SEBAIK-BAIK TEMPAT MENGADU
Era tekhnologi mengubah segala sesuatunya menjadi lebih mudah, lebih instan, lebih praktis, dan media komunikasi lebih canggih. Berbagai fasilitas dan kecanggihan tekhnologi kita nikmati setiap saat. Sebelum media komunikasi (read:sosmed) ada di permukaan beberapa tahun silam, silaturahim antar sesama tetap bisa berjalan dengan baik, berkabar melalui surat walau harus menunggu surat tersebut sampai selama sebulan dan itu berarti balasannya akan diterima beberapa bulan kemudian. Bahkan di masa Rasulullah kita bisa lihat dan baca di sirah nabawiyah bahwa ukhuwah mereka begitu erat, dipersatukan oleh Allah, berbagai strategi perang mampu dilaksanakan dengan baik dalam musyawarah dan tak adanya sekat komunikasi. Jika mengilas balik perjalanan cerita kakek nenek kita terdahulu, kita akan menemukan bahwa hidup sebelum social media adalah justru sesuatu yang begitu membahagiakan. Hubungan orang tua dan anak yang berjalan baik. Kepercayaan yang tinggi selalu diberikan, belajar bertanggung jawab terhadap sebuah janji (tidak ada chat via wa, fb, twit, untuk saling mengingatkan kita janjian jam berapa, sekarang posisinya dimana) tapi mereka mampu menepati janji, on time terhadap waktu dll. Dan hal yang paling indah adalah sesorang akan tampil menjadi diri sendiri, menyelesaikan masalah secara pribadi, menjadi orang yang tangguh tanpa publik mengetahui permasalahan yang dihadapinya.
Seiring berjalannya waktu, kita hidup di era Social Media bukan lagi hal yang tabuh. Setiap dari kita tentunya memilki beberapa akun social media sebut saja mislanya: Facebook, instagram, twitter, Line, Whatsap, Path) dengan tujuan yang sama “media silaturahim/komunikasi”. Kehadiran social media adalah sebuah berita gembira, bagaimana tidak kita bisa bertemu kembali dengan teman lama yang mungkin puluhan tahun tidak bertemu, melihat aktifitas teman-teman, keluarga padahal berada di belahan benua yang berbeda walapun semua itu hanya di dunia maya. Tak jarang reunian berawal dari saling follow, bahkan banyak yang akhirnya menemukan jodoh dari social media. Berbagai kemudahan yang ditawarkan ini membuat diri terkadang lupa untuk mengontrol diri ketika berselancar di dalamnya. Menyalahgunakan tujuan dari manfaat yang sesungguhnya yang akhirnya beralih pada hal negatif. Mengapa? Karena hati manusia mudah terombang-ambing. Belum mampu untuk menggunakan sesuai tujuannya. Sadar atau tidak, apa yang kita nikmati hari ini adalah semua nikmat dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Pun demikian dengan kaun-akun kita di social media. Suatu hal krusial yang melanda akhir-akhir ini adalah penggunaan social media yang sudah keluar dari tujuan sebenarnya. Kalau boleh saya perjelas adalah “social media menjadi tempat mengadu pertama sebelum Allah”. Fenomena seperti ini bukan lagi menjadi hal langkah dalam dunia social media.
Social media membuat seseorang yang pendiam menjadi berani merangkai kata dalam tulisan,
Membuat sesorang lupa akan privasi dirinya yang seharusnya tidak menjadi komsumsi publik,
Membuat seseorang selalu ingin tampil lebih baik dengan mengupload sebuah foto disertai dengan caption terbaiknya demi mengharapkan like dari para foloowersnya. Membuat seseorang menjadi lemah dengan menshare berbagai permasalahan dan kesusahan hidup yang dialaminya. Membuat seseorang lupa bahwa sesuatu yang di share tidak semua orang menyukai postingannya, Membut seseorang kehilangan jati diri yang sesungguhnya.
Meski kesemua poin tersebut tidak benar, Masih bisa kita temukan seseorang yang menggunakan social media dengan tujuan dan niat yang benar, yang menggunakannya untuk mendaptkan informasi, membagikan informasi penting, silaturahim, atau membatasi waktunya yang sangat berguna dengan sosial media.
