Tidak semua manusia yang mempunyai telinga dapat mendengar, dan tidak semuanya yang mendengar.. mampu menjadi pendengar yang baik.
Karena pada halnya, kita hanya butuh Allah Yang Mendengar... Tanpa harus kecewa ketika disalahpahami.
seen from Bangladesh
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Brazil
seen from United Kingdom
seen from Poland

seen from Italy
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Hong Kong SAR China
seen from United Kingdom

seen from Canada
seen from Germany

seen from United States

seen from United States

seen from Maldives
Tidak semua manusia yang mempunyai telinga dapat mendengar, dan tidak semuanya yang mendengar.. mampu menjadi pendengar yang baik.
Karena pada halnya, kita hanya butuh Allah Yang Mendengar... Tanpa harus kecewa ketika disalahpahami.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sebuah keberuntungan yang indah ketika menemukan satu pendengar—yang benar-benar menata telinganya, mengosongkan gelasnya, lantas mencoba paham apa adanya.
Mengingat dunia ini telah riak penuh pun sesak, oleh mereka yang senang berbicara tanpa mau mendengar meski sejenak.
Arief Aumar Purwanto
Kadang perlu lho gak dengerin apa omongan atau nyinyiran orang. Kalau kamu siap berarti kamu hebat karena sudah berani menjadi pendengar yang baik hati dan gak gampang masukin semua ke dalam hati. Baik ambil, gak baik buang. Ya emang gak gampang tapi patut dicoba sih buat ngetes kondisi kuping selalu. Wkwkwk.
Catatan: Tak bisakah dengarkan dulu ceritaku?
Saat engkau mendapati seseorang bercerita kepadamu, janganlah dulu engkau palingkan telingamu tersebab ceritanya tidak ingin kamu dengar. Bisa jadi, perasaannya sedang bergemuruh saat itu, butuh seseorang untuk meredakannya.
Bukan ia tidak bisa mengatasi masalah hatinya, tapi terkadang memendamnya sendiri lebih sesak dan sempit sekali ruang. Maka dari itu, dia memilihmu menjadi pendengarnya dan mengulur sesak di dadanya.
Mungkin bagimu, ceritanya basi dan biasa-biasa saja. Tapi bisa jadi, buatnya, hal tersebut mengganggu tidurnya, mengalihkan fokusnya, bahkan mengurangi rasa makanan di setiap harinya. Tidak ada yang tahu, sungguh.. hati seseorang tidak ada yang tahu.
Ada banyak sekali cara menyenangkan hati seseorang. Semuanya tidak dilihat dari seberapa besar materi yang sudah dikeluarkan untuk menahan air matanya agar tidak menetes, atau berpiring-piring makanan agar perutnya kenyang dan sedihnya hilang. Kamu bisa menawarkan pundakmu, mengelus punggungnya dan mengeluarkan tiga kalimat saja, “tidak apa-apa.”
Semoga Allah mudahkan kita, untuk melakukan sekecil apapun kebaikan.
Jumat, 13 Dzulhijjah 1442.
@khadeejahalfatih
Jangan lelah berusaha menjadi orang yang baik.
Jangan lelah menjadi pendengar yang baik. Meski kadang orang lain tidak mau bergantian mendengarkan.
Tapi menjadi baik bukanlah suatu kerugian.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Lebih Banyak jadi Telinga
Di awal tahun 2020 yang sedang senang-senangnya jadi antagonis ini, ada satu kejadian yang membuat saya secara pribadi hampir mengalami depresi ringan. Hampir di beberapa malam, perasaan menjadi sesak didukung pikiran yang kusutnya melebihi kusut benang jahit. Tentu ini efek berkepanjangan setelah beberapa bulan terakhir berasa di bawah tekanan secara berulang. Penolakan terhadap kenyataan menambah rumitnya diri saya kala itu.
Pribadi saya yang terbiasa mengambil energi dari luar (ekstrovert) membawa saya untuk bisa menyeimbangkan emosi dengan berbagi cerita kepada beberapa teman terdekat. Beberapa diantaranya saya ceritakan sedetail mungkin. Namun yang tidak saya sadari adalah sebenarnya saat itu saya hanya membutuhkan dukungan atas pilihan yang saya pilih, tidak lebih. Apalagi berpuluh-puluh saran yang diberikan si pendengar yang justru pada akhirnya membuat saya semakin rumit dan kusut. Terlebih ketika kebanyakan saran bertolak dengan pilihan yang saya pilih. Lalu jalan keluar ditemukan? Tidak. Jalan buntu? Iya. Sampai beberapa chat dari teman tergantung status "read" begitu saja, lalu saya tinggalkan.
Hingga satu saat saya menyerah dan menulis sebuah postingan kata-kata yang justru membuat saya kaget terheran-heran dengan respon orang-orang sesama pengguna tumblr, notes nya paling tinggi dari sekian banyak postingan saya di tumblr pribadi ini, 34 notes. Wow! Begini isinya:
