SAJAK RUANG DAN WAKTU
Rupanya, jarak telah melakukan tugasnya dengan sangat baik.
โPernah ada satu musim di mana aku merasa seperti terjebak dalam sebuah labirin tanpa udara; sebuah titik sunyi di mana suara tidak lagi memiliki gema, dan cahaya seolah enggan singgah. Kala itu, setiap tarikan napas terasa seperti pinjaman yang harus dibayar mahal. Aku memilih diam, bukan karena tenang, tapi karena tidak tahu bagaimana cara menerjemahkan sesak yang begitu riuh.
โNamun, waktu adalah penyembuh yang paling sabar. Ia tidak terburu-buru, namun pasti.
โKini, aku berdiri cukup jauh dari labirin itu. Jika aku menoleh, aku hanya melihatnya sebagai sebuah noktah kecil di kejauhanโsebuah tempat yang pernah kutinggali, namun bukan lagi rumah. Aku sudah mampu menunjuk sudut-sudut paling kelam di sana tanpa lagi merasa gemetar. Ternyata benar, luka akan kehilangan taringnya saat kita sudah mampu menjadikannya sebuah hikayat. Ia tidak lagi menjadi badai, melainkan hanya sekadar catatan kaki dalam sebuah buku yang bab-bab indahnya baru saja dimulai.
Segala yang pernah terasa menyesakkan kini luluh dalam penerimaan yang teduh. Aku memahami bahwa ada skenario yang lebih besar dari sekadar keinginanku, dan aku cukup kuat untuk menjalaninya.
โLayar lama telah tertutup. Sekarang, biarkan aku menulis tentang fajar yang baru. Tentang langkah-langkah yang akan searah, tentang pengabdian di balik seni kecantikan yang sedang kutuju, dan tentang janji-janji pada diri sendiri yang kini mulai kutepati satu per satu.
~Ruangsenja