Disuatu waktu Allah mempertemukan saya bertemu dengan rekan seorang sarjana Psikologi. Darinya saya belajar tentang pentingnya menjaga privasi. Sudah sejak lama saya juga merasakan hal risih melihat kejadian di beranda social media. Kami sharing dari akar-akarnya. Pemikirannya yang bagus menjadi saya tarik saya berbicara lama dengannya dengan diskusi yang panjang. Hingga kami sampai pada titik kebingungan dan kegelisahan kami “mengapa sekarang sosial media menjadi tempat mengadu terdepan dalam segala hal, di setiap waktu, detik, hampir semua kegiatan kita update di snapgram, wa, fb, twitter, path dll” . Setiap ada masalah kita larinya curhat ke akun kita. Ketika seorang teman menasehati, kita berdalih “loh ini akun saya, kenapa anada yang pusing, kalau tidak suka silahkan di unfriend, gitu aja kok riweh dan berbagai perkataan lainnya untuk membela diri”
Ini nasihat untuk saya pribadi khusunya, pernah tidak kita berpikir bahwa Postingan kita dangat berdampak bagi orang lain. Bisa membuat orang bahagia, sedih, jengkel, bahkan marah. Saudariku, coba kita renungkan, untuk apa publik mengetahui segala aktifitas dan kesibukan kita, Tidak semua yang menjadi followers kita adalah orang yang sayang dan peduli sama kita, bisa jadi sebagian dari meraka adalah para haters kita. Sebaik apapun kita kepada seseorang, maka ada saja orang yang tidak menyukai kita. Rasul saja yang akhlaknya masya Allah, masih dapat musuh dari kaum kafir. Sedangkan kita?? Tidak ada jaminan kita adalah orang yang baik, hanya saja Allah menutup aib kita, sehingga masih bisa memiliki keluarga dan teman yang sayang kepada kita. Kalau dosa itu berbau, maka siapa yang mau dekat dengan kita?? Tidak semua orang yang merespon postingan kita dengan berbagai kalimat tanya adalah orang yang peduli. Peduli dan KEPO/penasaran itu beda tipis. Ada yang benar peduli ada juga yang hanya karena penasaran. Sudah itu cukup.
Andai kita tahu bahwa Allah akan meminta pertanggungjwabawan atas apa yang kita tulis, maka kita tidak akan pernah meluapkan segala emosi yang membuncah dalam dada ke dalam sebuah rangkain pena agar terasa plong setelah dirangkai dengan kata,
Andai kita tahu bahwa Allah melihat semua apa yang kita tuliskan, kita tidak akan pernah menuliskan rasa yang tanpa di dasari oleh cintaNya, mencurahkan keburukan, ketidaksukaan dalam barisan kata yang membentuk sebuah makna tersirat.
Andai kita sadar setiap waktu, bahwa selalu ada malaikat yang ada di sisi kiri dan kanan mencatat segala amal yang dilakukan, kita tidak akan pernah berani membagi segala rasa yanga da dalam hati menjadi konsumsi publik, karena kita tidak akan tahu amalan mana yang akan diterima olehNya.
Andai kita tahu, bahwa Allah adalah sebaik-baik tempat mengadu, tempat bersimpuh pertama dalam segala suka dan duka, kita akan berpikir panjang ketika menekan tombol notification OK sebelum membagikan sebuah postingan.
Nyatanya kita sebagian besar tahu akan hal itu kan??? Kita semua tahu bahwa kelak akan ada peradilan besar sebagai bentuk pertanggungjawaban selama di dunia. Kita masih memiliki waktu dan tenaga untuk mengubah dan mengganti arah rangkaian kata, lalu kita berbenah, menjadikannya sebgai bentuk pengabdian atas nikmat yang diberikanNya.
Rasulullah bersabda : Ingatlah Allah dalam keadaan lapang niscaya Dia akan mengingatmu ketika kamu dalam kedaan sempit.
Maka alangkan bijaknya dan santunnya seorang hamba, jika segala sesuatu dimulai dengan berdoa kepada Allah. Segala sesuatu dimulai dengan pemikiran yang matang sebelum bertindak. Di kala kesempitan dan kesedihan mendera, kita sadar sepenuhnya bahwa tempat mengadu atas segala kesusahan, kebahagiaan, rasa syukur, tempat meminta pertolongan untuk menghilangkan semua duka adalah Allah. Semua makhluk bergantung kepadNya.
Allah memberikan nikmat kemudahan dengan social media, semoga kita mampu belajar bahwa nikmat tersebut diperlakukan sebagaimana fungsinya, nikmat yang tidak membuat lupa bahwa siapa pemberi nikmatNya. Adalah tempat pengaduan terbaik manusia dalam segala kondisi sebelum memanfaatkan fasilitas nikmat yang diberikaNya. Seorang hamba yang bisa mengemas doa dalam setiap detiknya, mengarahkan pikiran dalam bertindak, memikirkan pola perilaku maka akan selamat dalam kegundahana dan kegoncangan jiwa. Sebab, kita tidak khawatir, kita yakin dengan Dzat yang meciptakanNya. Menyadari sepenuhnya bahwa Allah adalah sebaik-baik tempat mengadu dan meminta. Allah berfirman:
Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya) (QS An Naml:62)
Letakkan dahimu, bersujud kepadNya, ulurkan, angkat tanganmu seraya memohon kemurahanNya, memperbaiki prasangka, dan bersungguh-sungguh meminta kepadaNya.
Makassar, Juli 30 th 2017