I don't need a thousand solutions. I only need a support.
Ternyata bukan saya sendiri yang merasa seperti itu :'
Akhirnya saya belajar kembali tentang satu hal menjadi orang dewasa. Menjadi dewasa berarti harus siap menjadi telinga. Tak jarang kita menjadi orang yang di cari orang lain untuk mendengar ceritanya, tapi tak jarang justru kita yang akhirnya menjadi mulut. Lupa posisi bahwa ia yang bercerita membutuhkan dua pasang telinga. Mereka sesungguhnya tak butuh solusi apa-apa dari kita sebagai orang luar, karena ia sudah punya pilihannya sendiri. Mereka hanya butuh dukungan. Kita tak berhak menentukan apa-apa, karena memang dia yang tau alasan atas setiap pilihannya. Jika dia bingung di antara pilihannya, boleh kita utarakan pilihan kita, namun tetap bilang padanya, "pilihan akhir tetap ada di kamu, karena kamu yang lebih tau kondisinya, aku dukung apapun pilihan kamu".
Lalu tinggal tunggu sang waktu bekerja. Setidaknya orang yang bercerita akan tetap merasa dirinya ada. Dan mendapatkan kenyamanan dari orang yang dia percaya. Maka dari pengalaman itu saya kembali belajar:
Kadang kita hanya perlu berhenti sejenak menjadi mulut, beralihlah menjadi sepasang telinga. Karena mungkin itu maksud Tuhan ciptakan satu mulut dan dua telinga, agar kita lebih banyak mendengar ketimbang berbicara.
Bukankah memang seperti itu cara kerja orang bijak? Mendengar dan mendengar, baru berbicara bila memang ia diharuskan untuk berbicara.
Jadi, selamat terus belajar kawan. Kita belajar bersama membuat lingkungan ternyaman bagi diri kita juga orang lain :)
@fadhila-trifani @sekotenggg @gugunm @mathmythic @adhit21
Aku, kamu, dan Dia..,
Ketika kau memberi saran pada teman yang memiliki masalah, yang pertama kali terpikirkan apa, saran, solusi, atau jalan keluar untuk mengakhiri? Atau kau memilih diam dan mendengarkan segala keluh kesah, tanpa memberi arah? Kau membiarkan dia bercerita panjang lebar, kau membiarkannya terisak dengan sendirinya, dan kau membiarkannya yang seharusnya kau memberi solusi kepadanya. Pertama.
Kemudian jika kau yang berkeluh kesah. Apa tujuan pertamamu melakukan itu, mengeluh untuk meminta solusi, mengeluh hanya sekedar untuk didengar, atau mengeluh agar orang yang mendengarkan itu tau? Dan jika orang yang kau berikan keluhan memberimu sebuah saran, apa saran itu benar-benar kau lakukan? Apa jalan keluar yang diberikan benar akan kau jalankan? Apakah yang disolusikan temanmu menjadi jalan keluarmu? Lalu, untuk apa semua itu? Dua.
Dan bagaimana jika kau alihkan semua keluh kesahmu dari hanya sekedar ciptaan kepada yang Menciptakan, apakah jalan ini pernah kau pilih sebagai satu-satunya jalan agar kau dapat keluar dari segala permasalahan yang kau alami? Pernahkah itu terjadi? Atau, itu akan terjadi setelah kau sudah merasa sangat, dan sangat-sangat putus asa terhadap hidup ini? Tiga.
Jadi, bagaimana dengan ketiga tulisan itu? Apa tanggapanmu mengenai hal tersebut, yang mau tidak mau itu bisa terjadi dan kita sendiri yang mengalami? Coba fikirkan baik-baik jalan hidup yang kita lewati, apakah masih berada dalam jalan kebenaran atau sudah berbelok jauh dari koridor dan ketentuan Sang Pencipta Alam?
Coba renungkan, hayati, dan perbaiki.
#Selamat_Memperbarui
Perihal Kata Kerja yang Tidak Semua Orang Mampu Melakukannya
Pernah nggak, sih, kamu punya teman yang kelihatannya pendiam, tapi sekalinya cerita bakal beda banget dari biasanya?
Kalau sudah kayak gitu, mungkin kamu bakal bingung gimana mengatasinya. Kadang untuk sekadar mendengarkan saja, tanpa sengaja sudah nge-judge duluan. Akhirnya, dia nggak jadi cerita, deh.
Hmm.. Nyatanya, mendengarkan adalah sebuah pekerjaan yang nggak semua orang mampu melakukannya. Apalagi secara sukarela, tulus, dan ikhlas.Â
Ada tipe orang yang emang dasarnya suka bercerita, ada juga yang suka memendam isi hati dan pikirannya
Nggak jarang saya nemuin orang yang bisa dengan mudah dan lantang bercerita tentang dirinya. Seolah-olah hidupnya sangat menyenangkan dan dia adalah "center of the rotation of the earth", kadang tanpa sadar dia motong pembicaraan orang lain yang lagi bercerita.Â
Iya, nggak semuanya, tapi ada.
