Hari ini, lembut kicauan burung menemani pagiku menekuri beberapa hal dihari yg lalu
Allah, anugrahkan aku kebijaksanaan dalam menghadapai keadaan
Kemarin, panjang ku kirimkan VN pada kawanku, berat rasanya saat tidak dipercayai oleh tim. Terlebih aku baru bergabung
Selalu berkelebat pertanyaan pertanyaan, "apakah mungkin aku memang tidak kompeten" "Kok yang aku sampaikan disanggah melulu, apakah aku dicap pembohong?" "Kenapa aku tidak dibela, atau sekedar ditenangkan dan bantu menjernihkan pandangan jika memang aku salah?" "Kenapa aku dianggap salah, semebtara yg saat itu menghandle aku? Kenapa beberapa orang keukeuh hanya karena tau saat satu tahun yg lalu? Bukan kah beberapa hal bisa berubah dalam kurun waktu yg ada?
Tak berhenti aku menyalahkan diriku, kekuranganku, dan mulai membuat diriku menciut dalam lubuk hati. Aku tak ingin lagi berusaha membetulkan suatu keadaan, toh tak didengar.
Tapi? Apa perasaanku ini playing victim juga?
Sendu dan tangisan kutahan tahan agar tak terdengar oleh orang-orang diluar kamar. Allah...
Namun, lewat jawabannya aku perlahan menenang. Sekali lagi aku diingatkan bahwa validasi manusia adalah tidak perlu
Mau menuntut apa dari mahkluk yang bahkan tidak adil pada dirinya sendiri?
Lewat VN itu aku belajar, bahwa sudut pandang manusia sangat bisa berbeda. Banyak hal yang menjadi sebab, salah satunya goals.
Misal guru mengaji A punya pandangan bahwa selain pintar dan banyak hafalan, anak anak perlu belajar meng implementasikan ayat ayat nya dalam kehidupan
Si guru mengaji B punya pandangan bahwa selama sianak ini pintar dan banyak hafalannya, berarti goalsnya sudah tuntas
Maka saat dihadapkan pada anak yg misal sudah pintar, hafalan banyak, gampang menghafal, rajin, namun tidak sopan pada guru, atau tidak bisa mengolah emosi nya, atau bahkan tidak peduli pada jam istirahat dan makannya,
Guru mengaji A akan paham bahwa si anak perlu dibantu untuk menerapkan ayat ayat al qur'an dalam bab akhlak, waktu, kesehatan, si anak perlu dibantu untuk perlahan memperbaiki diri
Namun guru B, selama si anak mampu dalam hafalannya, yang lain tidak perlu dipermasalahkan. Target tercapai = cukup
Yaps, perbedaan goals membuat pandangan seseorang terhadap suatu masalah menjadi berbeda.
Selanjutnya, aku belajar, bahwa ketika seseorang atau bahkan banyak orang tidak mempercayai apa yg kita rasa, yang kita dengar atau kita lihat, padahal itu terjadi
Tanamkan pada diri kita, bahwa Allah pasti punya maksud atas hal itu. Kenapa kamu melihatnya sendirian dan orang lain malah memungkiri, Allah pasti punya alasan
Dan PR ku adalah mendapatkan hikmah
Aku diingatkan lagi, bahwa tak ada salahnya memegang prinsipku yang berbeda dari orang lain
Aku juga diingatkan lagi, bahwa melibatkan Allah, menyakini bahwa Allah lah maha menyaksikan dan Allah lah sebaik- baik pemberi balasan.
Bahkam meski satu dunia tak mempercayai apa yang terjadi padamu, Allah masih melihat...