Orang hebat dibentuk lewat serangkaian tragedi kehidupan. Tidak banyak meminta pembelaan apalagi pembenaran. Beberapa menutupi kesulitannya dengan motivasi kehidupan. Ada yang menutupi lukanya dengan senyuman. Banyak yang menutupi sakitnya dengan doa tak berkesudahan. Orang hebat akan terus berjuang walau diselimuti segala ketidaknyamanan. Orang hebat adalah mereka yang masih percaya pada kehidupan walau terus digoda rayuan kematian.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
β Live Streamingβ Interactive Chatβ Private Showsβ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Kita tidak akan mengenal ketenangan kalau belum merasakan kecemasan; Kita cenderung tidak menghargai kesehatan kalau belum ditimpakan kesakitan; Kita tidak akan belajar arti kesabaran kalau tidak terlatih menunggu dalam penantian; dan Banyak dari kita tidak menghargai keberadaan sampai kita merasakan pedihnya kehilangan.
Berita perundungan dan pelecehan tak berhenti membuat bergidik ngeri. Bagi beberapa mungkin jijik dan ironi, sementara bagi lainnya mungkin trauma dan sakit hati. Nahasnya apabila pelaku "katanya" cendekia, lebih lagi terjadi di lingkungan civitas academica. Perlu dicatat bahwa di atas rasa malu ada rasa pilu. Tragedi seperti itu jelas memalukan sekaligus memilukan. Kemudian bukan hanya sebuah tragedi, melainkan fenomena yang dilakukan orang "waras" secara sadar dan sepatutnya mengetahui bahwa itu bukanlah sebuah kepantasan. Banyak orang berkualitas ingin di posisi serupa, namun tersingkir karena tidak punya privilese yang sama. Malah mereka yang "beruntung" mempertontonkan kualitasnya yang sama sekali jauh dari kata layak. Tapi bisa apa? Siklusnya berulang. Kalau mau sama-sama jujur, dari dulu juga begitu. Hanya bedanya tidak terekspose saja. Tidak banyak yang bersuara, bahkan mungkin tidak ada. Bukan tidak mau, tapi tidak cukup berani. Lebih lagi trauma, minimnya sumberdaya dan kekuasaan untuk bicara apa adanya. Mengerikan memang, tapi itulah kenyataannya. Jangan dibiarkan!
Jangan berhenti untuk saling mengingatkan. Jangan pernah ragu untuk mengutuki dan memberi kecaman.
Kita masih bisa marah meskipun sudah memaafkan; Kita masih bisa sedih meski sudah merelakan; Dan kita masih bisa kecewa meski sudah mengikhlaskan. Yang terpenting bukan marah, bukan sedih & bukan kecewanya; tapi memaafkan, merelakan & mengikhlaskannya. Marah, sedih, kecewa; itu perasaan yang tidak selesai hanya karena masanya sudah berlalu. Menata hati memang butuh waktu.
Kita bisa menyukai/ mengikuti seseorang dan setuju dengan apapun pilihan/ pandangannya. Begitupun kita bisa tidak menyukai/ tidak mengikuti seseorang dan tidak setuju dengan apapun pilihan/ pandangannya. Namun terkhusus seseorang/ kaum yang terus-menerus mengolah narasi dan informasi menyesatkan, menebar fitnah, menyebar kebencian, menabur perpecahan, berkata jelek dan berbuat jahat; orang/ kaum seperti itu jelas tidak layak untuk disukai/ diikuti. Akan tetapi, manusia pada dasarnya punya kebebasan bertindak dan hak untuk memilih. Untuk setiap pilihan ada konsekuensinya dan setiap tindakan akan ada pertanggungjawabannya. Dalam arti kita bebas memilih untuk setuju/ tidak setuju, tapi kita tidak benar-benar Maha Kuasa menentukan itu baik/ tidak baik. Kita punya kebebasan sebagai individu, tapi kebebasan itu tak bisa seenaknya ditentukan suka/ tidak suka. Kebebasan manusia pada hakikatnya terikat oleh ego, persepsi, opini, agama, hukum, dan universalitas.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
β Live Streamingβ Interactive Chatβ Private Showsβ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Dunia yang tidak ideal ini acapkali dipimpin oleh orang-orang dengan mental yang tidak stabil. Imbasnya kita semua dituntut resisten agar diri tetap terkendali dan tidak terkontaminasi.
