Di dalam jenggala yang tak pernah benar-benar bisa ku petakan, ada satu waktu yang selalu datang tanpa diundang—jingga.
Ia tidak mengetuk, tidak meminta izin. Tiba-tiba saja menyusup di sela dedaunan pikiranku, memantul di batang-batang sunyi yang selama ini kupelihara sebagai perlindungan.
“Apa yang kau cari?” tanyaku pada cahaya itu.
Ia tidak menjawab. Hanya memeluk hutan dalam diriku dengan cara yang aneh—tidak menghangatkan sepenuhnya, tapi juga tidak membakar.
Aku terbiasa dengan gelap. Gelap itu jujur, tidak banyak janji. Ia membiarkanku bersembunyi tanpa harus menjelaskan siapa aku sebenarnya.
Tapi jingga… ia membawa kemungkinan.
Kemungkinan untuk dilihat. Kemungkinan untuk merasa lagi. Kemungkinan untuk percaya bahwa tidak semua cahaya akan melukai.
Dan itu justru yang membuatku ragu.
“Bagaimana jika aku kehilangan arah?” “Bagaimana jika terang ini hanya sementara?”
Jenggala dalam diriku bergetar pelan. Seolah tahu, bahwa setiap cahaya yang masuk akan mengubah bentuk bayangan.
Namun jingga itu tetap tinggal. Tidak memaksa, tidak juga pergi.
Ia hanya ada—seperti jeda di antara luka dan pulih, seperti napas yang tertahan sebelum dilepaskan.
Mungkin, aku tidak perlu memahaminya sekarang. Mungkin cukup membiarkannya menyentuh tanpa harus kumiliki.
Karena di antara rimbunnya ketidakpastian, jingga itu mengajarkanku satu hal yang sederhana—
bahwa bahkan di dalam jenggala yang paling sunyi, masih ada warna yang berani datang… meski tahu ia tidak akan selamanya tinggal.




















