Ucapanku mana yang kau anggap cacian dan makian?
Jujur dengan perasaanku saja selalu berakhir dengan perdebatan bukan? Seolah kau anggap aku lawan
Barulah tangisku pecah, lalu maaf dan hampa yang seperti apa lagi yang harus aku telan?
Maka pada persimpangan mana aku harus temui sesalku?
Bahkan sakitku, apa-apa yang telah aku beri, waktuku untuk menunggu, diam yang kau beri, hancurnya aku, sepinya aku.
Sisanya, terus terang
Semoga tidak ada kebetulan manapun yang mempertemukan kita lagi

















