Sudah sekitar seminggu, salah satu muridku tidak masuk sekolah daring dengan alasan tidak ada perangkat, karena HP hanya ada dua dan dibawa kerja oleh orang tuanya. Aku mencoba untuk memberi tahu pihak sekolah, supaya menindaklanjuti hal ini. Sebelum itu, memang ibu dari muridku ini pernah bercerita terkait dengan kondisi keuangan keluarganya. Hanya saja, aku belum berani bercerita, sebelum ada konfirmasi dari keluarga muridku ini.
Pihak sekolah dengan tegas menyuruh untuk mengusahakan membeli HP, karena bagaimanapun juga pembelajaran sekolah harus diprioritaskan. Akupun dengan berat hati menyampaikan hal tersebut kepada wali muridku, supaya ada kejelasan.
"Maaf, sebelumnya saya pernah cerita ke njenengan tentang kondisi ekonomi kami. Semenjak pandemi ini, pekerjaan ayahnya tidak stabil, beliau bekerja menjual mainan di sekolah. Semenjak sekolah tutup, ayahnya bekerja sebagai ojek online. Maaf, kondisi keluarga kami saat ini memang sedang tidak baik-baik saja, jika ada rezeki lebih sebenarnya ada keinginan untuk membelikan hp. Tapi jujur untuk saat ini kami tidak mampu untuk membeli hp lagi, kami lebih mementingkan memenuhi kewajiban kami membayar uang SPP agar tidak pernah terlambat", jawab si ibu.
Ketika membaca pesan dari ibunya, air mataku bercucuran. Aku mengingat kembali memori sebelumnya, saat seringkali kudapati muridku ini berada di masjid, di rumah tetangga, di sekolah dimana tempat ibunya bekerja, juga di warung kopi untuk mencari wifi. Aku selalu mencoba untuk menguatkannya saat mem-video call satu persatu muridku,
"Tetap semangat ya. Semoga Allah memudahkanmu".
Dia mengiyakan, berterimakasih dan sambil tersenyum. Tersenyum pahit. Aku tahu, dibalik itu dia pasti lelah, dia sedang tidak baik-baik saja. Tidak mudah bagi anak seumuran dia di jaman sekarang ini, untuk lari kesana kemari demi mencari wifi. Bersekolah di tempat yang notabene perekonomian teman-temannya menengah ke atas, sedangkan dia harus bertahan dengan kondisi keluarganya.
Ayah ibunya yang banting tulang untuk mencukupi biaya hidup, termasuk uang SPP yang tidak murah. Tentu ini bukan hal yang mudah bagi dia untuk bisa mengerti kondisi kedua orang tuanya. Dia sempat mogok, tidak mau masuk sekolah. Mungkin dia lelah, mungkin dia ingin seperti teman-teman lainnya, yang rumahnya difasilitasi wifi; yang dengan mudah membeli kuota; yang dengan mudah mengikuti pembelajaran, saat selesai bisa langsung merebahkan punggungnya di atas kasur. Mungkin kepalanya sudah dipenuhi pertanyaan "mengapa", yang tak kunjung mereda.
Sebagai wali kelas, aku mencoba meyakinkan hal ini pada pihak sekolah, untuk membantu muridku. Dengan pertimbangan, bahwa ia adalah anak yang aktif, rajin dan pintar. Dia selalu bersungguh-sungguh untuk belajar juga menunaikan amanah-amanahnya. Keesokan harinya, alhamdulillah ada yang berkenan meminjamkan HP juga membelikannya kuota untuk pembelajaran daring.
Masa pandemi ini mengajarkan kita untuk sabar dan terus bersabar dengan ujian masing-masing. Menangis dan meminta hanya kepada Ia, Pemilik Semesta. Mudah bagi Allah memberi hal-hal yang tidak disangka, entah itu berupa nikmat maupun ujian. Ujian bisa menjadi nikmat tersendiri, ketika kita lapang menerima. Hati akan lebih tenang, ketika kita paham bahwa value of life seorang muslim ialah dari Allah dan kembali untuk Allah.
Semoga Allah berikan kita rasa mudah untuk tetap bersyukur. Semoga Allah kuatkan langkah kita. Semoga Allah memudahkan kita untuk menghadapi semuanya.
Sidoarjo, 17 Februari 2021 | Pena Imaji