatur keputusan orangtuanya. Kelakuannya. Pola asuhnya.
⠀
Dan waktu si anak dewasa, begitu banyak hal dipengaruhi oleh apa yg terjadi sehari-hari di masa kecilnya. Apa yang dikatakan orang tuanya. Bagaimana orang tuanya memperlakukannya. Apa yg dilihat setiap hari. Value apa yang didapat. Semua membentuk pikiran, kepercayaan dan sikap anak. Semuanya terhubung.
⠀
Sedih melihat anak-anak yang selalu dipukul, diperlakukan kasar, bahkan terkadang mendapat ujaran yang tidak pantas mereka dengar, terlebih kalau hal-hal seperti itu datang dari orang tua mereka sendiri.
⠀
Ya, terkadang begitulah realita yang ada sekarang, orang tua justru malah menyalahkan anak-anaknya kalau keadaan semakin menyulitkan.
⠀
Tolong jangan sakiti mereka. Anak-anak itu adalah penerus generasi bangsa. Generasi masa depan untuk negeri ini.
⠀
Bimbing, temani, lindungi mereka. Biarkan mereka hidup, biarkan mereka bahagia.
⠀
.
.
⠀
Terinspirasi tulisan Maya Septha.
⠀
.
.
@arioagio
Jangan Takut Berpikir
Beberapa hari ke belakang, saya terkena exposure (lagi, dan pasti akan terjadi lagi) terhadap konten yang mengatakan bahwa secara ilmiah Tuhan tidak/belum bisa dibuktikan (maka yang mengklaim adanya Tuhan-lah yang harus membuktikannya) dan bahwa ketika kita berdoa, sebenarnya kita bukan berdoa kepada Tuhan, melainkan kepada subconsciousness (alam bawah sadar).
Awalnya saya anggap angin lalu saja. Tapi, karena sudah beberapa kali, seperti biasa, saya jadi “gatal”..
Bagaimana bisa kita menjadi satu-satunya “binatang” dengan kesadaran diri?
Justru saya tidak mengerti dengan orang yang yakin sekali bahwa Tuhan itu tidak ada. Bahwa Dia hanya konstruksi pikiran kita.
Kira-kira premis dasarnya adalah semesta terjadi akibat rangkaian "kebetulan" yang kompleks dalam milyaran tahun, dan karenanya kita hanyalah binatang yang super pintar--bukan makhluk spesial yang diciptakan suatu kekuatan yang "Maha".
Begini. Kalau kita hanyalah “binatang” yang pintar, bagaimana bisa jarak kepintaran antara manusia dengan binatang manapun sebegitu jauhnya sehingga hanya manusia makhluk yang mampu mengolah bumi ini?
Makhluk terpintar setelah manusia paling simpanse dan lumba-lumba. Dengan segala kehebatannya (echolocation, sistem komunitas), bagaimanapun kecerdasan mereka masih jauh di bawah kecerdasan manusia.
Dari ratusan ribu tahun manusia dan binatang-binatang lain hidup, mengapa hanya manusia yang bisa mengembangkan kehidupannya menjadi peradaban? Mengapa simpanse tidak mengakumulasikan pelajaran mereka dan memiliki semacam peradaban yang mendekati manusia?
Jika self-awareness, consciousness, adalah proses yang terjadi dengan sendirinya, tanpa didesain, diatur siapapun, mengapa terjadi disparitas yang sebegitu jauhnya? Dalam soal fisik saja, misalnya, ada kemiripan antara manusia dengan primata. Mengapa dalam hal self-awareness itu tidak terjadi?
Bagaimana disparitas yang signifikan ini tercipta dengan spontanitas, kebetulan? Bagaimana kamu menjelaskannya, protein-protein tertentu “tidak sengaja” bertemu lalu memunculkan consciousness, begitu? Jadi kalau kita bisa mereplikasi organ atau senyawa yang menghasilkan “kesadaran” atau akal, kita bisa membuat makhluk baru yang mampu mempertanyakan dirinya sendiri dan alam semesta?