Angka kematian sebagai dampak gangguan mental tak tertangani bagi kaum laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan. Ini tragedi yang menyesakkan apalagi kini banyak terjadi pada anak laki-laki. Fakta dan realitas tak terhindarkan bahwa sejak dulu emosi laki-laki tidak diberi ruang cukup untuk eksis, karena ekspresi kemarahan seringkali disebut pemberontakan; aktualisasi minat bakat seringkali dinilai aneh, tidak relevan, minim dukungan dan cenderung dihakimi; lebih lagi ekspresi kesedihan disebut lemah sehingga dituntut untuk selalu kuat. Tanpa sadar menciptakan kontruksi sosial tak imbang seolah laki-laki itu tidak boleh meluapkan kemarahan, tidak boleh jor-joran kejar mimpi sesuai minat dan bakatnya, tidak boleh sedih apalagi nangis. Ini tak ubahnya mematikan emosi sehingga laki-laki tak bercerita dan berujung pada tindakan-tindakan yang berisiko. Baik-baiklah pada laki-laki, karena laki-laki juga manusia. Apalagi pada anak laki-laki yang ditasbihkan kelak dewasanya menjadi kepala keluarga.
Masalah kita adalah tergesa-gesa menilai seseorang dari pengetahuan minim kita terhadap orang yang kita kenali bahkan tidak lebih dari separuh usia kita. Sebelum kita tau, seseorang yang kita nilai itu mungkin sudah melewati separuh hidupnya tanpa kita di dalamnya. Sebagai contoh bagaimana artis dihakimi dengan penilaian ini dan itu sebatas pengetahuan saat dia muncul sebagai "bintang", tapi kita tidak pernah benar-benar tahu kehidupannya sebelum menjadi bintang yang bersinar itu. Berbuat baiklah, sebab kita tidak tau segalanya. Be kind, always.
Saat masuk era digital awal, orang masih posting tulisan atau foto dengan caption yang dibaca. Kemudian tren bergerak ke video youtube yang memasuki masa jayanya sampai muncul berita youtuber menjual akunnya karena audiens mulai beralih ke era short videos. Sangat terasa ketika orang mulai malas membaca tulisan bahkan untuk teks pendek, orang juga mulai malas menonton video panjang. Bagi generasi yang sempat melewati masa-masa penuh bacaan mungkin hanya butuh beradaptasi, tapi generasi sekarang, anak-anak, ini jadi masalah besar ketika atensi mereka sangat tipis bahkan alergi dengan bacaan dan bosan ketika menonton video panjang. Anak jadi sulit fokus, menyimak dan mendengarkan. Kemampuan itu terkikis pelan-pelan sampai muncul fenomena seperti yang terjadi di Amerika: anak kuliah tidak bisa membaca intensif sehingga kurikulum diubah dan standardisasi nilai harus diubah. Semoga ini bisa kembali pulih agar literasi tidak semakin terpuruk, konsentrasi membaca dan menyimak bisa kembali meningkat. Terhindar dari generasi gagal paham dan "sumbu lendek". Meski mungkin tidak akan kembali seperti dulu, tapi kita tidak boleh pesimis pada generasi masa depan.
Kita tidak belajar dari orang "sukses" yang instan. Kita belajar dari orang "gagal" yang terus berjuang untuk bertahan hingga berhasil melewati MASA SULIT yang kelak menjadi inspirasi dan motivasi bagi orang lain.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
β Live Streamingβ Interactive Chatβ Private Showsβ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Sebenarnya dunia ini kenapa? 2026 baru aja mulai, tapi huru-hara terjadi di sana-sini. Dari dalam dan luar negeri, dari komunal sampai urusan personal, ada aja riuhnya. Bagaimana pura-pura tidak tau, trennya terbaca di media sosial dan kanal-kanal media pada umumnya. Cara menyikapinya pun macam-macam. Ada yang cuek, ada yang ikut aktif berkomentar, ada yang terbawa pikiran sampai larut dalam emosi dan perasaan, dan reaksi lain yang relevan bagi masing-masing orang. Soal politik, ekonomi, sosial, kemanusiaan, perang, bencana sampai isu kiamat selalu ramai dibicarakan. Tak pernah basi dan up-to-date! Siapa yang tak mau tau pun akhirnya mendengar juga, mau tak ikut campur pun terbawa juga. Kita tak benar-benar memilih mana saja yang bisa kita ikuti, bisa muncul begitu saja. Disinilah kita perlu menyadari dunia tak bisa dikendalikan, dunia tidak ramah dan selalu tidak baik-baik saja. Tahun lalu, dulu, kini, seterusnya, akan selalu begitu. Ledakan informasi membuat segalanya menjadi tanpa batas. Tinggal kembali pada kita untuk membuatnya berbeda di tengah dunia yang terus menggerakkan kita menjadi orang yang sama; yakni sama-sama dijejali ledakan informasi tiada hentinya.
