Subjektif; Prinsip-prinsip Hidup
Ternyata benar, kalau kita tidak tahu hidup dibawa kemana, jalannya akan mudah teralihkan.
Istilahnya kalau tidak punya tujuan hidup, maps nya pun bingung arahnya kemana, ambil jalan yang mana.
Aku merasakan ini baru-baru saja.
Kala bingung-bingungnya menentukan arah hidup (tumbuh dewasa memang penuh kebingungan kah?) semakin bingung karena masih sempat-sempatnya membandingkan dengan pencapaian orang lain.
Temanku yang itu tiba-tiba daftar pasca sarjana,
Temanku sebelah sana sudah bekerja bahkan sebelum diwisuda, sebentar lagi menyiapkan pernikahan
Temanku sebelah sananya lagi bahkan sudah siap melepas kewarganegaraan Indonesia
Sementara aku bertanya-tanya, aku bersiap-siap apa ya selama ini? Aduh, ini bahkan baru lingkup WhatsApp, belum Instagram yang konon katanya lebih menjadi sumber keminderan.
Sampai, aku menemukan jawabannya.
Benar, aku sendiri yang tidak tahu hidupku dibawa kemana.
Aku sendiri yang belum teguh pendirian pada segala percobaan. Aku sendiri yang mau enaknya saja, tapi enggan pada susahnya. Aku sendiri mengunggah keberhasilan di sosial media dan menyembunyikan patah-patahnya sendirian.
Bisa jadi mereka juga..
Pontang panting dan aku tidak tahu; Gagal berulang kali dan aku tidak tahu; Patah hati sampai depresi dan aku tidak tahu,
Aku tidak tahu
Aku hanya tahu hidupku
Sudah seharusnya aku fokus pada hidupku: hal-hal yang ingin aku dapat, ingin aku bagikan, hal-hal yang bisa aku usahakan.
Sudah seharusnya aku menyusun prinsip hidup, agar kedepannya kabar-kabar hebat mereka tidak menggoyahkanku. Alih-alih membuatku bersyukur karena pernah satu lingkaran yang sama dengan mereka.
Iya, ayo kita susun prinsip-prinsip hidup itu.
Tolong doakan aku yaaa ππ»
@ffahraa












