#Hikmah Menikah Part Sekian..
Dulu aku sangat takut Kehilangan Pekerjaan karena menikah , dulu aku sangat khawatir akan berhenti berkarir karena memiliki anak.
Dan Allah telah mentakdirkan apa yang aku takuti. Setelah keguguran aku kembali diberi kehamilan sakit2an yang terpaksa membuatku harus melepaskan pekerjaan yang kucintai. Melepas dengan sedikit buruk sangka... kupikir rezekiku akan berkurang setelah berhenti bekerja. Kupikir rumah tanggaku akan kurang sejahtera dengan hanya 1 orang yang bekerja. Kupikir aku tak bisa bahagia jika kehilangan cita2.
Memutuskan resign dengan belum murninya niatan karena Allah, tetapi demi keluarga.
Kupikir Allah mengambil sesuatu dariku namun ternyata Dia hendak memberi sesuatu yang jauh lebih besar.
Setelah resign rezekiku tidak berkurang, Begitu banyak perempuan menikah yang lebih hebat diluar sana yang lebih pantas dan kompeten namun Dia memilihku dan memberiku kesempatan yang tidak disangka2 untuk berkarir di rumah dengan Mudah.
Setelah resign rezekiku bertambah, bukan hanya perkara harta , tapi juga waktu luang untukku ibadah, belajar agama, dan quality time bersama keluarga. Sesuatu yang jadi mimpi semua perempuan yang bekerja di luar sana.
Setelah resign ternyata bukan hanya rezekiku yang bertambah tapi juga rezeki suamiku, dan anak-anakku. Dulu waktu kami berdua bekerja, kami mengontrak rumah, sekarang suamiku sudah mampu membelikanku rumah. Bahkan awal2 menikah kami cuma mampu menyewa sepetak kamar kost dan sekarang kami memiliki tempat kost. Dan aku merasa beruntung bahwa anak2ku tidak kekurangan waktu serta kasih sayang dariku, aku beruntung bisa mengajari mereka pelajaran dasar untuk kehidupan seperti baca tulis berhitung. Aku beruntung menjadi orang pertama yang mendidik mereka tentang tauhid, mengajari mereka membaca Al-Quran dan membimbing mereka menghafalkan 1 juz pertamanya bahkan ketika mereka masih kecil padahal aku bukanlah seorang hafidzah... Semua ini murni karena pertolongan Allah
Namun tentu, semua tidak berjalan mulus begitu saja. Tidak tiba2 menjadi bahagia dan seindah ceritanya ... Itu hanya penggalan2 yang telah dipilah2 bagian terbaiknya untuk diceritakan. Ada harga yang harus dibayar, ada perjuangan yang harus dilakukan dan pengorbanan yang harus direlakan.
Pada intinya ... Iman pada taqdir merupakan salah satu perkara utama, boleh jadi kita tidak menyukai taqdir yang Dia pilihkan pada awalnya, namun ketetapan Allah pastilah yang terbaik dan terkadang butuh waktu setahun, sepuluh tahun bahkan lebih untuk mengetahui sebuah hikmah. Karena bukan hikmah namanya kalau langsung kelihatan ... makanya kita harus berusaha terus baik sangka.
Jika menikah kita lillah (karena Allah), billah (dengan pertolongan Allah) dan fillah (diatas syariat Allah) maka ini akan mampu mengembalikan tujuan pada fitrahnya. Sehingga banyak pepatah ulama jika ingin memperbaiki diri… Mulailah dengan menikah maka rasakan itu menjadikan hidupmu lebih mudah. Maksudnya bukan akan hilang masalah, karena justru masalah lebih kompleks pada org menikah, tapi mereka yang menikah akan lebih tenang hatinya sehingga lebih mudah lulus dalam masalah lebih mudah mencapai sakinah dan lebih mudah mendapat rahmah
Meski setelah menikah adakalanya mimpi2 berganti, hingga kita harus mengatur ulang rencana dan cita2.
Doa-doa ditunda karena Allah tahu itu bukan yang terbaik bagi kita, atau karena kita belum siap, dan belum mampu mana kala doa tersebut dikabulkan. Juga mungkin harapan2 kita selama ini memiliki banyak kemudharatan. Allah teramat sayang pada hambanya. Allah tahu tapi Dia menunggu
Adakalanya juga Allah merubah arah yang salah, sesuatu yang belum kita persiapkan. Ditakdirkan menjadi milik kita atau jalan hidup kita tanpa disangka - sangka. Semata-mata karena Allah percaya kita pasti akan sanggup memikul tanggung jawabnya...
Rencana Allah dulu ... Baru rencana kita. Rencana kita menyesuaikan dengan rencana Allah. Ditempatkn dimanapun kita, dalam kondisi apapun yakinlah itu yang terbaik dan disanalah Dia perintahkan kita berusaha, berdaya, dan berkarya.
Tidak perlu kita iri dengan jalan cerita orang lain.
Allah membagi amal dan pahala kepada hamaNYA sebagaimana Dia membagi rezeki.
Sekarang tinggal, sekeras apa usaha kita bertaqwa dan ikhlas menerima ketetapanNya, yang menjadikan diri kita layak untuk segala yang terbaik di mataNya.
Pada orang yang masih memertanyakan kesalihannya sendiri seperti aku saja, Allah berkenan menunjukan kuasanya dengan memberi banyak hikmah indah. Bagaimana semua ini akan bekerja dengan kalian yang istiqomah beribadah ? Dengan orang yang penuh prasangka sepertiku saja Allah tiada mematahkan harapan dengan meringankan banyak beban. Bagaimana hal seperti ini akan terjadi dengan kalian yang sepanjang hidupnya tetap tawakal dan berbaik sangka kepadaNYA? Bila Dengan orang yang pernah keliru niat saja, yang taat nya masih sebatas usaha , yang masih sering khilaf dan berbuat dosa, yang masih kurang syukur dan sabarnya sepertiku Allah masih berbuat baik. Lantas bagaimana terhadap kalian yang telah terbiasa ikhlas dan selalu bertaqwa terhadapNYA??