Seperti apakah sebenarnya perasaan itu? Apakah sesuatu yang mengalir dalam darah dan melewati bilik-bilik jantung, ataukah sesuatu yang mengendap di dasar hati —liver?
Sebenarnya di mana perasaan manusia itu ada? Apakah ada di ruang-ruang tak kasat mata yang kehadirannya tak bisa diakal?
Biyung, di mana asalnya perasaan-perasaan manusia itu? Apakah secara batiniah hadir saat jiwa ini ditiupkan ke dalam raga atau secara lahiriah sudah ada sejak aku hadir ke dunia ini?
Romo, apa perasaan manusia itu dapat terhitung besaranya? Apa perasaan manusia itu akan terbawa seumur hidup sampai mati atau akan tetap terbawa pada jiwa yang telah kehilangan jasadnya? Apa perasaan itu adalah sesuatu yang kekal abadi atau sesuatu yang bersifat fana?
Pikiran ku kacau balau memikirkan semua itu, Biyung, Romo.
Hyang, hanya Kau yang tahu apa-apa jawab dari tanyaku dan tahu bagaiman perasaan itu berasal dan bermuara. Akan tetapi, apa memang benar hadirnya perasaan di dalam diri manusia memberikan rasa siksa?
Sesungguhnya kini aku merasakan perasaan asing yang pada dasarnya tak bisa aku ilhami atau dinalar oleh akal budi. Perasaan yang tertumpuk yang asal dan berada di mana tak aku pahami, sebetulnya teramat membuat diri ini merana, bahagia, sekaligus ragu dan kebingungan.
Hyang, apa sebab perasaan itu hadir? Apa perasaan itu bisa dienyahkan agar tak menggerogoti jiwa yang serasa rapuh?
Biyung, Romo, apakan perasaan ini sudah benar ada dan sebabnya untuk anakmu ini?
.
.
Nubuat. Tumpak Cemengan, 02 Juli 2022













