My part of an art trade for a friend 💕 This was fun to draw, I think her characters are lovely and really cute ❤️ Pi and Racun by Nasadinosaurio ✨

#dc#batman#dc comics#bruce wayne#tim drake#dc fanart#dick grayson#batfam#batfamily




seen from United States

seen from Czechia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Vietnam

seen from United States
seen from China

seen from Russia
seen from Türkiye
seen from Russia

seen from Brazil
seen from Brazil

seen from Brazil
seen from Türkiye
seen from Brazil
seen from United States

seen from Germany
seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from Canada
My part of an art trade for a friend 💕 This was fun to draw, I think her characters are lovely and really cute ❤️ Pi and Racun by Nasadinosaurio ✨

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Racun-racun Paling Berbahaya di Dunia
Dia berbicara seolah-olah ingatanku itu tak ada
Padahal dulu pun aku juga ditinggalkannya
Ingin sekali kuteriakkan hingga darah menyembur dari telinganya, dan aku berpaling tanpa peduli apa-apa
Sia-sia, jiwaku terlalu mengasihaninya, ia tetap sesukanya
"Dulu, saat semuanya bisa baik-baik saja, AKU INI KAU ANGGAP APA?"
RANCU DALAM RACUN
Intinya mengelak,
pergi dari kemungkinan yang di-enggan-kan
maunya terbang,
jauh dari dunia yang penuh kehampaan.
Muara meluap, mata air habis
bahkan kata juga melemas malas.
Kerongkonganku kering
kesakitan tak bertuan
mana ambulan?
Ada yang sakit ini,
rancu dalam racun.
— Bandung, A.
Cinta menurut definisiku adalah sebuah racun yang sangat mematikan, kau seperti sengaja meminum racun itu dan melawan untuk mencoba bertahan, sampi kau benar-benar bisa menerimanya di dalam tubuhmu dan saat kau bisa menerimanya kau pun akan kebal dengan racun apapun, dan jika kau tak bisa menerimanya kau akan mati.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Nilai A dan Pengaruhnya Bagi Pertemanan
[Warning! Konten ini mengandung rasan-rasan]
Nilai A itu toxic bagi pertemanan.
Serius!
Gara-gara nilai A, temen yang dulu deket jadi jauh gara-gara cemburu sosial. Yang dulu traktiran pas ultah jadi nggak pernah diajak. Jadi ketus banget kalau lagi diajak kelompokan. Tiba-tiba menang sendiri. Ya Allah... ternyata nilai A bisa segitunya ya buat efek pertemanan. Udah kayak rebutan cowok paling ganteng di kampus. Apalagi pertemanan cewek itu adalah antara lu dimangsa atau memangsa. Ya, nggak semua pertemanan cewek itu begitu strict-nya, tapi, selalu ada aja yang begitu.
Udah paling bener dah temenan sama cowok. Itu pun kalau temen cowok lu nggak macem-macem...
Gue ada cerita tentang nilai A ini. Ini bukan cerita gue sih, soalnya anaknya emang merasa nggak ambis-ambis banget.
Oke, jadi temen gue, sebut saja si Z. Z ini adalah mahasiswi paling visioner kalau gue boleh bilang. Orangnya pinter banget, buat ukuran salah jurusan. Tiap semester nilai A berjejer. Bedanya kalau gue, masih ada nilai B-nya. Buat dia, kayaknya KHS nggak ada cela. Lihat cyber kayaknya kita bakal bertaruh kalau dia nggak ada ceritanya deg-deg ser kayak orang jatuh cinta tiap lihat nilai. Bener-bener dah, buat jurusan gue, anak ajaib kayak dia ini ternyata ada.
Z punya (mantan) temen, namanya D. Si D, ini sebelas dua belas kayak si Z. Cuma bedanya D ini lebih ke rajin dan sedikit ada beler-belernya kalau kuliah. D juga kebanyakan ngomong. Tapi, gue nggak terlalu mengunggulkan si D.
