Pikiran jahat yang lewat sesaat
Aku harus berdo'a, atau sekedar mengharapkan, mengsemogakan pada setiap yang pernah menimpa karenamu. Luka-luka, duka-duka, dusta-dusta, dan semua rasa-rasa yang pernah kamu cerca. Hanya kamu diamkan saja, berdiri diatas penderitaanku lalu tertawa diatas perih yang bergemuruh menggerogoti tanpa henti. Mencaci apa yang telah aku beri.
Sangat sekali aku ingin. Masa-masa sulit yang aku lewati suatu saat atau bahkan saat ini juga kamu mengalaminya, merasakannya, tak ada orang yang mencoba mengerti dan memahami, pun tak ada orang mau mendengarkan curahan kepedihan yang kamu rasakan. Cobalah dengan sekuat tenaga untuk menikmati derita, dengan sekuat hati memendam benci, karena kebingungan siapa yang harus dibenci.
Aku bahkan sampai pernah berpikir. Jika saat ini dan suatu nanti kamu tak mengalaminya, semoga saja yang memiliki ikatan darah denganmu-lah yang akan merasakan berlipat-lipat kesakitan.
Lupakan saja. Ini hanya pikiran yang hanya lewat sesat. Merasuk dalam sela-sela pikir kala posisiku sedang diselimuti oleh penderitaan yang begitu getir. Pipi yang dibasahi oleh air mata dan bibir yang berteriak keras sampai aku tak mengenali suara diri sendiri. Maafkanlah, itulah yang yang terjadi. Maafkanlah, itulah keinginan kejiku padamu. Maafkanlah, walau hanya terlihat dalam deretan aksara, catatan ini pernahlah aku ucap sama halnya seperti orang yang sedang membaca. Berdiri dihadapan raga sendiri, lalu memukul kaca yang sedang aku ajak bicara.
Sakit akan hilang jika tak ada yang mengulang-ngulang kejadian penyebabnya. Sakit akan kembali bangkit jika mengungkit-ngungkit kejadian yang pernah menimpanya.
Sesulit inilah. Se-takmudah itulah aku melewati dan menjalaninya selama beratus-ratus hari yang pernah aku lalui. Selama beberapa tahun terkurung dan terbodohi. Jangan terlalu sungkan, itu hanya pikiran sesaatku. Belum pernah aku ucapkan dalam keadaan hati tanpa diselimuti emosi. Hati dengan kesadaran hakiki.
Aku, mencintai aku. Kamu, dicintai kamu. Aku dan kamu, belum bersatu.