sebuah perspektif berbingkai cinta kasih
Saya sering sekali menyampaikan kepada Mama Bapak, bahwa membayangkan menjadi mereka seringkali bikin bulu kuduk bergidik. Entah bagaimana rasanya dititipkan enam orang anak dengan karakter yang berbeda-beda, semua menuntut perlakuan yang customised.
Tetapi Mama Bapak berulang kali bilang, kami berenam akan merasa cukup iri jika tahu rasanya menjadi mereka. In their words, rasanya seperti menonton grup komedi dengan sinergitas dan ide tanpa batas, at least most of the time.
Menurut Mama dan Bapak, tak ada satuan yang mampu mendefinisikan besaran rasa bahagia ketika melihat keenam anaknya sejak kecil hingga saat ini masih sama saling mencintai.
Indeed, kami berenam adalah sahabat terbaik bagi satu sama lain. Kami adalah teman dalam segala hal bagi satu sama lain—main, makan, berpetualang, bercanda, ngobrol tentang hal tidak penting, diskusi ketika harus memutuskan sesuatu yang penting dalam hidup kami.
Kami berenam sangat menghormati personal space masing-masing, physically and emotionally. Tidak akan ada yang memaksa masuk, atau mencari tahu lebih dari yang diberi tahu. Kami juga adalah penjaga rahasia paling setia bagi satu sama lain.
Di saat yang sama, ada intuisi kolektif dan konsensus yang absolut di antara kami, bahwa kami akan selalu ada untuk satu sama lain ketika dibutuhkan, tanpa syarat dan tanpa kecuali, tanpa tuduhan dan tanpa penghakiman. Jika ada yang mendobrak masuk ketika dirasa perlu, ada shared understanding bahwa it's done all out of love.
Tumbuh besar sebagai enam bersaudara yang jarak usianya relatif berdekatan itu cukup sulit. Sangat rentan timbul retakan dalam hubungan interpersonal. Orang tua kami sejak awal menetapkan peraturan, karena hierarki tidak dapat dihindari.
Kakak menyayangi adik, adik menghormati kakak. Semua wajib bertanggung jawab terhadap perannya dalam keluarga. Jika ada konflik, maka akan dilakukan musyawarah yang dipimpin oleh orang tua dan mengedepankan asas keadilan.
Hubungan persaudaraan kami sangat low maintenance; tidak ada tuntutan, tidak ada kewajiban yang dibebankan kepada satu sama lain baik di antara kami maupun dari orang tua. Kewajiban kami hanya satu: untuk saling menjaga dan menyayangi.
Membentuk dinamika yang sehat seperti itu tentu tidak lepas dari cara orang tua mendidik kami.
Di rumah kami, kata “apa” dan “kenapa” adalah kata terlarang dalam merespon pertanyaan atau panggilan antar saudara, tidak peduli dari kakak atau dari adik.
Dulu, setiap Ahad pagi, kami kerja bakti merapikan rumah dan halaman. Mama dan Bapak punya aturan dalam pembagian tugas. Setelah dibuat list pekerjaan, kami dipersilahkan untuk memilih.
Prinsipnya ada tiga. Yang menyukai melakukan pekerjaan tertentu, dipersilahkan memilih pekerjaan itu. Jika satu pekerjaan dipilih oleh lebih dari satu orang, maka yang dianggap paling baik kinerjanya akan diprioritaskan. Setelah semua memilih dan ada pekerjaan yang tersisa, maka pekerjaan tersebut akan dikerjakan bersama-sama.
Dalam operasional rumah tangga sehari-hari, jika ada sesuatu yang harus segera dilakukan atau diselesaikan, maka yang saat itu sedang leluasa untuk melakukan akan mengambil alih, tanpa menunggu atau mengharap yang lain.
Tidak ada saling tagih tugas dan tanggung jawab. Tidak ada pengotakkan untuk anak perempuan dan laki-laki. Tidak ada perlakuan diskriminatif dari orang tua dalam hal apapun terhadap kakak dan adik.
Pola asuh orang tua kami menciptakan rumah yang hangat dan dinamika yang menyenangkan bagi kami enam bersaudara. Bertahun-tahun tinggal terpisah, masing-masing menjalani kehidupannya sendiri dan hanya bertemu ketika waktu mengizinkan, hubungan yang sehat dan kedekatan emosional yang kokoh di antara kami masih terpelihara dengan sangat baik.
Kami adalah suporter terbaik bagi satu sama lain, dalam hal apapun. The six of us simply adore each other.
Lebih dari itu, meskipun karakter kami berenam berbeda satu sama lain, kami semua cenderung konyol. Kekonyolan itu diekspresikan dengan transparan, karena kami tidak dibiasakan untuk tunduk dalam tekanan self-censorship, setidaknya ketika kami berada di rumah atau berinteraksi di antara kami.
Di mata orang tua kami, kami berenam laksana badut, but in an understated way, semakin direnungkan semakin terasa lucu.
Ketika menyadari itu, saya rasanya bisa sedikit membayangkan bagaimana bahagia yang dimaksud Mama dan Bapak.
Alhamdulillah 🤍












