Angka kematian sebagai dampak gangguan mental tak tertangani bagi kaum laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan. Ini tragedi yang menyesakkan apalagi kini banyak terjadi pada anak laki-laki. Fakta dan realitas tak terhindarkan bahwa sejak dulu emosi laki-laki tidak diberi ruang cukup untuk eksis, karena ekspresi kemarahan seringkali disebut pemberontakan; aktualisasi minat bakat seringkali dinilai aneh, tidak relevan, minim dukungan dan cenderung dihakimi; lebih lagi ekspresi kesedihan disebut lemah sehingga dituntut untuk selalu kuat. Tanpa sadar menciptakan kontruksi sosial tak imbang seolah laki-laki itu tidak boleh meluapkan kemarahan, tidak boleh jor-joran kejar mimpi sesuai minat dan bakatnya, tidak boleh sedih apalagi nangis. Ini tak ubahnya mematikan emosi sehingga laki-laki tak bercerita dan berujung pada tindakan-tindakan yang berisiko. Baik-baiklah pada laki-laki, karena laki-laki juga manusia. Apalagi pada anak laki-laki yang ditasbihkan kelak dewasanya menjadi kepala keluarga.

















