Apakah Ini jalan aman? - Part 1
Akhir-akhir ini aku mulai melihat diriku sendiri dengan cara yang lebih jujur - meski agak pahit ya shayy, wkwk. Ku akui dalam hidup ternyata bahwa aku sangat penakut. Rasa takutku itu membuatku menjelma menjadi orang yang sangat terorganisir. Aku melakukan audit terhadap setiap jengkal aspal yang akan kupijak.
Actually, tidak semua aspal ku audit sih. Tapi aspal pada jalan-jalan yang menuntunku pada keputusan besar. Aku akan duduk berjam-jam bahkan hari dan mungkin bulan, untuk membedah semua kemungkinan terburuk, lalu membangun barikade di sekelilingnya. Aku memastikan bahwa jika hari buruk itu datang, aku sudah punya protokol penyelamatan di kantong kiri dan kanan saku celanaku.
Aku tidak mau hidup kesusahan. Titik
Bagiku kesulitan, penderitaan, dan kegagalan adalah sebuah variabel yang harus, dan bisa, dieliminasi dengan persiapan yang matang. Aku ingin jalanku mulus, aku ingin segalanya bisa diprediksi. Itulah mengapa jalanku lambat, dan mungkin terlalu lambat dibandingkan orang-orang disekitarku yang berlari dengan nafas tersengal dan luka di lutut, dan aku dengan sadar memilih untuk itu.