This is a joke format made for queer folk who wish to learn Malay gender terminology in mind, but the definitions are both parts very real and fluid. This is also not a prescriptive guide. Many of these terms are reclaimed by the pelangi "queer" community and are only actively used as such by queer people.
Level 1
Pondan, also ponen. A non-masc AMAB. Lembut "soft" is the euphemism used to refer to a pondan. Also used by transfemmes and cis achillean men as a casual term of address, as an insider marker.
Tomboy. A non-fem AFAB. Keras "tough" is the euphemism used to refer to a tomboy.
By default, neither terms assume the sexuality nor transness of the referred person, and thus occupy very large semantic ranges. However, when cishetness is assumed, these gender expressions tend to be considered "inherent" but "controllable natures" in Malay-speaking cultures.
Level 2 Dah makin berkelas kau, nok!
Nonok. A young AMAB who is exploring non-masculinity; specifically, a baby transfemme. Ultimately from the vulgar Javanese word for "vagina". Unfortunately, there is no transmasc equivalent. The derived casual term of address nok is used by queer people.
Level 3 Nilah baru taste mak!
Bapuk. An AMAB who explicitly expresses non-masculinity and is attracted to men. Disputably used to refer to drag queens.
Pengkid. An AFAB who explicitly expresses non-femininity and is attracted to women. Disputably used to refer to drag kings.
These terms lack perfect English matches. Self-identified bapuk and pengkid Anglophones may describe their attraction to people of the same sex as either gay or straight.
Note that pondan and bapuk are used as slurs by outsiders to mean "faggot" or "fairy", and tomboy and pengkid are used to mean "dyke".
Level 4 Mak nampak ke nonok baru tu?
Nyah; collective noun kaum nyah. Transness, or a trans person. This (and related terms) is the "politically-correct" way to refer to a trans person. Ultimately from an interjection meaning "begone!"; as a prefix, used to translate prefixes like un- or de-. Note that this word implies disassociation with one's AGAB. Also used as a term of address among queer people.
Mak nyah. A transfemme person. Literally "mother who left (one's AGAB)". The term of address and pronoun used for elder mak nyah is mak "mother".
Pak nyah. A transmasc person. Literally "father who left (one's AGAB)". The term of address and pronoun used for elder pak nyah is abang "elder brother".
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
kadang kita hanya terlalu takut untuk memberi jarak dan mendamaikan diri kita sendiri. kita lebih memilih untuk memikirkan orang lain atau hal-hal yang tidak perlu.
tapi sebenarnya yang perlu kita pikirkan adalah diri kita sendiri terlebih dahulu. mengisi gelas kita terlebih dahulu agar gelas itu penuh. kita tidak akan baik-baik saja jika memaksakan diri.
terlebih banyak hal-hal besar yang kita lalui. kita bisa mengapresiasi diri sendiri dengan syarat kita paham apa yang sangat kita butuhkan bukan hanya sekadar pelarian.
coba beritahu aku pelangi itu ada di mana || 20.43
Tetesan pertama yang jatuh ke tanah kering selalu membawa aroma yang sama. Bagi Mala dan adiknya, Saga, aroma itu adalah aroma kebebasan, sebuah sinyal untuk berlari keluar dan menengadahkan wajah ke langit yang mulai bernyanyi.
Mereka menari. Gerakan mereka canggung dan kekanakan, diiringi nyanyian sumbang mereka, "Tik, tik, tik, bunyi hujan di atas genting…"
Ibu seringkali hanya bisa menggeleng dari balik jendela, senyumnya adalah campuran antara khawatir dan maklum.
"Sebentar aja, Bu!" balas Mala. Di sampingnya, Saga tertawa, tawa renyah yang hanya bisa dimiliki anak berusia lima tahun.
Ayah yang baru pulang kerja meletakkan tasnya dan ikut tersenyum. "Biarkan aja, Bu. Anak-anak butuh sedikit hujan biar kuat."
Namun, tawa Saga tiba-tiba berhenti. Tubuhnya yang kecil limbung, lalu rubuh di atas rumput basah.
Untuk sesaat, Mala mengira adiknya hanya bercanda.
"De, bangun," katanya, masih dengan sisa tawa di napasnya. Tapi Saga tidak bergerak. Rasa dingin yang tajam mulai merayap di pembuluh darah Mala. "Ibu! Ayah! Saga pingsan!"
Dunia menjadi buram. Ayah membopong tubuh kecil itu masuk, sementara Mala hanya bisa mengikuti dengan langkah gemetar.