Tidak ada yang bisa kabur dari maraknya berita ini dan itu. Apalagi dengan mudahnya akses internet disana-sini. Kita tidak bisa memilih apa saja yang ingin kita dengar dan kita lihat. Sekalipun ada filter yang bisa kita gunakan untuk menyaring informasi yang kita terima, tapi kadang bisa bocor juga. Tidak ada fitur sempurna untuk membuat kita tidak tau apa-apa. Kita tidak bisa menolak untuk tau, karena dunia sekarang membuat kita untuk selalu terjaga. Suatu fakta yang kita jalani setiap hari dimana dunia bergerak dari yang dulu sebatas alam nyata, kini merambah alam mayaβmedia sosial. Bukan salah siapapun, bukan salah internet ataupun media sosialnya, bukan salah penyedia ataupun pengguna, tidak ada yang salah karena memang zaman terus berubah. Dunia terus berputar dan kita semua hidup. Dilematis bagi manusia yang tidak boleh pasrah tapi justru terus terbawa arus. Sayang sekali kalau dunia yang singkat ini membuat kita ikut-ikutan. Bukan karena kita mau, tapi dipaksa ikut campur. Tidak buruk, tapi tidak baik juga. Baik-buruk kembali pada individu masing-masing, tapi aku pribadi merasa dunia memicu cemas dan panik. Semoga ini hanya perasaanku saja, tapi kalau beberapa merasakan hal yang sama: semoga kita bisa saling menguatkan satu sama lain. Kesadaran itu juga penting, kita kenal diri sendiri dan tau keadaan sekitar kita. Modal penting menjalani kehidupan yang tidak ramah adalah kita tidak berusaha menutup-nutupi perasaan kita.
Aku respek dengan orang-orang yang mau jujur tentang pikirannya. Lebih salut lagi dengan mereka yang mau jujur tentang perasaannya. Dengan apa yang terjadi, tentang semua ini, segala sesuatunya, kita tidak pernah sempurna memegang kendali diri. Lebih lagi mengendalikan dunia yang luas ini, kita tidak mampu. Akan tetapi dengan jujur tentang pikiran dan perasaan kita, jujur pada diri sendiri bahwa kita tidak sedang baik-baik saja, kita merasa gelisah, marah, benci, suka atau tidak suka, mau dan tidak mau, itu membuat kita jadi manusia seutuhnya. Aku selalu ingin memuji siapapun yang berhasil bilang kata capek atau lelah. Sebab ada banyak yang gengsi atau malu mengakuinya. Memaksakan diri untuk selalu optimis dan sempurna justru membuat kita terlihat rapuh. Manusia biasa tidak bisa menjadi dewa dengan kemampuan supernatural, juga bukan nabi yang punya mukjizat, apalagi tuhan yang mengatur segalanya. Kita kuat karena kita bisa tau batas diri. Dan ini penting di zaman sekarang ini. Membatasi dari apa yang kita dengar dan kita lihat, membuat batasan agar tidak mudah tertarik arus ini dan itu sehingga tidak menjadi kelompok sekadar ikut-ikutan. Pujilah diri jika berhasil menerapkan hal itu.
Aku ingin bilang bahwa tidak apa-apa jika misal kita melipir sejenak untuk berhenti. Tidak apa-apa kalau kita ingin istirahat lari dari riuhnya dunia. Tidak apa-apa kalau merasa butuh ruang untuk sendiri, juga quality time dengan teman, keluarga, pasangan, termasuk juga melepas penat dengan bermalas-malasan, sah-sah saja selagi perlu. Kita yang tau apa yang dibutuhkan. Di alam media sosial sekarang pun tidak masalah untuk rehat sejenak, nonaktifkan semuanya, berhenti berselancar di alam maya, tak terhubung koneksi internet, dan tak ikut serta dalam percakapan di ruang publik. Dunia akan tetap bergerak meski kita tak melihatkan diri di dalamnya. Bukan lari dari tanggungjawab, tapi memilih untuk tidak haus pujian dan kebal dari penilaian orang lain yang kadang merasa lebih tau dari kita sendiri. Berbuat baiklah pada diri kita sendiri, karena kalau bukan kita yang melakukannya niscaya tidak akan pernah ada yang melakukannya. Teman? Sahabat? Keluarga? Pasangan? Mereka semua tidak akan pernah selalu ada untuk kita. Mereka juga sibuk sendiri. Mungkin terdengar pesimis dan egois, tapi begitulah kenyataan dunia yang tidak ramah. Sebagaimana ku sampaikan di awal, bahwa dunia tidak baik-baik saja; selalu tidak baik-baik saja. Hiduplah; bernapaslah.
