Bahasa Jawanya Bicara

seen from Netherlands
seen from Germany
seen from Germany

seen from Germany
seen from Netherlands

seen from United States

seen from Canada
seen from Chile
seen from China

seen from United States
seen from Russia
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Israel
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Kuwait
Bahasa Jawanya Bicara

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kata Mereka, “Ijazahmu Buat Apa?”
Sumber gambar: AI chatgpt.com
Menapaki balik perjalanan kehidupan pasca mendapat gelar sarjana dan memasuki kehidupan sebagai seorang ibu yang memutuskan resign karena kehamilan, dulu kalimat ini sering memantik gelisah dalam hati. Seakan jika hidup tak bersanding dengan jabatan yang menarik, hutang itu akan dibawa mati. Ya, kalimat itu berbunyi, “kalau jadi ibu rumah tangga saja, ijazahmu buat apa?”
Ungkapan yang sudah jadi basa-basi umum itu pernah memberiku luka, serta pengaruh yang bikin aku juga mempertanyakan diri “ngapain ya, dulu sekolah tinggi kalau ujung-ujungnya di rumah saja?” Seakan perempuan yang sudah mengenyam pendidikan tinggi dan hanya berstatuskan “ibu rumah tangga” pada kartu identitasnya ini sudah melakukan kesalahan. Salah, karena sudah meraih gelar sarjana tapi kini tidak lagi bekerja di perusahaan manapun. Tidak menyanding jabatan apapun.
Menjalani Peran Tanpa Arah
Jika boleh bicara rasa saat itu, sebagai perempuan aku sempat kehilangan makna waktu menjalani peran, sebab merasa kalau menjadi ibu adalah peran yang membuatku harus memilih antara berkarir atau fokus di rumah saja. Hati terasa semakin berat karena sibuk membandingkan.
“Kenapa aku enggak bisa seperti dia, ya?”
Alih-alih melihat hal yang masih bisa disyukuri, aku malah sibuk menyesali diri. Mencari-cari apa yang bisa disalahkan demi sebuah validasi. Menumbuhkan keyakinan kalau aku hanya korban keadaan, dan hidup dengan angan-angan kalau seharusnya aku bisa menjadi ibu yang tetap bekerja.
Ambisi untuk bisa “membayar harga ijazah” pun tumbuh. Aku berusaha mencari pekerjaan dalam kondisi berbadan dua. Tapi perusahaan mana yang mau menerima pekerja baru, dan belum lama masuk akan minta cuti melahirkan?
Aku kalah dimakan ekspektasi. Tenggelam jauh dalam lautan pikiran yang membuatku merasa tidak berharga.
Aku merasa jadi perempuan berpendidikan yang gagal.
Mencari Makna dalam Gelapnya Perasaan
Tak ingin terus tenggelam dalam gelapnya perasaan, aku mencoba mencari cara untuk bisa menemukan harapan. Berdiskusi dengan diri sendiri, apakah benar standar keberhasilan ijazah adalah jabatan? Ataukah ia harus berupa cuan? Apakah salah kalau ibu yang cerdas, memutuskan untuk di rumah saja, untuk fokus mengasah keahlian dan mengasuh generasi harapan?
Aku mempertanyakan kembali makna secarik kertas yang dihasilkan mati-matian dengan perjuanganku dan orang tua. Butuh waktu untukku sendiri, memaknai ulang pendidikan tinggi bagi seorang perempuan, khususnya yang telah menjadi ibu.
Tak hanya itu, aku juga berusaha menyadari bahwa kondisi hidup memang tak selalu sesuai dengan harapan, entah itu harapan dari diri sendiri maupun orang lain. Aku bahkan berusaha jujur pada diri, sebenarnya yang bicara kalau seorang perempuan harus bekerja setelah mendapatkan gelar tinggi itu, aku atau ekspektasi orang lain?
Titik Balik Bertemu dengan Arah yang Baru
Berita baiknya, pengalaman ini justru membuka pikiranku tentang makna pendidikan yang lebih luas. Bukan sekadar jabatan, pendidikan seharusnya bertujuan mencetak generasi yang penuh harapan, punya kemandirian, dan berpegang pada nilai serta moral untuk menjalani keseharian. Dan ibu yang berpendidikan juga punya peran penting untuk hadir dalam pengasuhan, memastikan ia mewariskan ilmu yang dimilikinya untuk mencetak generasi peradaban.
Di sini aku mulai menemukan arah baru, bahwa ibu dengan pendidikan tinggi akan selalu memiliki semangat untuk senantiasa belajar. Semangat belajar yang tinggi tidak selalu dimiliki semua ibu, dan pendidikan tinggi punya peran dalam menanamkannya. Aku tidak lagi menyesal dan merasa gagal, justru semangat untuk belajar hal baru dan mengembangkan keahlian diri. Belajar menulis jadi pilihanku setelah menjadi ibu.
Masih berbicara tentang semangat, dari tulisan ini aku juga mau menyampaikan bahwa semangat itu menular. Keinginan ibu untuk selalu belajar, akan turut melindungi generasi suatu bangsa dari kebodohan. Kenapa? Sebab anaknya melihat bara api pembelajar dari sorot mata ibunya sendiri.
___
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Perempuan Bicara Rasa” sebagai bagian dari Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026
Selanjutnya
Meneruskan cerita tentang pengalaman kami tentang kesehatan mental anak mbarep.
Pertemuan pertama aku melakukan kesalahan dengan menaruh kepercayaan pada bapaknya. Suamiku itu tidak punya hobi membaca. Ia pandai tapi ia tidak bisa merangkai peristiwa dan tindakan lanjut yang sesuai dengan peristiwa itu.
Karena saat itu aku harus menjaga adik-adiknya maka kupikir kakak aman bersama bapaknya menghadap ke dokter. Mereka pulang dengan membawa jawaban yang tidak memuaskanku. Benar, kata kakak bapaknya tidak bicara apa-apa. Aku menyesal, pengalaman pertama membicarakan hal sensitif dengan dokter malah bertambah buruk tanpa kehadiranku.
Tanda mula-mula
Butuh keberanian menulis hal ini. Meski belum terbuka sekali aku merasa harus menuliskannya di sebuah tempat. Seperti biasa, agar tidak berlalu bersama angin.
Anak sulungku, yang kepadanya aku berhutang banyak mengenai pelajaran kehidupan, ternyata menyimpan kepedihan di dalam dirinya selama bertahun-tahun. Baiknya kuceritakan saja sebenar-benarnya.
Pernah waktu kelas 4 SD wali kelasnya melapor kepada kami saat penerimaan raport. "Anak Bapak dan ibu sering tertawa sendiri". Saat itu kami menerimanya sambil lalu. Begitupun dengan masalah telinga yang Ia keluhkan saat kelas 4 itu. Yang nantinya ternyata masalah telinga ini berujung pada pendengarannya yang hilang seluruhnya. Karena kami abai, melupakan bahwa Ia juga ada.
Jika Negeri Mengabaikan Wahyu, Maka Alam pun Bicara
 SURAU.CO – Ketahuilah, suatu negeri tidak akan pernah benar-benar aman bila ayat-ayat Allah dibiarkan berdebu dan hukum-Nya hanya dijadikan hiasan pidato, bukan pedoman hidup. Allah tidak membutuhkan siapa pun. Kitalah yang butuh perlindungan-Nya. Dan ketika manusia meninggalkan wahyu, maka perlindungan itu pun dicabut. Ketika Syariat Ditinggalkan Allah telah memperingatkan dengan bahasa yang…