Akhir semester ini ada matkul paling susah. Di suatu kelompok kita dibagi buat ngerjain sebuah sistem komputer, yang nantinya tugas setiap anak dibagi suruh buat codingan ini dan sebagainya. Gue akuin si Z ini pinter hal beginian. Si D? Beler seperti biasa. Di akhir pengumpulan tugas, si D ini nggak bisa dites sama dosen. Lalu nyalahin si Z dengan bersikukuh bahwa si Z ini nggak mau ngajarin. Semua tanggung jawab nilai A ini semuanya ada di Z dan pernah ngadu juga sama dosen gue, tapi, karena dosen gue ngerti si Z ini gimana, akhirnya ditentang gitu aja.
Really?
Malah menurut gue si Z, ini baiknya naudzubillah min dzalik. Telaten kalau suruh nutor anak-anak lain, padahal gue tahu dia nggak deket-deket banget sama temen sekelas di luar gengnya sendiri. Tiap gue bingung, dia selalu ngasih solusi. Gue juga sering diajak bantuin dia nutor anak-anak lain. Pokoknya sama dia, gue ngerasa terus-terusan belajar. Udah baik, pinter pula. Ya, namanya juga orang baik, makanya ada yang selalu nyinyir. Itu udah hukum alam kayaknya.
Nilai A ini bagi gue bisa aja beracun buat sebagian orang, bisa jadi motivasi buat sebagian orang lain. Karena bisa diibaratin nilai A itu uang. Kalau kita dikasih uang banyak, terlena nggak? Tapi, bisa juga motivasi, pas kita tahu kita kekurangan. Akhirnya kita berusaha keras buat dapetin itu.
Tapi, balik lagi... beneran nggak sih kita ngedapetinnya dengan cara ‘halal’? Beneran nggak kita nggak manfaatin orang selama kita dapetin itu?
Banyak banget pengalaman gue tentang nilai A ini. Dari temen gue yang IPK bisa 3,9 hanya gara-gara dia punya temen kelompok yang pinter, dan akhirnya dia ‘numpang’ nama. Ada loh makhluk yang begitu. Ngga habis pikir... Ada juga yang nggak tahu apa-apa, tapi dapet IPS 4.00 bulet-bulet!
Memang gue akuin, kuliah dimanapun itu, kita pasti pengen nilai kita baik-baik aja. Apalagi kuliah di PTN top. Tanggung jawab kita terhadap apa yang diusahain orang tua kita atau mungkin dari duit negara membuat kita nggak pengen itu sia-sia. Menurut gue, temen-temen yang maniak sama nilai A ini berusaha menuhin tanggung jawab itu. Temen gue banyak bangeeet, yang merasa dapat tekanan dari orang tua, temen (yang menganggap kuliah di univ TOP harus pinter melintir), atau mungkin dari dosen. Ya, tapi dapetnya dari cara ‘kotor’ ya buat apa?
Temen gue semester kemarin dapet IPS 4.00 tapi kalau ditanyain atau suruh nutorin temen yang lain plonga-plongo nggak tau apa-apa.
Eh gini loh...
Bagi gue it’s okay lu dapet nilai A dari mana aja. Dari hasil nyolong kek, ngerayu dosen kek, belajar sampe begadang 3 hari, kayang dsb dsb... tapi, sebisa mungkin lu berusaha tanggung jawab dan mantasin diri dapetin nilai A. Nilai A itu ibaratin cowok ganteng, sholeh, tajir, anak indie, jago maen gitar, kalem, dan nggak sombong... tapi dikerubutin banyak cewe yang mungkin latar belakang dan fisik beda-beda (Ya Allah tadi analoginya duit kenapa jadi cowo si:’)) Ketika lu dapetin cowo ganteng itu, lu harus tahu dulu, apa iya gue pantas? Apa iya, usaha gue setara? Ini nggak ada istilah rejeki nomplok ye. Bagi gue rejeki nomplok itu nggak ada. Apalagi buat dapetin nilai A.
Gue selalu mikir ini dengan hati-hati tiap gue lihat KHS gue yang notabene nilai A jejer-jejer rapi, tapi, setelah itu gue lihat diri sendiri. Emang iya, yang kemarin itu, kerjaan gue sebagus itu, sampai dosen ngasih nilai A ke gue? Kira-kira kalau nanti diulangin tentang materi kemarin, gue bisa nggak ya? Gue lupa nggak? Atau mungkin gue nggak ada bedanya kayak temen gue yang IPS 4.00 tapi plongo-plongo itu?
Iya, bagi gue untuk dapetin yang berkilau, effort lu harus sebanding dengan apa yang lu dapetin. Semakin berkilau yang lu dapetin, berarti pertanggungn jawabannya semakin besar. Apakah dengan nilai A yang lu dapetin ilmu lu udah keasah? Makin banyak nggak yang lu dapetin kemarin sehingga lu pantas dapetin itu?
