Hubungan antara Makanan dengan Mustajabnya Do'a
"Sampaikanlah keinginanmu, wahai Sa'ad. Aku akan memohonkannya kepada Allah untukmu". Ucap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu malam itu, setelah Rasulullah dibuat terharu dengan hangatnya perhatian Sa'ad ketika berkhidmat.
Jadi ceritanya malam itu di Madinah Rasulullah merasa gelisah dan tidak dapat memejamkan mata, hingga beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Semoga ada seorang laki-laki shalih dari kalangan sahabatku yang menjagaku pada malam ini". Tak lama kemudian, terdengar suara senjata dari seseorang yang datang.
"Siapa itu?" tanya Rasulullah.
"Sa'ad bin Abi Waqqash, Ya Rasulullah". Jawab Sa'ad.
"Ada perlu apa wahai Sa'ad?" tanya Rasulullah lagi.
"Aku mengkhawatirkan keselamatanmu, ya Rasulullah. Karenanya aku datang kemari untuk menjagamu".
Mendengar hal itu, Rasulullah merasa senang sekaligus terharu.
Selain berinisiatif untuk menjaga keamanan Rasulullah, Sa'ad bin Abi Waqqash juga berinisiatif untuk menyiapkan sebuah bejana berisi air di dekat tempat keluarnya Rasulullah. Sehingga saat nanti Rasulullah bangun untuk qiyamul lail dan keluar dari tempat peristirahatannya, air untuk Rasulullah bersuci atau pun berwudhu sudah tersedia.
Inisiatif-inisiatif dari Sa'ad ketika berkhidmat untuk menjaga Rasulullah inilah yang kemudian menyentuh hati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hingga beliau sendiri yang menawari Sa'ad bin Abi Waqqash untuk dido'akan.
Kalau kita berada di posisi Sa'ad bin Abi Waqqash malam itu, apa yang kira-kira akan kita minta?.
Apakah kita akan langsung menyebutkan keinginan-keinginan yang selama ini menjadi wishlist atau saking bingungnya mau minta apa justru malah jadi speechless?.
Ketika Rasulullah menawari untuk mendo'akan Sa'ad bin Abi Waqqash, Sa'ad hanya meminta dido'akan satu hal saja, namun satu hal itu bisa mencakup semuanya.
"Mintakanlah pada Allah ya Rasulullah, agar setiap kali aku berdo'a, do'aku mustajab!." Demikian pinta Sa'ad bin Abi Waqqash. Sebuah permintaan yang amat cerdas.
Rasulullah tersenyum, lalu mendo'akan Sa'ad bin Abi Waqqash sesuai permintaannya. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda;
"Wahai Sa'ad, Perbaikilah makananmu, niscaya engkau akan menjadi orang yang do'anya mustajab"
Maka sejak hari itu, Sa'ad bin Abi Waqqash benar-benar menjaga dirinya dari memakan makanan yang haram dan syubhat. Ia juga selalu memastikan makanan yang dikonsumsinya adalah makanan yang halal dan thoyyib.
Dalam beberapa riwayat hadits, dapat kita temukan kisah-kisah tentang bagaimana mustajabnya do'a-do'a Sa'ad bin Abi Waqqash. Salah satunya, do'a Sa'ad bin Abi Waqqash ketika difitnah oleh Usamah bin Qatadah, kisahnya bisa kita temui dalam riwayat shahih Bukhari dan Muslim.
Lalu, apa hubungannya makanan dengan mustajabnya do'a?.
Suatu hari di depan para sahabat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan 2 ayat (surat Al Mu'minun ayat 51 dan Surat Al Baqarah ayat 172) yang memerintahkan para Rasul dan orang-orang beriman memakan rezeki yang halal lagi baik. Setelahnya Rasulullah bercerita bahwa ada seorang musafir di padang pasir yang safar dalam keadaan berpuasa, perbekalannya dicuri, lalu si musafir ini juga tersesat di perjalanan. Dalam keadaan terzhalimi, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo'a: "Ya Rabb...! Ya Rabb... ! Ya Rabb....!".
"Tapi bagaimana mungkin do'anya Allah istijabahkan?" Ujar Rasulullah mengomentari, "sedang dalam tubuhnya ada makanan dan minuman yang haram, dalam pakaiannya ada unsur yang haram, dan dalam penghasilannya ada sumber-sumber yang haram?".
Subhanallah! ternyata sebegitu berpengaruhnya sesuatu yang haram menghalangi teristijabahnya do'a.
Padahal si musafir yang tadi diceritakan Rasulullah telah memiliki 4 sebab yang bisa jadi washilah do'anya Allah ijabah yaitu dalam keadaan safar, dalam keadaan berpuasa, dalam keadaan terzhalimi, dan berdo'a dalam keadaan menengadahkan kedua tangannya. Namun perkara-perkara haram yang melekat pada dirinya telah menjadi penghalang do'a-do'anya.
Tidakkah kita mengambil hikmah dan pelajaran?
Bisa jadi, do'a-do'a yang selama ini belum Allah ijabahi, terhalangi oleh makanan yang terkandung di dalamnya unsur-unsur yang haram maupun syubhat. Makanan haram yang tertelan karena ketidaktelitian dalam mengamati ada atau tidaknya label halal pada kemasannya. Makanan dari daging hewan yang tidak disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya. Makanan yang dibeli ditempat-tempat yang bercampur baur peralatan masak dan peralatan makannya, padahal jelas-jelas di tempat itu juga menjual makanan yang haram bagi seorang muslim memakannya. Atau makanan halal tapi dibeli dengan uang yang diperoleh dari cara-cara yang Allah haramkan atau dibeli lewat transaksi yang ada unsur ribanya. Dan lain sebagainya.
Jika ingin do'a-do'amu Allah istijabahkan, maka perbaikilah makanan. Pastikan tidak ada yang haram ataupun syubhat, agar do'a-do'amu mustajab.
wallahu a'lam bishshawwab.