Untuk sejenak, biarkan aku bersandar dibahumu yang nyaman itu. Biarkan hatiku cukup lapang melepaskan sandaran yang sudah terlanjur membuatku terbiasa menjadikannya tempat ternyaman untuk ku melepas lelah dan bahagia. Izinkan aku sejenak, meresapi makna yang tersirat dari ucapan terakhirmu.
Waktu yang singkat dalam memadu banyaknya cerita yang telah kita bagi bersama, saat semua orang sedang terlelap, namun kita dengan riang dan sendunya tengah asik mengobrol tentang banyak hal.
Ingatkah? Dahulu, kamu sering membacakanku dongeng agar aku segera terlelap. Namun dalam lelap, sebenarnya aku tengah asik mendengarkan suaramu yang sudah serak karena sedaritadi bercerita tentang banyak hal. Menurutku, suaramu saat itu adalah nada yang paling aku suka dan selalu aku rindukan. Karena, dari seraknya itu menandakan kamu tengah serius untuk membuatku merasakan kalau kamu benar-benar bersedia ada untukku. Aku jatuh hati padamu saat itu. Bagaimana denganmu?
Tapi, kita juga tidak selamanya jatuh hati bukan?
Ada masa dimana kita berhenti saling menengok, namun kita tetap kembali menyatukan langkah. Kembali berjalan berdampingan, berlari bersama, dan terjatuh bersama. Saat lelahpun, selalu ada bahumu tempatku bersandar. Terimakasih, karena pada saat itu kamulah yang paling sering menguatkan aku.
Banyak hal darimu yang rasanya tak bisa untuk aku relakan. Aku, terus-terusan berusaha untuk menyamai langkahmu yang kini semakin melaju cepat. Sedangkan, aku mulai tertinggal sedikit demi sedikit. Dengan dada yang sesak karena ekspektasi dan rindu. Dengan aku yang menanti waktumu untuk memahami aku. Kitapun mulai tak seirama.
Ditengah-tengah kebingunganku, aku mulai mempertanyakan kemana dirimu? Atau aku kah yang hilang dan tersesat?
tak sekali-kali kita seperti ini, dan kita mulai memupuk ego satu sama lain.
Kenapa kita tidak memupuk kebahagiaan kita satu sama lain seperti dahulu?
Aku terus berusaha bertahan. Menjelaskan sedikit demi sedikit tentang perkara diantara kita. Namun egomu terus menikam kesabaranku. Aku mulai letih menahan perihnya. Tapi, tetap saja aku mempertahankanmu sekuat mungkin seperti itu, namun kau juga pasti paham bahwa aku tak selamanya kuat untuk bertahan.
Dan akhirnya, kita memilih pergi.
Apakah aku sebegitu menyulitkannya bagimu untuk dipahami? Atau akukah yang masih kurang dalam memahami kamu? Sungguh, aku hanya ingin merasakan rasanya dimengerti sama seperti aku mengerti kamu.
Apakah tak bisa kau pertimbangkan, dengan mengingat-ingat kembali hal-hal bahagia yang kita lalui? Atau ucapan itu harusnya untuk aku?
ucapkan bisakah kita memperbaiki segalanya? Padahal hatiku yang masih mempertahankan keberadaanmu ini sedang memberontak dan berselisih dengan pikiranku yang meminta untuk mengakhiri pertahanan ini.
Baiklah. Jika memang harus berakhir kembali seperti orang asing,
Terimakasih untuk segala bahagia dan sendu yang telah kamu beri, untuk sandaran hangatmu yang selalu berhasil memulihkanku, untuk cerita dan candamu, untuk suara dan tawa mu yang selalu menjadi favoritku, untuk banyak hal yang telah mengubahku menjadi sosok yang lebih positif.
Tanpa mengenalmu, mungkin aku tak akan seperti saat ini.
Terimakasih, karena pernah menjadikanku bagian darimu.
Dan, maaf untuk segala hal yang membuatmu tak bisa bertahan untuk ku :)
Aku masih sangat mencintai mu. Kuharap, kehadiranku juga membawa makna yang baik untukmu, menjadikanmu lebih bijak dan dewasa, agar kelak saat kau temukan sosok lain, kau mampu membimbingnya lebih baik dan mampu memahami orang tersebut lebih dari aku yang memahami mu. See you when i see you again :) 984KM