Ilmu pengetahuan mengajarkan skeptisisme, kecuali untuk skeptis terhadap kemampuan ilmu pengetahuan sendiri
Saya jauh dari kata ilmuwan, tapi common sense saya berkata: anggapan bahwa kesadaran kita sendiri adalah sesuatu yang “tidak sengaja” tercipta dalam proses evolusi alam semesta, tanpa desain dan perintah siapapun, itu ganjil. Too good, too perfect, to be true.
Memang tidak ada manusia yang bisa membuktikan--dalam kacamata ilmu pengetahuan yang hari ini kita pahami (bisa diindera), bahwa Tuhan itu ada. Tapi, apakah framework ilmu pengetahuan itu sebegitu sempurnanya sampai bisa membuktikan apapun yang tidak bisa kita pahami? Jadi, ketika sesuatu tidak bisa dibuktikan secara ilmiah (lagi-lagi, versi ilmu pengetahuan hari ini), maka BISA DIPASTIKAN sesuatu itu tidak valid, tidak ada?
Mengapa bahkan kita tidak bertanya tentang kemampuan ilmu pengetahuan itu sendiri dalam mengungkap kebenaran? Mengapa kita tidak skeptis terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri dalam memahami seluruh aspek tentang alam semesta?
Jangankan bicara wujud Tuhan, memahami apa itu “infinity” saja kita tidak mampu. Ya, secara literal kita bisa sekadar bilang “tidak terbatas”, tapi coba kamu benar-benar bayangkan suatu ketidakterbatasan. Misalnya, sesuatu yang besarnya tidak terbatas. Ayo, coba.
Kamu lihat bumi yang besar ini setelah di zoom out ternyata ada batasnya. Lalu lihat ruang angkasa, ini saja kita belum tahu apakah ada batasnya atau tidak (ilmu pengetahuan hari ini mengenal konsep observable universe dan unobservable universe--ini benar-benar di luar jangkauan “penglihatan” manusia), tapi katakanlah ada ujungnya meski terus berekspansi.
Sekarang coba bayangkan “sesuatu” yang mengklaim dirinya “Maha”, infinitely, Besar. Kamu zoom out sejauh apapun tidak ketemu ujungnya. Nah, wujud keseluruhannya seperti apa, pikiran kamu bisa comprehend (memahaminya, menguasainya) ngga? Bisa bayangkan ngga seperti apa “tempat” yang bisa meng-contain, memuat, "sesuatu” yang besarnya tidak terbatas itu? Atau coba bayangkan deh, sebuah "area” tanpa ruang dan waktu.
Hahaha, apa itu ruang dan waktu saja kita masih belum benar-benar paham. Tapi begitu yakinnya bahwa Tuhan itu cuma konstruksi pikiran kita, hasil evolusi untuk menjelaskan berbagai fenomena yang tidak kita pahami (hujan, sakit, siang, malam, mati, dll) dahulu kala. Lalu, di era modern setelah kita memahami berbagai fenomena alam, kenapa banyak orang yang masih bertanya tentang kenapa dia diciptakan, apa tujuan hidupnya? Dari mana itu datang? Kira-kira, simpanse dan lumba-luma mampu mempertanyakan hal seperti itu lalu melakukan pencarian? Lalu “mengarang” konsep Tuhan?
Jangan takut berpikir
Kita sering dinasihati untuk "tidak terlalu kritis" dalam beragama, takutnya jadi tidak percaya Tuhan lagi. Menurut saya, justru cara terbaik memahami diri sendiri, agama, dan Tuhan adalah dengan berpikir. Keraguan bahkan penolakan terhadap eksistensi Tuhan sekalipun bisa kita tanggapi dengan santai, tanpa perlu cemas dan malah jadi agresif, karena kita menapaki proses mencapai keyakinan kita secara organik.