Orang-orang yang awalnya pengen cerita, jadi nahan-nahan, nyari waktu yang pas buat gantian cerita. Tapi waktu yang terbatas membuat dia memutuskan untuk menyimpan ceritanya dulu. Sampai akhirnya dia lupa. Kemudian cerita itu tidak pernah sampai ke telinga orang lain.
Kejadian itu pun terus berulang sampe dia menyimpan segudang rahasia tentang luka, bahagia, sedih, tawa, dan banyak hal yang nggak semua orang tahu gimana rasanya.
Lagi-lagi, tidak semuanya, tapi ada.
Diam bukan berarti tidak ada hal yang menarik untuk diceritakan dan bercerita tentang semuanya bukan berarti tidak ada rahasia
Sayangnya, kadang kita tidak sadar di balik banyaknya kosa kata yang dikeluarkan tiap 24/7Â ada rahasia yang tidak semua orang perlu tahu.Â
Tentang bagaimana dia bangkit dari keterpurukan, bagaimana dia harus menutup mata panda atau kantung mata dengan kaca mata, atau bagaimana dia memiliki banyak akun role play di media sosial sebagai tempat pelampiasan.
Juga, bagi si (nampak) pendiam. Dia hanya sedang menunggu momen. Bukan berarti dia tidak mau bercerita. Sekali mulut terbuka, satu-dua jam bukan waktu yang lama untuk dia mengeluarkan segala ceritanya.
Tapi, jangan sekali-kali memaksanya bercerita karena itu hanya akan membuat dia semakin tidak nyaman.
Menaruh kepercayaan ke orang lain itu butuh nyali. Pun buat bisa dipercaya itu nggak mudah
Mulai dengan pertanyaan yang ringan-ringan. Terkesan basa-basi?
Yaudah, mulai dari kamu dulu. Setelah itu lempar pertanyaan yang sama. Satu pertanyaan bisa beda jawaban kalau itu menyangkut pengalaman, prinsip, dan mimpi.
Kalau dia sudah bercerita lebih dari satu kalimat. Tunjukkan antusiasme kita. Ubah tatapan langsung ke dia. Posisi duduk atau gestur tubuh juga penting.Â
Kalau percakapan lewat chat, tunjukkin kalau kita ada buat dia. Fast Response!
Ada juga yang kadang-kadang dengan sendirinya membuka diri. It's good!
Make a good impression to her/him. Jangan kecewain ekspektasinya dia! Â
Sekali orang bercerita tentang dirinya, itu tandanya dia mulai percaya. Dia pengen kita bisa jadi tempat berbagi cerita bahagia atau bahkan sekadar keluh-kesahnya.
Tapi, kalau dia butuhnya di waktu yang nggak pas gimana?
Di sinilah tantangannya. Nggak semua orang betah mendengarkan curhatan orang di tengah malam.
Apalagi kalau kita mau berangkat tidur, mata sudah tinggal 5 watt, tiba-tiba ada yang manggil nama kita.
Jangankan tengah malam, pas lagi siang hari bolong mata melek aja nggak semua orang bersedia buat bener-bener pay attention sama cerita kita.
Saya pernah denger suatu kutipan yang dikutip oleh seorang podcaster, "Berpura-puralah sampai kamu tidak sadar bahwa kamu sedang berpura-pura."
Iya, coba dengerin aja dulu. Dengerin semuanya dari awal sampe akhir. Balas dengan tanggapan singkat yang menunjukkan seolah-olah kamu mendengarkan.
Terdengar jahat? Hmm.. lumayan sih. Tapi, nggak bisa dipungkiri pada akhirnya kamu akan paham apa yang dia ceritain, kok.
Kadang dia juga cuma butuh pendengar, bukan pemberi saran atau solusi. So, make it simple.
Pencapaian tertinggi seorang pendengar adalah ketika dia mendapat balasan, "Terima kasih ya sudah mendengarkan ceritaku."
Kadang orang merasa insecure lebih dulu sebelum dia berani bercerita. Entah karena takut bakal dapat judgment atau bingung mau mulai dari mana.
Ketika dia sudah memutuskan untuk bercerita. Tandanya kamu adalah orang terpilih. Nggak semua orang punya kesempatan yang kamu miliki. Detik itu juga, kamu bisa mulai menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang bisa dipercaya dan pertahankan itu. Keep it secret!
Kamu akan mendapatkan banyak sekali pengalaman, ilmu baru, dan sudut pandang baru tentang kasus-kasus yang mungkin sering atau bakal kamu temui.
Kalau dia butuh asupan saran dan pendapat gimana?
Gausah ngasih insight yang muluk-muluk. Tanyain ke dia sendiri aja dulu. Toh, solusi yang kita kasih itu dari sudut pandang kita dan (terkadang) hanya akan pas kalau kita yang melakukannya.
Biarkan dia mencari jawabannya sendiri, yang sesuai dengan dirinya. Kamu hanya perlu memancingnya dengan bertanya.
Bagaimana pun, mendengarkan mungkin kata kerja yang terkesan mudah dilakukan. Namun, untuk bisa menjadi seorang pendengar, kita musti tahu bagaimana karakteristik lawan bicara kita. Pahami maksudnya, pahami ceritanya, dan jadi orang paling spesial buat dia.
Sekian.
Salam, 13 :)