Tidak ada partai yang bersih, okay fine.
Tapi ada satu gerbong yang kotor dan culas, mengobok-obok konstitusi dan etika.
Simak di sini pakai akal sehat dan secangkir minuman hangat.
seen from China

seen from South Korea
seen from Japan

seen from United Kingdom
seen from Ukraine
seen from China
seen from United States
seen from South Korea

seen from Australia
seen from United States

seen from South Korea
seen from Russia
seen from Japan

seen from Australia

seen from South Korea
seen from United States
seen from Russia
seen from Yemen
seen from South Korea
seen from China
Tidak ada partai yang bersih, okay fine.
Tapi ada satu gerbong yang kotor dan culas, mengobok-obok konstitusi dan etika.
Simak di sini pakai akal sehat dan secangkir minuman hangat.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pertama, ketika ingin menerima sesuatu dengan logika, kosongkan gelasmu—jangan kau penuhi dulu dengan kebencian. Apabila kebencian sudah memenuhi gelasmu maka tidak akan ada fakta dan kebenaran yang bisa masuk lagi, karena gelasmu sudah terlanjur penuh.
Kedua, apabila masih ada pembenaran maka silakan buatlah pembenaran dengan data. Data melawan data, fakta melawan fakta—bukan kau cari kesalahan lain yang tidak objektif, jangan kau buat rasa cintamu dengan makhluk menjadikan dirimu buta akan kebenaran dan keadilan.
Buat yang Penting Jangan Kosong Dua
Buat diri yang capresnnya kalah.
Tapi aku sama sekali kali ga menyesal kalau pilihanku ga menang. Ini bukan hanya sekadar menang atau kalah. Tapi juga tentang memberikan hak suara.
Suara kita itu berharga.
Kita udah melakukan tugas kita sebagai warga negara dengan menjalankan demokrasi. Ada yang menang, ada yang kalah. Setidaknya kita sudah berbuat untuk Indonesia.
Kalau kalah, ya udah jalannya memang begitu. Yang penting kita udah ikhtiar, kan. Hal-hal diluar kuasa kita, biarlah Allah yang memiliki rencana yang terbaik. Kek, ya udah, dinikmati aja siapa presiden yang terpilih. Kalau ga beres tinggal kita teruskan ikhtiar dengan cara kita masing2 yang bisa dilakukan; gugat, kritik, aksi, menulis opini, apapun lainnya.
Kita sedang memilih calon presiden dengan opsi2 terbaik menurut kita. Kita sama-sama tahu, 3 paslon yang ada ngga ada yang bener-bener ideal. Masing-masing punya plus minusnya seperti ramai di media sosial, di pembicaraan antar tetangga, di pasar, di kantor, di jalan, di mana-mana. Tiap kita sudah menganalisis kecenderungan yang paling sedikit mudhorotnya. Tentu tiap kepala perhitungannya berbeda, toleransi plus-minus paslon masing-masing orang berbeda. Ga ada pasangan yang pas, ideal, sempurna. 50:50 umumnya. Jadi kita sudah berusaha, berpikir dan memilih sebaik-baiknya buat Indonesia. Ga ada yang sia-sia. Ya memang begini namanya demokrasi.
Yang penting kita memilih dengan penuh kesadaran. Menimbang segala konsekuensi dan kapabilitas mereka. Bukan memilih hanya karena sekadar ikut-ikutan, hanya karena trending/viral, atau hanya karena hal-hal receh diluar substansi.
Jadi kita pun ga tahu, yang memenangkan pesta demokrasi nanti akan mewujudkan realita yang seperti apa. Ga menutup kemungkinan, bisa juga, kan, yang bukan pilihan kita ternyata kerjanya bagus dan baik. Toh, kita belum lihat kerja nyatanya. Masih bisa kita bantu usahakan dengan doa 😁
Jangan terlalu kaku sama pilihan kita, ingat ini politik. Kita bela setengah mati pakai hati, pakai emosi, eh, dilain waktu mereka bisa jadi bersatu, berkoalisi, dengan retorika alasan yang meyakinkan. Padahal mah ada aja target kedudukan, jabatan, uang, atau lingkaran jaringan, atau memang buat kebaikan(?) Hmmm, sok baik sangka. Politik gaesss, jangan kagetan hah hoh hah hoh. Kita di bawah baku hantam, mereka yang di atas lobi2, bagi2, simbiosis mutualisme, bisa jadi.
Jadi, santai aja. Yang menang biarlah menang. Yang kalah jangan patah hati. Tetap awasi sebagai warga negara yang berdemokrasi. Jangan apatis. Jangan diambil hati apalagi emosi sama rekan sendiri. Besok sudah kerja kembali untuk menghidupi diri.
14/2/24
JOKOWI ALUMNUS PALING MEMALUKAN UGM
“Mendesak Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk segera menghentikan pembahasan RUU Pilkada dalam Sidang Paripurna,” kata BEM UGM.
BEM UGM juga meminta Presiden Joko Widodo menghentikan segala macam cara intervensi terhadap lembaga legislatif, yudikatif, serta partai politik. Tuntutan lain yakni menghilangkan praktik nepotisme dalam seluruh tingkat dan lembaga pemerintahan. Mahasiswa UGM juga menuntut Presiden Joko Widodo diadili atas pengkhianatan terhadap semangat reformasi dan demokrasi yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata.
