Subjektif; Meromantisasi Arafah
laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa 'ala kulli syai-in qodiir
“Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).”
Diantara banyaknya inspirasi doa-doa untuk dipanjatkan yang-mungkin-kita tidak pernah terpikirkan untuk minta dan mohonkan sehari-hari.
Tetap mintalah hal-hal yang sesuai kebutuhan kita, sesuai hajat kita.
Bukan karena doa yang menjadi inspirasi itu tidak baik, bukan. Hanya saja ketakutan setiap orang berbeda. Dan pada setiap ketakutan itu kita layak meminta ditemani oleh Allah.
Diantara banyak doa yang lantang dimohonkan, Allah tetaplah Yang Maha Mendengar, Maha mengetahui. Allah tahu doa yang malu untuk kita minta, yang tidak sanggup kita tulis, yang hanya bercokol di hati. Allah tahu, Allah lihat.
Maka dengan 99 nama Allah itu, jangan lupa minta yang paling besar, yang paling mahal.
Akhirat. Surga-Nya. Keringanan hisab. Ditutupnya aib. Dihapus nama kita dari neraka. Menjadi barisan orang-orang yang berjihad fii sabilillah. Kematian yang baik.
Karena remeh sekali kalau hanya meminta remah duniawi-yang nilainya hanya setetes dibanding lautan- ketika kita tahu Allah punya surga Firdaus.
Minta agar kita dijadikan orang-orang yang beriman. Agar kita diberi prasangka yang baik terhadap Allah.
'Kalau dikabulkan maka baik urusan duniaku sebab permintaanku diridhai oleh Allah, namun kalau tidak dikabulkan maka lebih baik lagi karena aku dilindungi dari permintaanku dan semua doa yang tidak dikabulkan di dunia, dihimpun di akhirat.'
Ini juga pengingat untuk aku, kalau mimpinya besar, jangan lupa sertakan akhirat di doanya. Agar segala lelah di dunia tidak berakhir sia-sia. Agar aku bisa pulang, benar-benar pulang ke tempatku berasal. Surga.