Takaran yang Paling Pas
Ada yang lahir dengan sendok perak Ada yang berjuang bahkan untuk sesuap beras Ada yang duduk manis diwarisi luas tanah Ada pula yang menggenggam doa sambil menahan resah
Kita iri pada mereka yang mudah mendapat pasangan Pada mereka yang harta datang tanpa tuntutan Pada mereka yang langkahnya ringan tanpa pertimbangan seolah tak ada harga yang harus dibayar untuk keputusan
Kita lihat senyum mereka di linimasa sosial media Lupa bahwa seringkali hidup adalah ilusi lensa Kita bandingkan takdir kita dengan naskah mereka Padahal Allah menulis setiap takdir dengan cinta
“Ya Allah, kenapa aku?” begitu kita bertanya Padahal rahmat-Nya tak pernah kurang sekejap saja Kita menuntut jalan lapang tanpa duri Padahal surga bukan dibeli dengan iri
Rasa kurang memang sering datang diam-diam Menyelinap saat kita lupa menghitung nikmat yang dalam Padahal jika sabar adalah wadah Maka rezeki akan tiba dengan takaran yang paling pas
Mari belajar bersyukur meski belum cukup Mari belajar menerima meski belum utuh Karena tidak ada yang Allah beri tanpa maksud Semuanya titipan, dan akan kembali dalam wujud yang luruh
Semoga Allah lapangkan hati kita seluas langit agar iri tak menjadi penyakit yang sulit Semoga kita kuat menjadi hamba yang ikhlas yang percaya: apa yang ditetapkan-Nya, itulah yang paling pantas












