Seminggu terakhir ini menjadi hari-hari yang cukup melelahkan. Di tempat kerja, ataupun di rumah. Di tempat kerja, beberapa dari kamiย โdialihtugaskanโ untuk fokus pada penjualan, ketimbang penggarapan dan produksi naskah buku. Editor dan layouter dan designer kudu meluangkan waktunya untuk ikut berkeringat di gudang kantor. Virus yang lagi singgah di negeri ini kelewatan memang. Ia cukup punya power untuk membuat kegiatan perekonomian terjeda. Entah sampai kapan. Kami tentu kena imbasnya. Kegiatan distribusi berhenti, toko-toko buku besar tutup sampai waktu yang entah. Kami dituntut untuk kerja lebih keras, menyumbang ide yang lebih bernas, untuk kestabilan makhluk yang bernama omset. He-he-he.ย
ย Dan akhirnya, beginilah; saya dan beberapa kawan harus alih tugas menjadi tukang kemas paket kiriman, ikut menata isi gudang yang belum sepenuhnya rapi. Ya mondar-mandir, ya angkat-angkat buku berkardus-kardus.
Kami, bagaimanapun lebih beruntung dari mereka yang direnggut mata pencahariannya. Alhamdulillah sajalah. Tuhan memang Mahakaya dan rezeki setiap makhluk di kolong langit sudah terjamin. Begitu kata orang bijak yang sedang kenyang.
Kalau hari beranjak sore, sekira pukul empat, kami akan menyudahi kegiatan maskulin kami. He-he. Setelah itu beberapa dari kami akan merasa terbebas, dan merayakan kebebasan itu dengan bermain gim, petik-petik gitar sambil menyanyi, dan setelah itu tentu saja kami pulang.
Saya yang baru saja dikaruniai putri cantik, tentu saja menanti-nanti waktu pulang. Ishana, putri cantik saya itu, sangat berkontribusi mengobati lelah saya dengan senyum manisnya. Ia anak manis yang dianugerahi kedua mata yang cerlang.
Tapi seperti yang saya katakan di awal tulisan ini, hari-hari terakhir ini cukup membuat saya (dan istri tentu saja) penat dan bersabar hati. Saya mungkin memang sedang diajari bentuk nyata kesabaran. Meskipun saya tahu, ini bukan dialami kami semata. Semua orang tua, muda ataupun tidak lagi muda, pernah mengalaminya. Dan saya merasa harus terlihat tegar di depan diri saya sendiri, sebab malu rasanya kalau harus mengeluh. Ya, cukup terlihat tegar saja. Dalamnya? Ya tetap sambat, lah! Itulah fungsinya kataย โaduhโ, kan? :D
Ishana, putri cantik saya itu, mungkin sedang mengalami masa-masa krusial. Ia selalu terbangun di atas jam dua belas, menangis kuat-kuat sampai bikin hati saya terenyuh dan kedua mata saya pedih. Istri saya malahan sudah nangis sentrup-sentrup. Tadi malam lebih parah lagi, saya baru bisa tidur jam setengah empat pagi.
Entah apa yang tengah dialami Ishana. Beberapa mengatakan kalau anak saya sedang sawan, tapi dia juga sudah beberapa hari tidak buang air besar. Salah satu kerabat bilang, itu hal yang wajar. Bayi adalah malaikat kecil yang masih sensitif, dan alam akhir-akhir ini memang sedang bergejolak.
Ishana, seringkali baru bisa tenang jika saya yang menggendong dan menyelawatinya. Istri saya butuh waktu yang agak lama untuk menenangkannya. Itu sebabnya saya mesti ikut andil menggendong-gendong, mengayun-ayun dia sampai matanya tertutup. Dan itu butuh waktu yang tidak sebentar. Jadilah saya mengayun-ayun dia sekitar setengah-satu jam, sambil perhatikan kedua matanya yang selalu melihat ke arah langit-langit rumah, atau ke arah dinding.
Kalaupun tangisnya disebabkan oleh makhluk-makhluk tak kasat mata, tentu saya tidak terima. Masalahnya, saya bukan anak indigo dan tidak bisa melihat mereka sebagaimana saya melihat perempuan cantik dengan jelas.ย
Kalau saya bisa lihat demit dengan terang, dan kalau memang Ishana ribut saban dini hari karena mereka, tentu sudah saya tangkap leher mereka, dan saya kremus sampai jadi abu.ย
Tapi syukur sajalah, untungnya tidak bisa.