Kita mungkin lupa, pemberian itu sementara. Kita selalu dapetin yang kita mau, sampai lupa setelah kita dapetin itu, semuanya kembali ke awal. Kita lupa tujuan awal dan malah memikirkan diri sendiri. Kita lupa bahwa yang berkilau itu nggak bakal tahan lama. Kebanggan, penghargaan, semuanya itu sementara. Persis kayak pemain bulutangkis yang menangin banyak turnamen, ketika dia naik podium untuk dapetin medali emas, justru bagi dia itu adalah kembali ke score 0. Dia harus kembali lagi ke awal, ikut turnamen lain, menghadapi musuh yang beda lagi. Dan nggak tahu, apakah dia bakal menang atau nggak.
Persis bagaimana cara kita dapetin nilai A tadi. Justru bagi gue, dapetin nilai A, nggak sestrict yang gue bayangin tapi juga nggak mudah. Gue harus ngambil matkul lain, gue juga nggak tahu apakah gue dapat nilai A lagi. Atau malah gue dapat nilai B, atau bahkan E. Bagi gue, nggak ada namanya akhir, semuanya itu kayak muter.
Kita lagi-lagi selalu dihadapin dengan awal yang akhirannya beda-beda.
Bisa jadi lu kemarin dapat nilai A dari temen, lu nitip nama di lembar laporan tugas, tapi besoknya lu berantem karena nilai. Lu cek cok. Lu dibutakan sama yang berkilau sampai melihat diri sendiri, bahwa kemampuan lu ternyata nggak pernah naik-naik. Kan serem bangeet gila!
Ngerti nggak buruknya nilai A itu apaan?
Kita terbuai untuk dapetin itu, sampai kita lupa diri sendiri. Kita lupa untuk meningkatkan kemampuan hanya untuk mengejar harapan orang lain tentang kita, sampai mengorbankan pertemanan, kehidupan kampus layaknya hutan yang dimana kita hidup diantara makan dan memakan. Pertarungan kita sengit di antara itu, sampai lupa upgrading diri sendiri. Sumpah, nightmare banget!
Apa ya...
Nilai itu bagi gue adalah pembuktian diri sendiri. Kemampuan kita diberi standar, terus muncul deh namanya nilai. Nilai itu bisa menjadi selebrasi atas usaha atau mungkin alat goblokin diri sendiri. Sekali lagi, nilai itu kan buatan manusia, standar yang diciptain manusia, untuk apa dibutakan dengan apa yang selalu dibuat manusia? Nilai itu adalah angka yang tercetak di kertas, lagi-lagi yang tahu kita mampu adalah diri sendiri.
Diri sendiri adalah alat judging terbaik yang pernah kita miliki. Lagi-lagi ketika lu sadar telah mendapatkan nilai A, dengan cara yang nggak baik kayak musuhin temen, bikin dosen pusyeeng tujuh keliling, nitip nama ke kelompok lain atau nyontek pas ujian, berarti lu telah membohongi diri sendiri. Kasih tahu orang bahwa IPK lu bagus, tapi, lu sadar lu tuh goblok nggak bisa apa-apa. Sama aja bohong kan?
Miris nggak sih?
Dari mahasiswa tingkat akhir yang pertemanannya semakin sempit karena nilai A
Kamu bisa menjadi racun sekaligus penawar untuk dirimu sendiri. Tidak perlu banyak meratap atas apa yang terjadi. Karna manis tidak selamanya manis dan pahit tidak selamanya pahit.
Berbuat baiklah tanpa mengaharapkan timbal balik, itu akan membuat hatimu lebih lapang saat orang yg diperlakukan baik olehmu tiba-tiba membuatmu terluka.
Selamat malam kehidupan~
“Tapi ada orang-orang yang tidak akan pernah mengakui kesalahan mereka.” katanya.
“Ada orang-orang yang akan memutar setiap cerita kecil hanya untuk membuat diri mereka merasa seperti mereka yang baik. Ada orang-orang yang tidak akan pernah mengubah sikap mereka terhadap dirimu, tidak peduli betapa sakitnya kamu. Dan itu akan menjadi racun dan tekanan untuk berurusan dengan orang-orang semacam itu.”
Dia tertawa sinis dan berkata, “Tentu saja aku mengerti mengapa kadang-kadang, kamu bosan menjadi baik. Ada saat-saat dalam hidupmu ketika kamu bosan menampilkan cinta kepada orang-orang, yang sepertinya selalu menghadang dan membuang semuanya, seperti sepotong kecil sampah.”
Kamu telah berubah. Mereka tidak pernah melihatnya.