Di dalam rumah, di atas sofa, tubuh Saga menggigil hebat. Wajahnya pucat pasi.
Ibu terbirit membawa kompres hangat. Ayah berbicara di telepon dengan suara yang dipaksakan tenang, meminta ambulans.
Mala hanya bisa berlutut di samping sofa, menggenggam tangan adiknya yang terasa sedingin es. "Kamu kuat, De. Ambulans sebentar lagi datang," bisiknya, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Lalu, dalam satu momen yang mengerikan, gigil itu berhenti total. Keheningan yang tiba-tiba terasa lebih memekakkan daripada suara petir. Ibu berhenti mengompres. Ayah menjatuhkan teleponnya.
Ayah mendekat, dua jarinya mencari nadi di leher Saga. Sesaat kemudian, matanya terpejam dan bahunya terkulai. Ibu, dengan tangan gemetar, menempelkan telinganya ke dada Saga. Tangisnya pecah tanpa suara.
Mala tidak perlu bertanya. Ia tahu. Di tengah deru hujan di luar, dunianya baru saja berakhir.
Sejak hari itu, Mala membenci hujan.
---
Interlude: Tahun-Tahun Sunyi
---
Hujan pertama setelah pemakaman Saga turun pada malam yang gelap. Mala terbangun karena suara tetesan di atap, bunyi yang dulu membuatnya bahagia, kini membuatnya tersentak dalam keringat dingin.
Ia menutup telinga, menarik selimut hingga menutupi kepala, tapi suara itu tetap menembus. Setiap tetes adalah pengingat. Setiap deru adalah gema tawa Saga yang tak akan pernah terdengar lagi.
Waktu terasa meregang panjang. Mala hapal betul tanda-tanda hujan akan turun. Kelembapan di udara, bau tanah yang berubah, gerak awan yang melambat. Ia akan bersiap menutup jendela kamar atau menyalakan radio dengan volume keras.
Setiap hujan turun, Mala kembali menjadi anak kecil yang berlutut di samping sofa, menggenggam tangan dingin yang tak akan pernah menggenggam balik.
Hari-hari terus bergulir. Mala tumbuh menjadi gadis yang senyap, membawa mendungnya sendiri ke mana pun ia pergi. Hujan tak lagi berarti tarian, hanya gema dari sebuah kehilangan yang tak kunjung reda.
---
Bab 2: Pelangi yang Lain
---
Suatu sore yang cerah, saat menatap ke luar jendela kamarnya, ia melihat sesuatu yang aneh: sebuah pelangi tipis melengkung di kejauhan, padahal tak ada setetes pun hujan sebelumnya.
Didorong oleh rasa penasaran yang sudah lama padam, ia melangkah keluar. Meninggalkan tatapan heran kedua orang tuanya, ia terus berjalan meninggalkan rumah.
Jalan setapak itu membawanya ke sebuah air terjun tersembunyi di tepi hutan. Kabut tipis menari di udara, membiaskan cahaya matahari menjadi spektrum warna yang lembut.
Sebuah gelembung sabun melayang di hadapannya, berkilauan diterpa cahaya sebelum pecah tanpa suara.
Di sana, Mala melihat seorang pemuda. Ia berdiri membelakanginya, meniup gelembung-gelembung baru yang terbang sesaat sebelum menghilang ke udara senja.
Seolah merasakan kehadirannya, pemuda itu berbalik. Dan saat mata mereka bertemu, ia tersenyum, sebuah senyum yang terasa seolah sudah menunggunya sejak lama.
"Kirain kamu nggak bakal datang," sapanya, suaranya tenang seperti gemericik air di atas batu.
"Kita… pernah ketemu?" tanya Mala bingung.
Senyum pemuda itu melebar, seolah menikmati kebingungan Mala. "Belum," jawabnya dengan nada main-main. "Aku Arka."
Ada sesuatu dari tatapan Arka yang membuat Mala tidak merasa takut. Mereka berbincang hingga senja tiba, tentang bentuk awan yang mengemaskan, tentang warna pelangi yang menawan, tentang hal-hal kecil yang terasa besar ketika dibagikan dengan orang yang tepat.
Malam semakin dekat, Arka mengantarnya pulang dengan sepeda tuanya, melaju pelan di antara jalan yang mulai gelap.
"Bu, aku ketemu seseorang," kata Mala malam itu. Ibunya, yang sedang melipat baju, berhenti. Ia menatap mata putrinya yang kini memiliki binar yang berbeda, binar yang telah hilang bertahun-tahun lalu.
Sejak hari itu, Mala selalu kembali ke air terjun. Bukan lagi untuk pelangi di dasar air terjun, tapi untuk Arka, pelangi barunya.