“Joko Widodo sebagai alumnus paling memalukan UGM telah melanggar jati diri UGM. Maka dari itu, kami segenap anggota BEM KM UGM akan terus berdiri tegak di garis depan perjuangan,” kata BEM UGM.
*) Source: Tempo
Muak banget lihat pembahasan pemilu, kampanye, di timeline sosial media. Apalagi buat orang-orang yang secara terbuka mengumumkan dia mau milih siapa. Boleh nggak sih gak usah bilang-bilang???? Rasanya tuh kayak denger orang lagi ngasih tau warna celana dalemnya apa. Gua gak mau tau dan gak mau denger.
Kenapa sih dunia harus tau? Tau ga sih pemilu di Indonesia itu menganut asas LUBER Jurdil yang R-nya adalah Rahasia?
Pengen banget pemilu cepat berlalu, biar orang-orang fanatik yang mulut dan jempolnya jahat-jahat banget dan julid ini lekas mereda dan menghilang sekalian. Heran banget sama simpatisan kedua belah pihak yang berlebihan banget dalam membela masing-masing calon. Plis deh mereka semua itu manusia, ada kurang ada lebihnya, dan wajar kalau masing-masing dikritisi jadi mbok ya kalau mau membela itu sewajarnya aja.
Terus juga sejujurnya males banget sih kegiatan klaim-klaim semua kerjaan dan naikin eksposur sampe tinggi banget. Waktu itu pernah lihat iklan kementerian tertentu pas sebelum nonton bioskop dan huek banget itu adalah kampanye. Bener-bener gak etis. Itu pake duit negara!!
Jujur aja rasanya kayak lagi liat dua kultus yang saling berebut anggota. Ku yakin sih sebenarnya Indonesia juga bakalan begini-begini aja, nggak akan langsung jadi Macan Asia di tahun 2020, karena ya pasti dua-duanya ditunggangi entah siapa saja dan ada terlalu banyak kepentingan entah siapa yang harus mereka wadahi. Rakyat kecil, rakyat jelata entah ada di prioritas ke berapa belas ribu. Ini politik!!
Yang bikin Indonesia tetap bisa beroperasi ya rakyat-rakyat kecil dan lapar yang harus puter otak dan banting tulang setiap harinya, mikir mau ngapain, menggerakkan ekonomi dengan caranya masing-masing. Orang-orang baik yang bikin komunitas bertujuan mulia yang membantu banyak orang. Orang-orang yang berbagi informasi tentang orang-orang tua yang butuh bantuan di Twitter, saling mengingatkan untuk beli dan membantu kalau nggak sengaja ketemu di jalan. Orang-orang yang nyumbang makanan dan bantuan segala macem, sesaat setelah pengumuman bencana alam di pelosok Indonesia.
Jadi plis lah daripada saling musuhan cuman karena pilihan politik yang imbasnya juga toh gak bakalan kerasa-kerasa banget sama orang di lapisan paling bawah seperti kita-kita ini, mending kita semua belajar untuk bersikap biasa aja. Sewajarnya.
Tapi jangan lupa nyoblos tanggal 17 ya, teman-teman. Gak usah berantem karena masih banyak hal yang lebih penting.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Mari merayakan sebuah pesta bukan sebuah pertarungan. Lakukan dengan sukacita bukan dengan caci maki. Setelahnya syukuri siapapun yang pemenangnya jangan lagi ada pertikaian sesama kita.
Seperti lima tahun lalu......linimasa media sosial yang saya punya (dulu fb dan Twitter) ramai dengan postingan bernuansa hari H Pemilu. Pun hari ini, media sosial saya ramai dengan postingan bernuansa sama *iyalah ya wkwk* menunjukkan bahwa banyak dari kita tidak ingin ketinggalan momen dan berusaha untuk terkoneksi dengan dunia sehingga selalu update.
Setelah ini, semoga polarisasi yang tadinya sangat terasa bisa memudar seiring kesadaran yang tumbuh bahwa memajukan dan membangun negara Indonesia bukanlah tugas pemimpinnya saja.
Kepada Tuan
Kesah kepada petinggi negeri
Demi negeri, demi negeri, demi negeri!
Demikian mereka berteriak, kemudian saling caci.
Saling hujat saling umpat sesama anak kandung Ibu Pertiwi.
Merahku lebih merah, hijauku lebih hijau. Pertengkaran terus meruncing, tak sadar sesama bernasib genting.
Hanya aku, hanya kami. Tak ada kata kita, jauh angan untuk bersama.
Tenang-kah kini kalian di haribaan pertiwi, wahai pejuang sejati?
Lihatlah darah tumpah di ujung pedang kakak sendiri, di mata belati adik sendiri.
Disini, di negeri yang kalian bangun bertaruh mati.
Kepada siapa kini aku mengadu resah?
Ditengah hiruk pikuk dunia yang tak pernah mudah, disaat orang diluar sana adu megah, kami saling adu marah.
Kami terbelah, hanya karena persoalan entah.
Wahai Tuan, demikianlah rupa negerimu kini, negeri elok beradat lestari, telah tersaput kabut syahwat duniawi.