Dunia ini bisa terdengar rancu dan terasa kejam saat memberi kabar justru dibilang cari perhatian, bercerita dibilang berlebihan, meminta tolong dibilang tak punya kekuatan, menangis dibilang meratapi kesulitan, marah dibilang tidak sabaran, diam dibilang tidak meminta bantuan, sebaliknya meminta bantuan justru diolok-olok katanya tak bisa mengatasi masalah sendirian. Lalu kita harus seperti apa kalau usaha bertahan hidup malah mendapat penghakiman dari mereka yang lupa caranya memanusiakan manusia. Apakah memang takdir kita untuk mati sendirian?
Alam juga bisa marah. Dia memang tidak bercerita, tapi sekalinya bicara diluapkan lewat bala bencana. Mencintai alam sama dengan mencintai diri sendiri. Semua produk kehidupan berasal darinya. Jangan cari perkara! Sadar/ tidak, suka/ tidak suka, seringkali manusia memicu kerusakan segala sesuatu.
November adalah Bulan Kesadaran Kesehatan Mental Pria. Laki-laki disebut tak bercerita, tapi mirisnya justru tau-tau menggila. Ini bukan lagi candaan, melainkan fenomena tragis ketika di lapangan didapati fakta banyaknya lelaki menghilangkan diri bahkan nyawanya sendiri. Sampai kapan kita pura-pura tidak tau bahkan tidak peduli? Apakah harus terjadi pada orang terdekat lebih dulu atau orang yang kita kasihi? Atau justru terjadi pada diri sendiri? Duh, jangan sampai itu terjadi! Jadi tanggungjawab dan bagian dari kesadaran bersama untuk saling menjaga, mengecek satu sama lain, memantau, memeriksa dan memerhatikan juga saling peduli dimulai dengan cara sederhana. Tidak slalu lewat tindakan progresif, bisa dengan cara sederhana seperti: "Apakah kamu baik-baik saja?". Sepele bagi beberapa orang, bahkan dianggap konyol dan dramatis; seungguhnya hal yang dianggap sepele, konyol dan dramaris itu bisa jadi sangat berarti bagi mereka yang berjuang dalam sunyi. Mereka yang sesak oleh persoalan yang dipendam sedemikian rupa hingga tak sanggup bercerita. Sekadar bertanya kabar saja, itulah harapan sekaligus alasan untuk tetap hidup. Ibarat tali kusut yang sama-sama diurai dengan empati dan kepedulian tanpa penghakiman dengan manusiawi, sebab kita manusia yang tidak terbuat dari tulang baja atau hati platina. Kita semua punya titik lemah, di saat bersamaan punya kekuatan nurani yang yang membedakan dengan makhluk hidup lainnya. Pedulilah sesama, terkhusus pria dengan beban stigma. Kita hidup di dunia yang sama. Jangan sampai terlambat menyadari apalagi menyesali sampai semuanya terjadi. Kita juga tidak pernah tau akan seperti apa ke depannya. Berbuat baiklah. Hidup adalah rollercoaster tanpa tiket; wahana yang tidak dibuat manusia dengan titik henti. Satu-satunya penghentian itu adalah kematian. Hiduplah; jangan mati sebelum hari kematian itu tiba. Berjalanlah, teruslah berdiri; kita saling menyuarakan apa yang kita amini.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
β Live Streamingβ Interactive Chatβ Private Showsβ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Trauma adalah sesuatu yang nyata dan tidak ada cara mengobatinya, karena kembali ke masa lalu untuk mencegah/ memperbaikinya jelas tidak akan pernah bisa dilakukan.
Perundungan adalah kanker yang merusak manusia penuh prestasi melalui tangan hina yang tak mampu membuat karya. Kiranya diri tak bisa membuat orang lain bahagia, maka jangan membuat orang terluka; apalagi tersakiti hatinya. Stop bullying!