Dalam kehidupan yang keras kadang kita merasa sudah cukup waktu dan ingin segera bertemu Sang Pencipta, namun kadang pula kita terlalu menikmatinya hingga lupa waktu bahkan lupa kematian siap menjemput sewaktu-waktu. Karena ia datang tak kenal waktu, tak menunggu siap atau tidak-siap, tak ada kata nanti, esok hari atau satu minggu lagi.
Ra, kau tahu sudah tiga bulan ini hampir setiap minggunya selalu saja ada berita duka. Entah dari saudara atau dari teman-temanku, dari nenek buyut ku hingga ayah dari sahabatku. Ku rasa tahun ini memang tahun penuh duka, mungkin semacam penginggat bagi kita. Bahwa tak pernah ada jaminan kita akan selalu menghabiskan 70 tahun kehidupan di dunia, mungkin ada jatah yang lebih, ada pula jatah yang dikurangi. Tapi perpisahan yang ada selalu saja tetap terasa kan Ra?
Pernahkah kau merasa Ra, bahwa kematian kadang lebih mendekatkan daripada kelahiran. Saat seorang bayi lahir, orang-orang tak begitu buru-buru berbondong datang ke rumah si bayi, kita bisa menunggu hingga berhari-hari atau bahkan tahunan untuk sekedar bertemu dengan manusia baru itu. Sedangkan kematian yang seolah-olah pemisah itu jadi sebuah ajang pemersatu antar saudara, antar kerabat bahkan sahabat yang sudah lama tak berjabat erat Memang aneh sekali jika ku bilang bahwa mungkin ada anugrah dari sebuah perpisahan, tapi memang itu nyata kan Ra?
Oh ya aku juga berpikir kenapa orang-orang yang ditinggalkan dalam artian kematian itu sering sekali bersedih. Mungkin begini Ra, saat seorang bayi lahir di dunia orang-orang sekitar tertawa padahal sang bayi menangis. Mungkin orang-orang itu sedang menertawakan nasib sialnya sang bayi ini lahir, karena ya meraka sudah tahu bagaimana beratnya hidup disini, di dunia ini. Akhirnya mereka menemukan teman baru, teman senasib yang diasingkan sementara ke dunia yang yaa begitulaaah adanya. Sementara kenapa ada istilah orang yang dipanggil oleh Tuhan katanya tersenyum sedangkan orang-orang sekitar menangis atau hanya sekedar bersedih, ku rasa mereka bukan menangisi sang mayat saja. Tapi menangisi dirinya sendiri yang kehilangan salah satu teman senasib, teman yang mungkin menemani kerasnya hidup di dunia, mereka bukan menangisi sebuah kepulangan tapi menangisi nasib mereka sendiri.
Kematian itu memang tak kenal waktu Ra, tak kenal kata siap atau tidak-siap, bersedia atau tak-bersedia, tak ada kata nanti, esok hari atau satu minggu lagi. Kematian datang saat dia memang sudah waktunya menjemput, memanggil kita pulang, mungkin Tuhan sudah benar-benar rindu atau mungkin pula Tuhan sudah tak sabar menghukum manusia-manusia yang tak tahu malu. Kalau dipikir-pikir bagaimana nasib mereka yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri, apakah memang kematiannya sudah seharusnya seperti itu atau dia memang sengaja memanggil sang kematian untuk sekedar menjemput, mungkin pula ia sudah rindu Tuhan atau ia sudah tak tahan ingin meluapkan segala emosinya dihadapan Sang Pencipta, aku tak pernah tau hal itu yang mana yang benar Ra, tapi bagiku sendirim sepertinya pilihan kedualah yang lebih banyak digunakan sebagai alasan.
Banyak sekali orang-orang yang mungkin sudah muak dan bosan hidup di dunia, memilih untuk memanggil kematian datang lebih cepat dan menghadap Tuhan lebih dekat mungkin adalah cara ia menyampaikan itu semua. Karena seperti yang kau tahu Ra, manusia lain tak akan benar-benar mengerti apa yang kita rasakan. Banyak dari mereka memilih diam saat ada penindasan, banyak pula dari mereka yang memilih untuk bungkam saat banyak ketidakadilan. Saat ada orang-orang yang memang butuh bantuan mereka seolah-olah buta pada itu semua, mereka memilih untuk acuh pada sesamanya, Dan saat orang-orang yang tak kuat lagi menjalani kehidupan ini memilih untuk kembali lebih dulu mereka bukan berempati namun malah mencaci, katanya kurang bersyukur, kurang banyak gaul, kurang dekat dengan Sang Pencipta. Haha, padahal kematian juga salah satu cara mendekat dengan Tuhan kan?
Akupun tak bisa menjamin bahwa aku akan baik-baik saja saat ditinggalkan orang-orang yang ku cinta. Nenek buyutku salah satunya, beliau orang yang begitu hafal denganku yah mungkin sedikit lupa karena memang usianya sudah seabad lebih, tapi ketika ku sebutkan namaku beliau langsung ingat aku anak siapa, bagaimana aku lahir dan besar, bagaimana saat aku menangis meminta sesuatu saat aku kecil, bahkan dengan sekarang tubuhku yang lebih besar dan berisi darinya pun selalu saja dibilang lebih kecil dan kurus, selalu saja ada makanan yang harusnya untuknya itu diberikan padaku, cucu buyutnya. Aku bisa menahan air mataku, tapi aku tetap tak bisa lari dari kesedihanku. Entah kesedihan karena tak ada lagi hangat sapanya saat aku berkunjung atau karena kenapa bukan aku yang lebih dulu pergi dari dunia ini.
Namun ya begitu Ra, entah rasa-rasanya kadang sudah cukup waktuku kadang aku begitu menikmati hingga lupa waktu. Tapi hidup tetaplah hidup kan Ra, sekeras apapun nasib baik dan buruk yang datang kita siap tak siap harus siap kan? Menjalani hidup penuh penyesalan mungkin lebih menyakitkan daripada menangisi kematian kan? Jadi Ra, aku harap kau menikmati hidupmu, dan aku pun akan mencoba begitu. Hidup memang keras seperti katamu, tapi kita harus jadi lebih keras pula kan?