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Belajar Kapan Harus Bicara, Kapan Diam: Skill yang Hilang di Era Noisy
Surau.co. Kita hidup di zaman yang sangat bising—bukan karena suara kendaraan atau pasar, tetapi karena kebisingan pendapat. Setiap orang merasa perlu berbicara, menanggapi, dan menunjukkan eksistensinya. Di media sosial, keheningan sering disalahartikan sebagai ketidaktahuan, sedangkan suara keras dianggap tanda kecerdasan. Padahal, di balik setiap kebijaksanaan sejati, selalu ada kemampuan…
Kilas Kriminal: Ketika Tulang-Tulang Bicara di Tengah Kota
 SURAU.CO – Suatu sore yang tampak biasa di Jakarta, menjadi saksi bisu sebuah temuan yang mengguncang hati banyak orang. Di balik hiruk pikuk kota, di antara deru kendaraan dan rutinitas warga, ditemukan kerangka manusia di galian saluran air. Sebuah berita yang singkat, namun menyimpan kisah panjang di balik sunyi. Tayangan “Kilas Kriminal” di Kompas TV menampilkannya sekilas, tetapi…
Soft Spoken: Seni Berbicara dan Relevansinya dengan Al Quran
SURAU.CO. Soft spoken merupakan kata-kata yang familiar pada zaman sekarang.  Pada platform sosial media istilah soft spoken sering digunakan Gen Z   untuk seseorang yang berkata lemah lembut, berbicara pelan dan menyenangkan dalam berkomunikasi. Lalu, apa itu soft spoken? Apakah tipe orang soft spoken selalu menyenangkan, atau ada tipe orang yang soft spoken tapi manipulatif? Kamus…