Sëhnšüchť - Rinduku pada Fatamorgana Semesta
Aku terbangun, membuka mata perlahan, menyambut pagi yang terasa berbeda. Sejuknya udara menelusup masuk, lembut menyentuh kulit dan menenangkan hati. Ada sesuatu yang membuat pagi ini lebih segar, lebih tenang daripada kemarin.
Ah, kini aku ingat—suara derasnya hujan yang menimpa bumi tadi malam telah menjadi lantunan lembut, yang menuntunku menuju tidur lelap.
Hampir pukul 23.30 WIB, mataku masih tak kunjung terpejam dengan isi kepala yang masih ramai berteriak dan bercerita. Bergandengan tangan, berkeliling, melompat dan berputar-putar tiada henti dan arah. Tak ada yang bisa aku pahami dari keributan isi kepala ini. Semua terasa sangat riuh dan aku tak tahu apa sebenarnya yang diinginkan para pengunjuk rasa di kepalaku ini. Sering kali rasa lelah itu datang, setiap pengunjuk rasa ini beraksi di kepalaku. Mereka memaksa aku berhenti, mendengarkan, dan kembali bertanya pada diriku sendiri: ‘Ada apa sebenarnya?’ ‘Apa yang ingin mereka tunjukkan padaku?’ ‘Mengapa?’. Namun nyatanya, tanpa perlu pemicu, tanpa perlu alasan apa pun, mereka tetap bisa bergemuruh di dalam kepala, berteriak tanpa suara, mengguncang tanpa henti, hingga meninggalkan rasa berat di kepala ini.
Sesaat, rintik hujan jatuh beriringan, mengetuk atap kamarku dengan nyaring, seakan memainkan melodi yang hanya bisa kudengar di keheningan malam. Perlahan menjadi nyanyian merdu yang mengalun di telinga mengalahkan kebisingan di kepala. Sesekali, gemuruh petir terdengar, menyelipkan nada sumbang di tengah nyanyian hujan yang semula merdu. Seolah alam sengaja menambahkan ketidaksempurnaan dalam simfoni malam. Namun seperti itulah simfoni langit yang seharusnya disajikan untuk bumi, bukan? Nada itu terdengar sumbang, namun justru nyata. Seperti pengingat bahwa keindahan selalu disertai retakan kecil, bahwa bahkan lagu alam pun tak pernah sepenuhnya sempurna. Dalam ketenangan irama hujan, gelegar petir akan memeluk kesunyian itu, seiring dengan kerinduan yang diam-diam tumbuh di dalam dada.
Mataku masih separuh tertutup, meski udara yang menyeruak dari jendela kamar terasa begitu menyegarkan. Ya, aku membuka jendela dengan mata yang masih setengah terpejam, masih bergelut dengan fajar yang terjebak di kelopak mataku. Ada dingin yang datang bersama embun, perlahan menyusup dari lubang jendela menggelitik hidungku, seolah membawa pesan rindu yang tak pernah sampai. Terasa sangat damai, tapi mengapa dadaku terasa begitu berat? Kepalaku mendadak sunyi tanpa suara, dan tiba-tiba telinga kiriku dipenuhi dengungan hebat, sebuah isyarat getir yang membuatku semakin sadar bahwa aku tengah terjaga, bukan bermimpi.
Tanpa peringatan, seketika aku digerogoti oleh perasaan asing yang merambati dadaku. Menyelubungi hati seperti kabut pekat yang enggan pergi, terasa menyerupai bayangan rinduku yang tak sanggup kusebut namanya, entah bagaimana dan siapakah dia sebenarnya— bagai rinduku pada fatamorgana semesta.