Jadi, buat rekan-rekanku yang percaya akan adanya Tuhan, jangan takut berpikir. Jangan takut bertanya. Jangan khawatir bahwa berpikir kritis tentang diri sendiri, alam semesta, bahkan Tuhan, akan membawa kita ke jalan yang sesat. Justru berani berpikir dengan otentik, dengan tulus, dengan benar, akan membuat kita semakin yakin akan kebenaran (yang mungkin awalnya kita terima for granted).
Pendapat saya, kita menjadi tersesat ketika kita begitu yakin bahwa kita sudah tahu kebenaran dari sesuatu secara menyeluruh (completely exhaustive), lalu titik, selesai, menutup kesimpulan. Kita tersesat ketika kita begitu yakin tidak ada lagi yang lebih benar dari tools dan proses yang kita jalani, sehingga tidak ada lagi hasil yang lebih benar dari yang kita dapat. Kita menjadi tersesat ketika kita tidak menerima bahwa lebih banyak hal yang belum dan tidak bisa kita mengerti daripada hal yang sudah dan bisa kita mengerti dengan otak kecil kita ini.
Berpikir adalah jalan kita menemukan kebenaran alam semesta, menemukan Tuhan. Secara khusus, bagi saya pribadi, Islam adalah “tawaran paket memahami alam semesta dan Tuhan” yang paling kompatibel dengan akal. Dan saya percaya, untuk benar-benar meng-install-nya dalam diri kita, kita perlu berinteraksi dengannya dengan berpikir. Bukan memperlakukannya sesederhana daftar instruksi tentang do’s and dont’s (halal, haram, halal haram).
Afalaa yatafakkaruun, afalaa yatadabbaruun, afalaa ta’qilun.
Tidakkah mereka memikirkan? Tidakkah mereka merenungkannya? Tidakkah kamu menggunakan akal?
Wallahu’alam.
-----------------------
Catatan: Ketulusan dan kebenaran dalam berpikir membawa kita berhati-hati dalam memahami apapun. Membuat kita mengerti bahwa banyak hal yang tidak kita mengerti. Jadi, mestinya ini tidak membuat kita jadi belagu untuk menafsirkan Al-Quran dengan pikiran kita sendiri berbekal terjemahan.
Aku cuma mau bilang. Dunia bukan hanya sebatas tumblr. Apalagi lari dari kenyataan dunia nyata dan mencari kenyamanan dari tulisan-tulisan yang ada.
Bangun, dunia membutuhkanmu, hadapi bagai besi yang dibakar api. Ingat, disini adalah ruangmu untuk mengungkapkan kegelisahanmu. Bukan untuk hanyut dengan mudah begitu.
Duniamu tetaplah dunia nyata, dan disanalah ruangmu untuk berbuat nyata. Cukupkan kata-kata disini, dan bertindaklah nyata setelah ini.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Perlu ngga si mereview lagi siapa-siapa yg sudah kita follow? Setelah tempo lalu secara sengaja memfollow akun-akun yg sebenarnya bukan lingkup kita atau ternyata ga ada manfaatnya untuk kita dan secara gak sadar ternyata diri sudah mulai diluar batas(?)
“Seharusnya aku ngga seperti ini”
gitu kira2 lirihan hati.
Karena sudah mulai sadar, bibit ke-iri-an mulai muncul, sesuatu yang seharusnya tdk kita ikuti jadi tau perkembangannya
“ini tuh guna nya untuk apa sbnrnya?”.
“Untuk apa tau segala hal tentang seseorang yg sebenarnya dia ga pernah tau tentangqita?”
Kalau lingkungan itu mempengaruhi pergaulan, jadi sama aja informasi-informasi yang secara ga sadar yang terekam di memori otak kita, juga akan mempengaruhi pikiran-pikiran jernih kita.
Kalau follow akun jualan baju, apa ngga tersuggest untuk beli baju juga(?)
