Bekal Seumur Hidup
Beberapa minggu yang lalu, salah satu wali murid ingin bertemu denganku, menceritakan bahwa anaknya tidak kuat untuk mengikuti pelajaran karena merasa keberatan, juga kemampuannya lebih menonjol di non-akademik. Sampai akhirnya ia merasa minder dengan teman-teman yang lain.
Setiap hari menangis karena minta pindah. Juga merasa kehilangan karena aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak kerja. Kondisi psikologis anak umur belasan memang butuh teman bicara sekaligus diarahkan.
Muridku ini memang bakat dan minatnya di bidang seni dan literasi. Namun di sekolah yang berbasis pesantren ini, skill tersebut minim wadah dan memang pressure-nya di pelajaran agama.
Padahal kuamati selama menjadi guru kelasnya, kemampuannya juga baik. Nggak yang perfect banget, juga nggak kurang. Ya standar lah. Menurutku dia juga murid yang rajin.
Sebenarnya aku juga pernah merasakan hal yang sama ketika sekolah di pesantren dulu. Aku benar-benar capek, sering menangis, dan struggling mengikuti materi di pesantren. Aku dulu merasa tertinggal jauh dari teman-temanku. Ibarat mereka sudah berlari, aku masih merangkak dan tertatih. Jam tidurku sedikit karena harus mengejar ketertinggalanku, waktu sarapan dan istirahat sering aku skip. Ya ampuuun betapa ambisiusnya aku dulu hahaha. Jadi yaaa aku berusaha memahami posisi dia lah :')
Btw, aku merenung, apa yang kurasakan sampai hari ini setelah perjuangan kemarin semasa di pesantren? Ilmu itu masih ada. Bekal ilmu itu masih menancap dan terpakai sampai hari ini. Apa yang sudah pernah didapat, berusaha sebisa mungkin kujadikan pedoman hidup selama aku hidup di lingkungan pasca pesantren.
Nilai akademis tidak begitu penting dibandingkan ilmu yang bermanfaat. Hidup di pesantren yang melelahkan bisa berbuah manis ketika kita mau mengamalkan apa yang udah didapat. Meski tidak mudah rasanya untuk istiqomah, justru disitulah perjuangan sesungguhnya; bertahan, mencari teman yang baik, lingkungan yang baik, kontrol diri yang kuat.
"Nikmati aja masa lelahmu di pesantren. Nangis juga gak masalah kalau memang cape atau jenuh. Jadikan kesempatan itu untuk mencari bekal seumur hidup. Nggak semua orang punya kesempatan belajar di pesantren, lho. Nanti kalo kamu hidup di luar, permasalahan akan begitu kompleks. Ilmu agama-lah yang akan menuntunmu; bagaimana caramu mengambil keputusan; memilah-milah mana yang baik dan tidak; mengarahkan kemana kamu harus kembali."
Uminya juga menambahkan dengan santai sembari tertawa, "Kamu tau kan, umi belajar bahasa Arab aja lama pahamnya. Sering kamu protesin malah".
Saat itu wajahnya kembali tenang, meski masih sesenggukan.
Baru saja kemarin, wali muridku ini berterimakasih padaku dan memberi tahu, bahwa anaknya bersedia melanjutkan sekolah di pesantren. Setelah bertemu dengan teman-teman yang lain, ia jadi tambah semangat.
Alhamdulillah.. begitu mahalnya kesempatan untuk belajar ilmu agama. Orang yang pernah belajar di pesantren pun belum tentu lebih baik dari yang masih belajar agama ketika di umur dewasa.
Semoga Allah karuniakan kita hati yang tawadhu', tidak sombong, tak kenal lelah untuk terus belajar, dan selalu terbuka untuk menjadi lifelong learner.
Sidoarjo, 31 Mei 2021 | Pena Imaji