Tak jarang Mala membawa sekotak bekal untuk mereka santap bersama di tepi air yang jernih. Mereka berbincang tentang segalanya dan tidak ada apa-apa. Arka punya cara berbicara yang membuat dunia terasa lebih ringan, seolah segala beban bisa diletakkan sejenak di atas batu-batu sungai.
Pada suatu sore, kedipan kilat memotong tawa mereka. Awan hitam disertai angin kencang mengisyaratkan bahwa hujan akan segera turun.
Tubuh Mala menegang. Napasnya mulai pendek, dadanya sesak. Kenangan-kenangan lama mulai berdesakan di kepala, Saga yang rubuh, tawa yang terhenti, tangan dingin yang tak bergerak.
Mala dan Arka bergegas mencari tempat berteduh. Mereka berlari ke dalam sebuah gua kecil di balik air terjun. Tapi suara hujan tetap terdengar—menggema di dinding batu, semakin keras, semakin memekakkan.
Jatuh air mata Mala.
"Kenapa kamu nangis?" tanya Arka, suaranya lembut. Tangannya terulur menghapus air mata di pipi Mala.
Mala berusaha menceritakan semuanya, tentang Saga, tentang hujan, tentang bertahun-tahun berlari dari suara yang selalu mengejarnya. Tapi yang terdengar hanyalah isak tangis.
Arka tidak memaksa. Ia hanya duduk di sampingnya, dan entah bagaimana, ia tahu. Ia membiarkan tangis itu mengalir hingga reda, sesekali mengusap punggung Mala dengan lembut.
Setelah beberapa saat, Arka menunjuk ke luar gua.
"Sekarang, coba kamu lihat jatuhan air langit itu." Suaranya penuh kehangatan. "Indah, nggak? Kelihatan seperti air terjun raksasa dari langit."
Mala tercengang sejenak, lalu tiba-tiba tertawa kecil—suara yang hampir asing bagi telinganya sendiri. "Iya ya, kayak air terjun."
"Lihat tuh, tetesannya kayak berlian yang jatuh." Arka ikut tertawa, matanya berbinar melihat Mala tersenyum.
Dan benar—tetesan air hujan itu terlihat menari di udara dingin, memantulkan sisa cahaya sore menjadi ribuan kristal kecil yang berkilauan.
"Ayo," kata Arka sambil menarik lembut tangan Mala yang masih bergetar. "Kita menari di bawahnya."
Mala terkejut. Tubuhnya bergetar, jantungnya berdebar keras. Tapi tarikan tangan Arka yang mantap dan senyumnya yang menenangkan memberinya keberanian yang sudah lama hilang.
Mala mengangguk.
Mereka berdua berlari keluar dari gua, melompat ke dalam hujan yang turun dengan lembut. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Mala menari lagi di bawah hujan. Bukan dengan tawa renyah seperti dulu, tapi dengan air mata yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih ringan.
Sekarang, air matanya menyatu dengan air hujan.
---
Bab 3: Sang Reda
---
Seperti biasa, keesokan harinya Mala kembali ke air terjun. Tapi hari itu terasa berbeda. Pelangi yang biasa menyambutnya tidak ada. Dan yang lebih penting, Arka juga tidak di sana.
Kekecewaan yang tajam terasa di hatinya. Ia hanya duduk di atas batu, memandangi air terjun yang terasa sepi, menunggu sosok yang mungkin tidak akan datang.
Seharian ia menunggu, tapi Arka tak kunjung muncul. Lembayung senja lah yang akhirnya memaksanya pulang dengan langkah berat dan hati yang bertanya-tanya.
Malam itu, sambil memandang tetesan hujan di kaca jendela yang kini tidak lagi membuatnya takut, ia bertanya pada ibunya.
"Bu, seharian ini aku nggak ketemu Arka. Rasanya… aneh. Kosong."
"Rindu, ya," goda Ibu dengan senyum jahil sambil menyisir rambut putrinya.
Mala langsung merona, pipinya memerah. "Bu, jangan gitu dong." Ia mengubur wajahnya di bantal, malu tapi tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
Ibu tertawa kecil. Malam itu, Mala tertidur dengan harapan bisa bertemu Arka esok hari, dan perasaan aneh yang hangat di dadanya.
Malam semakin larut saat Mala mendengar ketukan pelan di kaca jendela. Tak ia sangka Arka berdiri di baliknya dengan senyumannya yang khas.
"Arka! Kok kamu di sini?," sapa Mala girang, membuka jendela dengan tergesa.
