"Lakuna"
Semak-semak belukar telah memperlihatkan dirinya bahwa sudah rimbun, terpampang jelas tiap-tiap bagiannya tanpa ada sedikitpun sudut yang bercelah. Tapi tidak dengan diriku, yang tampak memiliki rongga pada dada, hingga hati. Sementara isi kepalaku ramai oleh pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban.
Kekosongan ini begitu menyesakkan. Ia menghimpit rongga dadaku begitu lamanya. Dan tiap rintik bening yang menjatuhkan dirinya pada netraku, seakan-akan melarang dan mengutuk aku agar tidak membuka mata. Karena ia bersumpah dan pasti akan masuk ke dalam celahku untuk lebih mendatangkan perih.
Kekosongan ini begitu menyiksa. Lambat laun ia membunuhku. Menarik deru napas dengan sangat kasar, menyeret ragaku menuju kekeringan di tengah dalamnya laut. Menyerangku dengan tetesan air hujan yang deras, sementara aku tak berdaya terlentang di atas tanah.
-Rahl, 6225













