Lucunya, ketika aku marah, reaksiku bukan meninggikan suara atau meluapkan semuanya saat itu juga. Aku justru ingin menghindar. Ingin berjarak sejenak dari sumbernya. Bukan karena aku tidak peduli, bukan juga karena ingin menghukum siapa pun dengan diamku. Aku hanya tahu bahwa ada emosi yang tidak sebaiknya disampaikan saat masih berada di puncaknya.
Aku membutuhkan waktu untuk meredakannya terlebih dahulu. Memberi ruang bagi pikiranku untuk mengejar apa yang sedang dirasakan hatiku. Karena sering kali, ketika amarah datang, semuanya terasa begitu besar. Kata-kata yang biasanya bisa kupahami dengan tenang mendadak terdengar menyakitkan. Hal-hal yang mungkin sebenarnya sederhana terasa jauh lebih berat dari yang seharusnya.
Maka aku memilih diam. Memilih menjauh sesaat. Aku ingin memastikan bahwa ketika aku kembali berbicara, yang keluar bukan sekadar luapan emosi yang sesaat, melainkan sesuatu yang benar-benar ingin kusampaikan. Aku tidak ingin amarah yang hanya bertahan beberapa jam meninggalkan luka yang bertahan bertahun-tahun.
Namun aku sadar, tidak semua orang memahami bentuk marah yang seperti ini. Ada yang menganggap diam sebagai sikap acuh. Ada yang mengira aku sedang menjauh untuk mengakhiri segalanya. Padahal sering kali, justru karena aku masih peduli, aku memilih mengambil jarak. Karena aku ingin tetap menjaga hubungan itu dari kata-kata yang mungkin akan kusesali setelahnya.
Barangkali setiap orang memang memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi emosinya. Ada yang merasa lega setelah langsung mengungkapkan semuanya. Ada yang membutuhkan teman untuk mendengarkan. Dan ada juga yang sepertiku, yang membutuhkan kesunyian terlebih dahulu. Bukan untuk lari dari masalah, melainkan agar bisa kembali menghadapinya dengan kepala yang lebih jernih.
Jadi jika suatu hari aku memilih diam dan mengambil jarak ketika marah, percayalah, itu bukan berarti aku berhenti peduli. Bisa jadi itu justru caraku menjaga agar rasa kecewa tidak berubah menjadi kebencian, dan agar amarah yang sesaat tidak merusak hal-hal baik yang telah dibangun dalam waktu yang lama.
Karena tidak semua jarak adalah tanda ingin pergi. Kadang, jarak hanyalah jeda yang diperlukan seseorang untuk kembali dengan versi dirinya yang lebih tenang.