Arka hanya tersenyum sambil menyodorkan seikat edelweiss putih, bunga yang tampak terlalu sempurna untuk dipetik dari pegunungan mana pun.
"Buat kamu."
"Makasih," bisik Mala, wajahnya merona. Ia menghirup aroma edelweiss itu, segar dan murni, seperti udara setelah hujan. "Kamu dari mana aja seharian ini? Aku nungguin."
Saat itulah Mala benar-benar menatap wajah Arka. Ada sesuatu yang berbeda...sebuah kekosongan di matanya, tapi Mala memilih untuk menyimpan perasaan itu.
"Aku tahu. Maaf, ya," kata Arka pelan, suaranya terdengar jauh. "Justru karena itu aku ke sini. Aku harus pamit."
Jantung Mala serasa berhenti berdetak. Edelweiss di tangannya terasa tiba-tiba berat.
"Pamit? Kamu mau kemana?"
"Tugasku udah selesai," jawab Arka, matanya menatap langit malam yang menyisakan mendung. "Kamu udah nggak takut lagi sama hujan."
"Hujan? Maksudnya apa? Aku nggak ngerti."
Arka menatapnya dalam-dalam, "Aku nggak sanggup melihat jiwa yang selalu menangis setiap kali Ibuku, sang Hujan, turun ke Bumi," kata Arka lembut. Suaranya seolah datang dari tempat yang jauh. "Dia rindu melihatmu menari dan bernyanyi di bawahnya seperti dulu. Makanya, aku memohon kepada Tuhan agar bisa turun sebagai manusia untuk mengembalikan senyuman itu. Walaupun waktuku tidak lama."
Napas Mala tercekat. Potongan-potongan gambar mulai menyatu di benaknya, pelangi yang muncul tanpa hujan, cara Arka berbicara tentang hujan seolah ia mengenalnya secara personal.
"Jadi… kamu…"
"Ya," potong Arka lembut. "Tapi kamu tenang aja, aku akan tetap jadi pelangimu."
Mala ingin berteriak, ingin menahan Arka, ingin bertanya mengapa semua orang yang ia sayangi harus pergi. Tapi kata-kata itu terjebak di tenggorokannya yang sesak.
Sebelum Mala sempat menjawab, Arka berbalik dan berlari menjauh. Sosoknya bergerak semakin cepat, semakin ringan, hingga akhirnya memudar ditelan kegelapan, seperti kabut yang menyerah pada sinar matahari.
Kriiiing!
Jam analog berbunyi nyaring. Mala terbangun dengan napas terengah-engah dan jantung berdebar kencang.
Didorong oleh firasat yang kuat, ia melompat dari tempat tidur dan berlari keluar rumah, menuju air terjun. Napasnya memburu, kakinya bergerak otomatis melalui jalan setapak yang sudah ia hapal di luar kepala.
"Arka!" panggilnya saat tiba di air terjun, suaranya bergema di antara pohon-pohon. Sunyi. Hanya suara gemericik air yang menjawab, monoton dan dingin.
Rasa panik mulai menjalari hatinya. Ia berlari ke sana kemari, memanggil nama Arka berulang kali, suaranya semakin serak. Tapi tak ada jawaban. Tak ada sosok yang familiar. Tak ada gelembung sabun yang melayang.
Kakinya yang lelah akhirnya tersandung sebuah batu, membuatnya jatuh tersungkur di atas tanah yang lembab dan berbau humus.
Saat itulah ia melihatnya.
Tepat di hadapannya, tergeletak di antara bebatuan basah, seikat edelweiss putih. Segar, tanpa cela, dengan kelopak yang masih berembun, persis seperti yang ada di dalam mimpinya.
Ia mengambil bunga itu dengan tangan gemetar. Ini nyata. Mimpinya nyata.
Perlahan, dengan air mata yang mulai menggenang, ia mengangkat wajahnya ke atas. Dan di sana, melengkung dengan agungnya di langit pagi, sebuah pelangi yang cemerlang menyapanya—lebih indah dari yang pernah ia lihat sebelumnya.
Ia tidak lagi memanggil nama Arka. Ia hanya berdiri di sana, memeluk edelweiss itu erat-erat sambil menatap lengkungan warna di langit. Sebuah senyuman pahit namun damai terukir di wajahnya.
Ia tahu sekarang. Ia mengerti.
Pelangi itu adalah Arka.
Gerimis kecil mulai turun lagi di pagi hari itu, Mala tidak berlari. Ia tetap berdiri di sana, membiarkan tetesan air menyentuh wajahnya, sambil tersenyum pada langit yang mulai mendung.