Refleksi Kritis Setahun Pagebluk #9: Penutup
Sepanjang sejarah, manusia tampaknya suka sekali dengan membuat partisi-partisi yang membatasi wilayah dan budaya seperti tembok Berlin, yang akhirnya diruntuhkan bersamaan dengan menurunnya genggaman komunisme di Eropa Timur. Setengah tahun yang lalu, penutupan perbatasan di seluruh dunia boleh nampak sebagai upaya-upaya pencegahan penularan penyakit di permukaan, namun ternyata juga bermakna simbolik yang lebih dalam. Sebelum wabah meledak di seluruh dunia pun sudah terdapat tren untuk menutup perbatasan dan membangun tembok antara dua negara—yang terkenal adalah pidato Donald Trump yang mau membuat tembok antara Amerika Serikat dan Meksiko. Penutupan perbatasan atas alasan medis juga menggemakan pola yang sama dengan penutupan atas dasar politis. Keduanya berusaha memberikan ilusi rasa aman kepada masyarakat yang terkurung di dalam tembok tersebut. Tetapi sebenarnya kedua cara tersebut memiliki kecacatan yang serupa, yakni menutup-nutupi kelemahan pemerintahan yang tidak mampu menanggulangi masalah-masalah yang mengintai dari luar tembok sana.
Menurut Michael Marder, seorang filsuf Kanada, satu-satunya hal yang membedakan respons kita dalam menghadapi krisis pandemi dengan karya-karya fiksi ilmiah popular adalah “tembok” tersebut ternyata sama sekali tidak pejal. Pembatasan-pembatasan yang kita bangun tersebut ternyata lebih mirip membran sel yang organik dan dinamis ketimbang tumpukan batu cadas keras di Tembok Besar China. Sama seperti sebuah sel, sebuah negara yang benar-benar mengurung dirinya sendiri dari dunia luar pasti suatu saat akan mati kelaparan dalam kesepian.
Setelah melakukan refleksi kritikal atas berbagai bidang kajian, diskusi-diskusi seperti inilah yang menurut saya harus dibuat: diskusi mengenai kehidupan dan segala hal yang berkaitan dengan menjalani hidup sehidupnya. Pada akhirnya, masalah ini kembali lagi kepada kita semua sebagai umat manusia untuk memikirkan nasib kita sebagai satu kesatuan unit evolusi, bagian dari alam. Diskusi yang tidak hanya melibatkan umat manusia sebagai manusia, tetapi sebagai penduduk dunia, sebagai pelindung ekosistem. Untuk menyelamatkan kehidupan, kita semestinya tidak terus menerus menyematkan abstraksi atas kehidupan, melainkan menilai kehidupan itu sebagai realitas kontrit yang muncul dari kondisi dan interaksi yang holistik. Diskusi yang peka dan mengakui banyak perbedaan pandangan, diskusi yang menghindari abstraksi atas benda hidup seperti layaknya kelinci percobaan. Kita sebaiknya menghindari cara pandang yang keliru dalam melihat krisis pandemi melalui angka-angka dan data-data mentah yang lalu disebut orang-orang “kematian ribuan orang hanyalah statistik”. Harapannya, setiap langkah dan kebijakan yang akan kita ambil pasca krisis pandemi akan melihat kehidupan sebagai suatu kesatuan yang utuh dan penuh.
Setiap orang memiliki cara pandang dan pendekatan yang berbeda-beda dalam memperkirakan apa yang akan terjadi dalam dunia setelah pandemi. Namun, dalam cara pandang biologi, keberlanjutan eksistensi manusia sepenuhnya diatur oleh kerjasama seluruh umat manusia sebagai satu kesatuan unit evolusi yang disebut superorganisme. Kita dapat memanfaatkan krisis ini dan berpikir kembali mengenai kehidupan kemasyarakatan kita, dan berkomitmen untuk menerapkan prinsip gotong royong yang telah terbukti bertanggung jawab atas keberhasilan manusia atas seleksi alam sepanjang sejarah.
Πάντα υπάρχει λύση, δεν υπάρχει δεν μπορώ και να γελάς ειρωνικά όταν κάποιος σε υποτιμήσει