Dan ia akan selalu disana, menunggu Arka, di setiap hujan yang reda.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Seandainya aku tahu di mana pusaramu. Maka mungkin saja aku bisa berkunjung dan menziarahi mu. Aku ingin mengingatmu dengan caraku sendiri, berkunjung ke tempatmu bukan melupakan. Mengingat bahwa kau pernah ada di perutku. Pernah menjadikan ku rumah meskipun setelahnya kau memilih keabadian...
Maaf aku tidak tahu dimana kamu dimakamkan... Ada banyak hal-hal yang tidak bisa kuingat meskipun berkali-kali kucoba mengingat nya. Katanya otak manusia menghapus beberapa memori yang menyakitkan. Aku mengakui memang, kehilanganmu semenyakitkan itu buatku. Tetapi aku juga mengingat semua memori yang ada kamu, semua lagu dan percakapan kita, semua hal-hal yang kita lakukan bersama.
Aku melakukan ziarah rasa. Aku berkunjung pada perasaan kehilangan mu, juga kebahagiaan ketika kamu ada. Semua yang berhasil kuingat. Kutanggalkan sepatu dan kususuri lorong dan jalan menuju perasaan itu dalam diriku. Aku duduk di nisan yang berisi perasaan yang kutinggalkan. Kudoakan kebaikan untuk kita, segala yang pernah kita lalui itu.
Aku tidak membawakanmu dupa, aku hanya membawa doa. Meskipun tidak banyak yang bisa kuingat (otakku seperti menghapus memori bulan juni tahun lalu, atau juli, bahkan aku sempat tidak tahu waktu). Lalu kuharap kamu baik-baik saja bersama Nabi Ibrahim. Nanti di surga aku ingin menemui mu sebentar. Atau mungkin kita bisa tinggal bersama. Tunggu aku ya...
******
Beberapa hari yang lalu ketika pulang kerja, hujan sudah reda, aku melihat pelangi di langit. Terkadang aku berpikir, apakah hal-hal indah yang tiba-tiba mampir itu adalah kamu yang sedang menjelmanya?. Barangkali agar aku tidak bersedih hati. Entah iya atau tidak tetapi aku tetap tersenyum. Kubiarkan kepalaku membayangkan kamulah pelangi itu. Atau mungkin kamulah jingga atau nila dari pelangi itu. Berbagi ruang dengan warna lain.
Pernah kulihat kupu-kupu biru. Di sebuah pohon tanpa bunga. Aku melihatnya juga. Dan aku tersenyum. Barangkali kamu kupu-kupu atau bisa saja hanya sebelah sayapnya yang indah. Entahlah.... Sulit kubayangkan sesuatu yang indah tanpa kamu disana.
Atau mungkin bunga matahari, yang tiba-tiba merekah indah di dekat kantor. Berjejer hingga beberapa orang berfoto disana.
Atau mungkin.... Bukan semuanya. Karena kamu sudah bahagia di surga. Barangkali saja itu cara Tuhan mengirimkan hal-hal indah agar aku tidak bersedih.
Apapun itu.... Aku sedang memperjuangkan. Andai bisa kuceritakan semuanya. Tetapi tidak.... Aku ingin menikmati nya. Dibalik kesulitan ada kemudahan, ya... Mudah-mudahan segera....
Entahlah hampir tengah malam saat ini dan aku sedang merasa.... Rindu. Entah pada apa. Atau mungkin hanya pada aku.
Karena di lain waktu akan kamu rindukan masa-masa itu.
Saat kamu merindukan momen itu, kamu hanya bisa melihat kenangan di album dan yang tersisa di memorimu, tanpa sedikitpun bisa kembali ke titik itu.
_______________________________________
Hargai setiap orang yang ada di kehidupanmu.
Entah itu menurutmu baik atau tidak
Sebab di suatu waktu kamu bisa saja merindu.
Ia bisa saja pergi tanpa permisi, lalu tidak kunjung kembali.
_______________________________________
Saat berjalan di suatu tempat, tataplah dengan saksama apa yang ada di sekitar, hirup udara segar saat itu, dengarkan cuitan burung yang menemani langkah-langkahmu, nikmati setiap gerak tangan dan kakimu.
Entah di hari itu kamu sedang dalam keadaan baik atau tidak. Setidaknya, momen saat itu teringat jelas di otakmu. Lalu, ketika 3 atau 5 tahun kemudian kau tiba-tiba merindu. Memorimu akan terpanggil dan meredakan sedikit rindumu akan hari itu.